
Bukan hadir, hanya saja Bu Sri menelpon Ervita yang ada di Jogja bahwa di Solo Firhan telah menikah hari ini. Hanya sebatas memberitahukan saja, dan juga memberi kabar. Juga, sudah tidak ada apa-apa di dalam hati Bu Sri karena dia sangat tahu bagaimana yang terbaik untuk Ervita, tetap hanya Pandu seorang.
"Halo, Ervi ... baru ngapain?" tanya Bu Sri melalui panggilan telepon malam itu.
Ya, ketika Bu Sri menghubungi Ervita memang sudah malam. Lebih di atas jam 20.00, itu juga karena Bu Sri menyelesaikan pekerjaannya dulu dan membantu di rumah keluarga Firhan untuk rewangan.
"Ya, halo Bu ... ini Ervi baru nyantai sama Mas Pandu," balasnya.
Sementara untuk Ervita sendiri, jika sudah jam 20.00, adalah waktunya untuk nyantai dengan Pandu. Sebab, Indi sudah tertidur. Waktu setelah Indi tidur hingga mereka menjelang tidur biasanya dimanfaatkan Ervita untuk mengobrol atau quality time dengan Pandu.
"Oh, berarti ini baru sama Mas Pandu yah?" tanya Bu Sri lagi.
"Iya, ini Mas Pandu di sampingnya Ervi," jawab Ervita kemudian.
"Begini ... Ibu cuma mau ngasih kabar, di Solo ... Firhan sudah menikah, Vi. Hari ini, akhirnya dia ta'aruf dengan seorang gadis namanya Wati," cerita Bu Sri kepada anaknya.
Di sana Ervita dan Pandu yang mendengarkannya, merespons dengan menganggukkan kepalanya. Kala itu telepon dengan Bu Sri memang sengaja di loud speaker, supaya Pandu juga bisa mendengarkannya. Sengaja Ervita melakukannya, supaya Pandu juga tidak curiga akan siapa yang menelponnya.
"Acaranya cuma di rumah kok, Vi ... sebatas ijab qoubul. Rewangan biasa di rumah, tidak besar-besaran," balas Bu Sri.
"Ya, tidak apa-apa Bu ... kan dalam pernikahan itu yang penting adalah akad," respons dari Ervita.
Ya, bagi Ervita sesungguhnya esensi utama dari sebuah pernikahan adalah akad, mengucapkan ijab dan qoubul. Pesta dan lainnya adalah ceremoni belaka. Namun, tanpa pesta pernikahan bisa tetap berlangsung, asalkan tidak kehilangan pengucapan akad saja.
"Iya, benar ... katanya tadi yang penting sah," balas Bu Sri.
__ADS_1
"Iya Bu ... yang penting sudah menikah dan sah. Bagaimana pun Ervi dan Mas Pandu akan mendoakan yang terbaik. Semoga jodoh dunia dan akhirat," balas Ervita.
Bu Sri yang mendengarkan ucapan Ervita tampak menganggukkan kepalanya dan juga merasa bahwa putrinya itu adalah orang yang lapang.Tidak lagi mengungkit masa lalu, walau salah Firhan begitu besar dan banyak padanya. Namun, Ervita justru memberikan doa terbaiknya.
"Amin. Ibu juga tadi bilang semoga pernikahannya sakinah, mawaddah, dan wa'rahmah. Tetap berikan doa yang terbaik. Sekalipun dia sudah menyakiti, tetapi manusia sebisa mungkin jangan menyakiti balik. Toh, Firhan juga kasihan sebelumnya gagal menikah dan kecelakaan yang dia alami. Wati sih tidak apa-apa kok dengan kondisi kaki Firhan yang ketika berjalan sedikit tidak sempurna," cerita Bu Sri.
"Oh, ya syukurlah Bu ... semoga menjadi pendamping yang terbaik. Saling mengisi satu sama lain," balas Ervita.
"Seperti kamu ya, Vi ... Ibu sadar bahwa kamu tidak sempurna. Pun, saat Pandu meminangmu, kami tidak sempurna. Akan tetapi, Pandu bisa menerima kamu apa adanya, bisa mengisi kamu, dan bahkan sekarang Pandu menutup aibmu. Sebab, pastilah orang akan mendengar bahwa Indi adalah anaknya Pandu," ucap Bu Sri dengan dada yang sesak.
Mungkin kondisi Ervita dan Firhan itu sama. Hanya saja Firhan lebih diperhadapkan dengan karakter yang tidak baik, kesalahan di masa lalu yang tidak diakui, dan juga pembatalan pernikahan dengan Tiana dulu. Sementara Ervita di posisi dia memiliki anak di luar pernikahan yang tentu saja adalah aib. Akan tetapi, Pandu justru menutup aibnya, dan menerima Indira sebagai anaknya. Bagi Bu Sri apa yang sudah dilakukan Pandu, sungguh sangat baik.
"Benar Bu ... Ervi memang tidak sempurna. Namun, Mas Pandu yang menyempurnakan Ervi. Menutupi kurangnya Ervita, dengan segala kelebihan yang dimiliki Mas Pandu."
Merasa namanya disebut, rupanya Pandu pun berbicara kepada ibu mertuanya juga. "Halo, Ibu ... ini Pandu. Terima kasih banyak juga ya Bu, sudah mengizinkan Pandu untuk meminang Ervi. Sekarang Pandu akan sungguh-sungguh menjaga Ervita, Indi, dan bayinya nanti. Semoga Ibu, Bapak, dan keluarga di Solo sehat nggih," balasnya.
"Amin ... amin Mas Pandu. Semoga Mas Pandu juga sehat, bagas waras, dan juga selalu sayang ke istri dan anak yah," balas Bu Sri.
"Nggih Bu ... matur nuwun (terima kasih - dalam bahasa Indonesia)."
Begitu panggilan telepon telah usai, kemudian Ervita menatap suaminya itu dan menaruh handphonenya.
"Sudah dengar semuanya kan Mas?" tanyanya.
"Hmm, iya ... ya benar, doakan yang terbaik, Nda ... jangan menyimpan dendam. Semarah apa pun, sebenci apa pun, kalau sudah ya sudah, jangan mendendam, nanti justru akan menjadi akar yang pahit yang membuat kita rugi sendiri," balas Pandu.
__ADS_1
Ervita tampak menganggukkan kepalanya. "Iya Mas ... aku tidak mendendam kok. Justru ikut senang karena dia dapat jodoh yang mau menerima kurangnya dia. Sama seperti aku yang banyak mengalami kepahitan dalam hidup, akhirnya aku dipertemukan Tuhan dengan orang seperti kamu," balas Ervita.
Pandu tersenyum, dia itu mengusap-usapi rambut dan puncak kepala Ervita di sana, dan kemudian berbicara, "Aku cuma orang biasa juga, Nda ... tidak sempurna dan banyak salah. Aku justru yang bersyukur banget memiliki kamu."
"Buatku, kamu luar biasa, Mas ... makasih yah," balasnya.
Pandu pun tersenyum, "Aku juga tidak sempurna, Nda. Bahkan spekulasi orang-orang di luar sana terhadapku juga buruk. Aku dikira, pria tidak normal dan aneh-aneh. Padahal niatku untuk ingin menjaga wanita yang saat itu ada bersamaku dan menjaga diriku biar tidak aneh-aneh. Cuma, sama kamu ya aku siap aneh-aneh setiap hari," balas Pandu dengan tertawa kali ini.
"Ya, boleh saja ... kan aku sudah bilang bahwa boleh aneh-aneh, penting cuma sama aku," jawab Ervita.
"Iya, pasti, Nda ... kalau sama kamu, ya aku siap aneh-aneh, sisi tersembunyi dalam hidupku, semua kamu tahu, Nda. Tidak ada yang aku tutup-tutupi," balas Pandu.
Ervita pun beringsut dan memeluk suaminya itu, "Mas, aku cinta kamu," ucapnya.
Senyuman di wajah Pandu terlihat begitu nyata, "Sama Dindaku ... aku juga cinta banget sama kamu. Besok, jalan-jalan yuk ... musimnya liburan akhir tahun, ajak Indi liburan di dalam kota saja," balasnya.
"Iya, boleh ... siap Mas Kandaku," balas Ervita.
"Jangan godain, Nda ... bahaya."
"Kan aku tidak menggoda, aku memanggil kamu saja. Emang gak boleh?" tanya Ervita.
Pandu menggelengkan kepalanya perlahan, "Jangan, panggil itu saat kamu ada di bawahku saja. Cantiknya Nda ... luar biasa," balas Pandu tiba-tiba.
Ervita pun mengurai pelukannya dan memanyunkan bibirnya. Bisa-bisanya suaminya itu berbicara demikian. Namun, memang itulah kehidupan suami istri, ada beberapa sisi yang sengaja hanya ditunjukkan kepada pasangannya. Pembawaan di luar, nyatanya bisa berbanding terbalik ketika sudah bersama dengan sang istri, orang yang akan mengenalnya luar dalam, dan menerimanya dengan seluruh kurang dan lebihnya.
__ADS_1