
Atas permintaan keluarga Hadinata, sekarang orang tua Ervita dari Solo untuk menginap dan esok Pandu dan juga Ervita bisa mengantarkan ke Solo. Lagipula, tidak ada salahnya keluarga besan menginap di rumah besannya. Itu juga yang diminta keluarga Hadinata.
"Nyipeng mriki mawon, Bu," ucap Bu Tari kepada besannya. Dalam bahasa Indonesia, Bu Tari mempersilakan keluarga dari Solo untuk menginap di rumahnya saja.
Sebenarnya Bapak Agus dan Bu Sri pun merasa begitu sungkan. Tidak pernah sebelumnya untuk menginap di rumah besan. Akan tetapi, sekarang hari juga sudah malam. Sehingga kereta api dari Jogjakarta menuju ke Solo juga sudah tidak ada. Baru akan beroperasi lagi esok hari.
“Sebenarnya sungkan loh kami, Bu … tidak pernah sebelumnya,” balas Bu Sri.
“Tidak apa-apa, Bu … kan sekarang sudah satu keluarga. Nanti lain waktu kami yang menginap di Solo,” balas Pak Hadinata.
"Kami kedua orang tuanya Ervi mengucapkan terima kasih karena Ervi sudah sangat diterima dengan baik di sini, disayangi. Sebagai orang tua itu rasanya ayem dan adem," ucap Pak Agus yang mengucapkan terima kasihnya.
"Sama-sama, Pak ... jelas kami sayang Ervi. Bagi kami, Ervi itu bukan menantu, tapi anak perempuan kami sendiri. Sama seperti Pertiwi," balas Pak Hadinata.
Sangat bersyukur jika seorang menantu, justru dianggap dan diperlakukan layaknya seperti anak perempuan sendiri di keluarga mertuanya. Disayangi dan juga dihargai. Tentu orang kandung pun merasa begitu senang ketika anaknya, disayangi dan dihargai.
"Ketika sekarang jarang sekali keluarga mertua akan menyayangi menantunya. Ervi mendapatkan kasih sayang dan diperlakukan dengan baik oleh keluarga mertuanya," balas Pak Agus.
Akhirnya malam itu dihabiskan kedua besan untuk saling bercerita. Sembari menikmati kopi dan juga singkong goreng atau dalam bahasa Jawa disebut blanggreng. Ada rasa kekeluargaan yang dijalin oleh kedua keluarga.
Sementara Ervita dan Pandu malam ini juga menginap di kediaman keluarganya. Itu juga karena kedua orang tua Ervita, menginap di sini. Rasanya jika meninggalkan pulang ke rumah sendiri, rasanya juga sungkan. Oleh sebab itulah, Ervita dan Pandu pun memutuskan untuk menginap juga di rumah orang tua Pandu.
__ADS_1
"Menginap lagi di kamar mantan jejaka ya, Nda," ucap Pandu begitu mengajak Ervita untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Iya Mas ... kamarnya calon Ayah," balas Ervita.
Pandu pun tersenyum. "Kan sudah jadi Ayah ... sejak menikahi kamu kan sudah menjadi Yayah. Ini kan menjadi Ayah lagi," balas Pandu.
"Ya, kan tidak dipungkiri, si baby ini anak pertama bagimu, Mas," balas Ervita.
"Putri pertamaku tetap Indi, Nda ... aku sekarang juga excited, semua yang pertama untukku. Akan tetapi, aku selalu sayang Indi," balas Pandu.
Sebenarnya tanpa Pandu berbicara pun, Ervita sudah sangat tahu bahwa suaminya itu memang menyayangi Indi. Bukankah kasih sayang yang tulus dari hati juga bisa menyentuh hati? Itulah yang Ervita rasakan sekarang.
"Rebahan boleh Mas? Pinggangku agak sakit, capek," ucap Ervita yang memegangi pinggangnya, terasa sedikit pegal di sana. Itu wajar karena sepanjang hari ini, dia minim rebahan.
Sang suami pun membantu Ervita untuk menaiki ranjang. Sementara Pandu tersenyum ketika melihat Ervita tampak nyaman rebahan di ranjang yang empuk. Pria itu kemudian turut menemani Ervita untuk rebahan di ranjangnya.
"Capek yah?" tanyanya.
"Iya, bagian pinggang," balas Ervita.
"Mau aku gosok dengan minyak kayu putih lagi enggak?" tanya Pandu.
__ADS_1
Terkadang memang jika Ervita mengeluh pinggangnya kencang dan capek, Pandu akan mengoleskan minyak kayu putih ke area pinggangnya. Hanya sedikit saja, karena sedikit rasa hangat dari minyak kayu putih bisa meredakan capek di bagian pinggang. Tidak dipijat, karena memang ibu hamil tidak boleh sembarangan dipijat.
"Enggak usah deh Mas ... kayaknya nanti juga bakalan reda sendiri kok," balas Ervita.
Mungkin dengan sedikit istirahat dan juga pinggangnya menyentuh bagian ranjang yang lembut dan empuk, bisa meredakan capeknya. Toh, Ervita merasa dirinya hanya kurang beristirahat saja. Sepanjang hari juga kebanyakan duduk dan menerima tamu yang datang.
"Kalau bayinya kita tidak tahu jenis kelaminnya gini, terus belanjanya barang-barang untuk bayi bagaimana Mas?" tanya Ervita kemudian.
Dia setidaknya ingat bahwa ketika sudah memasuki usia tujuh bulan, seorang ibu hamil barulah diperbolehkan untuk membeli berbagai perlengkapan untuk bayinya. Sekarang, dia juga belum tahu jenis kelamin bayinya, sehingga perlu mengobrol dengan suaminya terlebih dahulu.
"Beli warna-warna yang netral aja, Nda," balas Pandu.
"Berarti bukan yang dominan biru atau pink ya Mas," balas Ervita.
Dengan cepat Pandu menganggukkan kepalanya. "Benar, gitu. Warna putih, hijau, atau kuning. Mau beli sedikit warna biru atau pink juga boleh, tapi gak usah banyak-banyak," balas Pandu.
"Punyanya Indi dulu juga bisa dipakai, Mas," balasnya.
"Boleh juga. Kamu masih menyimpannya?" tanya Pandu kemudian.
"Iya, aku masih menyimpan semuanya kok ... nanti dicuci lagi biar bisa dipakai oleh adiknya," balas Ervita.
__ADS_1
Mungkin Ervita dan Pandu harus menyempatkan waktu khusus untuk berbelanja bersama. Membeli berbagai baju untuk bayi, dan perlengkapan lainnya. Rasanya, dua bulan lagi sudah membuatnya tidak sabar.