Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Orang yang Baik Kepada Semua Orang


__ADS_3

Sementara itu di Kota Solo ...


Dalam dua tahun ini, Firhan sendiri sudah selesai menyelesaikan kuliahnya. Pria itu juga mulai bekerja di bank swasta yang ada di Solo. Memang belum menjadi staf audit di bank tersebut, tetapi bisa bekerja dan mendapatkan gaji di atas UMR adalah pencapaian yang baik.


Merasa sudah beberapa bulan bekerja di Solo, Firhan pun mengutarakan niat baiknya untuk bisa bertunangan dan serius dengan Tiana. Sehingga kali ini Firhan pun berbicara kepada kedua orang tuanya perihal niatannya.


"Bapak dan Ibu, Firhan mau bicara dengan Bapak dan Ibu," ucapnya.


Sebagai orang tua Pak Supri dan Bu Yeni pun mendengarkan apa yang hendak disampaikan oleh anaknya itu.


"Ya, ada apa Han?"


"Begini Bu ... kan Firhan sudah lulus kuliah, sudah bekerja juga. Jadi, Firhan mau serius sama Tiana. Bolehkah Firhan meminta kepada Bapak dan Ibu untuk melamar Tiana untuk Firhan?”


Dengan memberanikan diri, Firhan meminta kepada kedua orang tuanya untuk melamarkan Tiana untuk Firhan. Mengingat selama dua tahun ini Firhan juga sudah pacaran dengan Tiana. Sehingga ada niat di dalam hati Firhan untuk bisa melangkah ke jenjang yang lebih serius.


“Kamu yakin Han?” tanya Bu Yeni.


“Iya Bu … Firhan yakin dan Firhan juga cinta dengan Tiana,” balasnya.


Sementara Bapaknya sendiri justru menatap tajam kepada Firhan di sana, “Lulus dan bekerja belum ada setengah tahun sudah minta menikah loh, Han … mbok ya kerja dua tahun dulu. Masih muda, kamu juga baru 24 tahun. Ngapain buru-buru menikah? Anak laki-laki itu nikah usia 30 tahun juga tidak apa-apa,” balas Pak Supri kepada anaknya.


Ada keengganan di dalam hati Pak Supri, sehingga Pak Supri menyarankan supaya Firhan bisa bekerja dulu. Lagipula, anak laki-laki menikah di usia menjelang 30 tahun juga tidak apa-apa.


"Apa kamu menghamili Tiana lagi?" tanya Pak Supri kemudian kepada anaknya itu.


Dengan cepat Firhan menggelengkan kepalanya, "Enggak ... demi Allah, Firhan enggak menghamili Tiana kok Pak. Hanya saja, kali ini Firhan benar-benar mau serius," balasnya.


"Jadikan yang sudah-sudah sebagai pembelajaran, Han ... masak kamu juga mau hidup seenaknya saja. Jangan merusak bunga milik orang tuanya. Sebab, orang tua Tiana pun kecewa kalau anaknya kamu hamili. Jadikan pembelajaran kayak kasusnya Ervita dulu," ucap Bu Yeni sekarang ini.


Mendengar nama Ervita disebut, rupanya Pak Supri merasa marah kepada istrinya itu, "Jangan bawa-bawa nama dia lagi tow Bu ... dia yang membuat Firhan nyaris jadi suami di usia belia. Bikin keluarga kita malu," balasnya.


"Bukan begitu Pak ... Firhan juga sudah dewasa, dia tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Setidaknya, dia bisa belajar dari kesalahannya. Bapak itu yang bikin Firhan jadi pria tidak bertanggung jawab seperti ini. Bagaimana kalau dulu benar-benar hamil anak Firhan? Berarti anaknya juga adalah cucu kita, Pak," balas Bu Yeni.


Seolah Bu Yeni ingin mengingatkan kepada suaminya itu. Walau Firhan tidak menikahi Ervita, tetapi anak yang kini sudah dilahirkan Ervita pun berarti adalah cucunya juga, darah daging Firhan. Beberapa kali justru Bu Yeni dan Pak Supri terlibat adu mulut.


"Ervita sudah sukses sekarang Bu," ucap Firhan kemudian.


Setelah dua tahun berlalu barulah Firhan berani mengatakan bahwa Ervita sudah sukses sekarang. Mendengar ucapan Firhan, Bu Yeni dan Pak Supri seketika diam.

__ADS_1


"Maksud kamu apa?" tanya Pak Supri.


"Iya, dulu ... waktu Firhan KKN di Jogja, Firhan ketemu kok sama Ervita dan dia sudah sukses sekarang menjadi pemilik usaha batik yang bisnisnya sampai ke Malaysia dan Suriname juga. Sudah enak hidupnya sekarang," balas Firhan.


"Alhamdulillah ... berarti Tuhan tidak tidur. Anak yang diusir dari rumah, diusir orang tuanya sendiri karena membawa aib akhirnya sukses," balas Bu Yeni.


Sementara di sana Pak Supri justru berdecih, "Ckck, iya kalau jadi pengusaha, gimana kalau jadi simpanan pengusaha batik saja? Wanita yang murahan dan mudah sentuh, palingan juga hanya menempel layaknya benalu pada orang yang dia rasa bisa menghidupinya," balas Pak Supri.


Bu Yeni yang mendengar ucapan suaminya hanya bisa mengelus dada. Benar-benar tidak menyangka suaminya bisa menilai Ervita dengan begitu kejam. "Pak, kalau bicara dijaga Pak ... sapa tahu Gusti yang maha adil, membalikkan nasib Ervita. Dia bisa memulai usaha dan menghasilkan berkah untuknya dan anaknya," balas Bu Yeni.


"Hati-hati kalau bicara Pak ... kita juga punya anak perempuan. Jangan sampai apa yang Bapak ucapkan dengan merendahkan Ervita, suatu saat justru menimpa ke anak kita sendiri," balas Bu Yeni lagi.


"Tidak mungkin. Erma itu gadis yang cerdas dan di kuliahnya dia berhasil mendapatkan IPK tertinggi, tidak akan mungkin dia mencelakan nama orang tuanya," balas Pak Supri dengan jumawanya.


"Ervita dulu juga mendapat IPK tertinggi loh Pak ... tapi apa jadinya, Firhan juga berhasil merusaknya kan? Akhirnya gadis yang pinter itu sampai dihina dan diusir orang tuanya sendiri. Orang yang menabur itu pasti akan menuai, Pak. Hati-hati kalau berbicara," balas Bu Yeni lagi.


"Terserah Bu ... bicara sama Ibu malahan bikin Bapak emosi. Bikin bapak menjadi darah tinggi, lebih baik Bapak kerja," balas Pak Supri.


Di rumah itu, akhirnya hanya tersisa Firhan dan Ibunya. Terlihat Bu Yeni yang menatap tajam kepada Firhan, "Kenapa kamu mendadak mau serius dengan Tiana?" tanya Bu Yeni.


Memang pacaran dua tahun itu rasanya lama. Akan tetapi, usia Firhan juga masih 24 tahun. Menunda untuk menikah pun tidak masalah.


Firhan dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Enggak Bu ... mana mungkin Firhan menghamili Tiana. Kan kami juga sudah pacaran selama dua tahun, daripada kelamaan dan nanti tidak bisa nahan bagaimana Bu," balasnya.


"Kelihatannya kalau menikah tidak bisa Han ... tunangan dulu saja, mundur satu tahun," balas Bu Yeni.


"Firhan maunya menikah Bu," kekehnya kali ini kepada Ibunya.


"Ya sudah, nanti Ibu bicara sama Bapakmu dulu baik-baik. Ibu tidak bisa memutuskan sendiri, toh kan kepala keluarganya Bapakmu, jadi menunggu keputusan dari Bapakmu," balas Bu Yeni.


Firhan hanya bisa menghela nafas dan kemudian kembali masuk ke kamarnya. Niat baik untuk serius, meminta izin kepada orang tua justru membuat kedua orang tuanya adu mulut.


***


Di Jogjakarta ....


"Bannya sudah saya ganti Mas Pandu," ucap Mas Banu yang sudah selesai menyelesaikan untuk mengganti ban dalam motornya Ervita.


Pandu pun sigap untuk berdiri dan bertanya habis berapa untuk mengganti ban tersebut. "Habis berapa Mas?" tanya.

__ADS_1


"60 ribu sudah sama pasangnya Mas," jawab Banu.


Ervita pun segera mengeluarkan uang dari tasnya, hendak membayar ban dan jasa servisnya. Akan tetapi, Pandu yang terlebih dahulu mengeluarkan dompetnya.


"Ini Mas," ucapnya.


"Mas Pandu, aku saja," ucap Ervita dengan berbicara lirih.


Pandu hanya mengulas senyuman di sana, "Aku saja," balasnya.


"Ini kembaliannya Mas Pandu," balas Banu yang mengeluarkan uang kembalian dari sakunya, karena memang uang yang dikeluarkan Pandu barusan adalah seratus ribu Rupiah.


"Dibawa saja Mas ... makasih ya sudah dibantuin," balas Pandu.


"Yuh, ini kebanyakan Mas Pandu. Ban dalamnya saja hanya 30 ribu kok," balasnya.


"Udah, buat Mas Banu buat beli Es Teh. Makasih nggih Mas," balas Pandu.


Akhirnya pun Banu mengucapkan terima kasih dan berpamitan dengan Pandu dan Ervita di sana. Kemudian Ervita melirik ke pemuda yang berdiri di sampingnya itu.


"Makasih Mas ... Mas Pandu baik banget. Bukan kepadaku, tetapi ke semua orang baik banget," ucapnya.


"Ya kan selagi bisa membantu ya dibantu aja, Vi ... yuk, pulang. Mana kunci motornya biar aku yang bawa motornya, aku boncengin kamu," ucapnya.


Ervita pun menyerahkan kunci motornya kepada Pandu, "Ini Mas," ucapnya.


Pandu kemudian mulai menstarter motor itu, dan menyuruh Ervita untuk bonceng. Walau sudah beberapa kali boncengan sepeda motor bersama kenapa sekarang rasanya Ervita deg-degan rasanya. Sungkan juga diboncengin Mas Pandu.


"Sudah Vi? Enggak pegangan?" tanya Pandu kemudian.


"Eh, sudah kok Mas ... ini pegangan sadel belakang," jawabnya.


Ervita sesaat punggung Pandu yang terlihat bidang dan kokoh itu. Rasanya memang Pandu orang yang baik dan ketika menolong orang tidak pernah pilih kasih. Rasanya pria yang sekarang memboncengkannya itu penuh dengan kebaikan.


"Nanti biar aku ganti yang buat bayar ban ya Mas," ucap Ervita lagi.


"Tenang saja, Vi ... kayak sama siapa loh. Bayarannya kapan-kapan temenin ngobrol saja, Vi. Kalau senggang," balasnya.


"Iya Mas ... boleh. Di Pendopo saja kan Mas?" tanya Ervita dengan sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Iya, Di Pendopo saja," balasnya dengan menoleh ke belakang sejenak dan kemudian Pandu tersenyum tipis melihat bayangan wajah Ervita yang terlihat dari spion sepeda motornya.


__ADS_2