
“Kamu tidak marah kan Dinda?”
Itu adalah pertanyaan yang Pandu tanyakan begitu mereka sudah memasuki mobilnya. Rasanya, Pandu membutuhkan kejelasan apakah mungkin marah, sebal, dan mungkin sakit hati usai mendengar terkaan dari Lina.
“Tidak, tidak marah kok Mas … wajar orang akan menerka seperti itu,” balas Ervita.
Ada satu hal yang Ervita pahami sekarang yaitu masa lalu itu tidak bisa untuk dibuang atau dihapus. Keberadaan Indi di dalam hidupnya memang memungkinkan akan menjadi terkaan bagi orang lain. Akan tetapi, dalam setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Dalam setiap hal terpahit pun dalam hidup manusia, ada penawarnya. Yang kedua, Ervita belajar untuk lebih mempercayai Pandu dibandingkan orang lain. Mungkin bagi para istri yang lain merasa membenarkan ucapan orang lain hingga merasa bahwa yang dikatakan orang tersebut benar, sementara pengakuan dari suaminya sendiri adalah salah. Akan tetapi, tidak demikian untuk Ervita.
Mempercayai suaminya sendiri, sigaraning nyawanya sendiri adalah hal mutlak bagi Ervita. Kunci dalam membina dan mempertahankan keharmonisan suami istri adalah saling percaya.
"Jadi kamu tidak marah?" tanya Pandu sekali lagi sembari melajukan mobilnya menyusuri jalanan di kota Gudeg menjelang sore itu.
"Iya, tidak marah ... tidak apa-apa. Bahkan kalau nanti banyak orang tahu mengenai masa laluku dan asal-usul Indi, aku siap. Bagaimana pun itu adalah noda di masa laluku. Noda yang tidak akan pernah bisa dihapus. Akan tetapi, kehadiran Indi juga anugerah terindah dalam hidupku," balasnya.
Pandu lantas menghela nafas, dan kemudian dia menghentikan mobilnya perlahan, di bahu jalan dan melirik kepada Ervita.
"Apa pun yang terjadi di masa depan, aku akan menjaga kamu dan Indi. Dia anakku, Dinda ... aku sangat menyayanginya," balas Pandu dengan sungguh-sungguh.
"Aku sama sekali tidak ragu, Mas ... cuma, pasti akan ada yang menggunjingkan asal-usulnya nanti. Indi pun anak yang kuat," balas Ervita.
Tempaan sejak dalam kandungan dan bahkan tidak mengenal sosok Ayahnya, pasti membuat Indi lebih kuat. Suatu saat nanti di masa depan pastilah Indira bisa mengerti keberadaannya dan berdamai dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Aku pikir, tadi kamu bakalan marah sama aku, termasuk saat dia mengatakan aku hanya kasihan kepadamu. Jujur, aku tidak seperti itu, Nda," balas Pandu. Kali ini Pandu ingin menegaskan bahwa perasaan yang dia miliki adalah cinta, bukan kasihan.
Ervita pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, aku tahu dan aku bisa merasakannya. Kamu tidak kasihan kok kepadaku," balasnya.
"Ku harap kamu akan selalu berpikir seperti itu bahwa kamu adalah wanita yang kuat dan juga tegar. Wanita yang terisolasi, tetapi bisa menjadi diri sendiri. Wanita yang hamil seorang diri, tetapi bisa membesarkan Indi dengan sangat baik. Kamu wanita hebat, Nda," ucap Pandu.
"Aku tidak sehebat itu ... aku terisolasi dalam kesendirian. Aku rapuh, dan ada masa aku kangen Bapak dan Ibu di rumah. Homesick banget waktu itu. Namun untuk tumbuh kembang bayiku, supaya dia tidak terpengaruh dengan kondisi psikologisku," balas Ervita.
"Aku tahu, Dinda ... sangat tahu," balas Pandu.
Bukannya tidak tahu, tetapi Pandu sangat tahu bahwa Ervita menguatkan dirinya sendiri untuk tumbuh kembang janin Indira di dalam rahimnya. Sebab, dalam diam, Pandu selalu memperhatikan Ervita.
"Alih-alih mendengar ucapan orang lain, aku lebih percaya kepada kamu kok Mas ... kamu kan suami aku, sigaraning nyawaku (separuh nyawaku), masak ya aku lebih percaya dia. Sebisa mungkin aku akan selalu percaya kepadamu," balas Ervita dengan yakin dan sungguh-sungguh.
"Terima kasih Dinda ... kepercayaan darimu ini sangat berarti untukku. Aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang begitu besar darimu ini. Aku akan menjaga kamu dan Indira."
Begitu leganya hati Pandu, dia pikir tadi Ervita akan marah kepadanya, dan kemakan dengan ucapan Lina. Akan tetapi, yang Pandu takutkan tidak terjadi. Justru dia bersyukur karena Ervita menyingkapi segala yang terjadi dengan dewasa. Pandu pun belajar bahwa usia tidak menjadi tolok ukur kedewasaan seseorang. Ervita yang masih muda dan terpaut enam tahun dengannya justru bisa menyingkapi semuanya dengan baik. Ervita bisa bersikap dewasa.
"Kamu dewasa Nda ... padahal kamu masih muda, tetapi kamu tidak cemburu buta dan juga memakan semuanya bulat-bulat. Terima kasih," balas Pandu.
Kini, rasanya bisa lebih tenang dan fokus untuk mengemudikan mobilnya. Perlahan-lahan mobil itu kembali melaju, dan Pandu beberapa kali mengukir senyuman di wajahnya.
__ADS_1
"Jodoh itu, walau terlambat datang, tetapi dia adalah yang tepat ya Nda ... aku memahami itu. Kehadiranmu di hidupku membuatku menjomblo lima tahun lamanya, tetapi walau sedikit terlambat, tetapi terlihat jelas bahwa kamulah yang tepat," ucap Pandu dengan melirik Ervita yang duduk di sebelahnya.
"Pun aku yang harus merasakan pahit getirnya hidup di usia belia, tetapi akhirnya bisa mendapatkan pendamping hidup yang tepat. Ini pun seolah jodohku terlambat datang, tetapi dia begitu datang adalah sosok yang tepat," sahut Ervita.
Perlahan Pandu tersembunyi di sana, "Semoga ini jodoh terakhir dalam hidup kita ya Nda ... kaken-kaken inen-inen," balas Pandu.
"Amin," balas Ervita.
Lantas, Pandu berbicara lagi kepada istrinya, "Sama aku pengen sesuatu, Nda ... aku pengen punya buah hati denganmu. Kira-kira kapan dijawab Tuhan ya Nda?"
Untuk pertanyaan kali ini, Ervita benar-benar tidak memiliki jawabannya. Sebab, manusia hanya berusaha, dan Tuhanlah yang menentukan. Seberapa kuat usaha, jika Tuhan belum menghendaki rasanya juga tidak akan terkabul.
"Banyak berdoa ya Mas," jawab Ervita.
"Juga berusaha ya, Nda," sahut Pandu.
Perlahan pun Ervita menganggukkan kepalanya, "Lucu kamu, Mas ... aku malu tiap kali bahas usaha begitu," balasnya.
"Malu tapi nggemesin," balas Pandu.
"Lucu kalau Indi punya adik, lihat kamu hamil dalam situasi yang sepenuhnya berbeda, Dinda ... kamu tidak takut hamil kan?" tanya Pandu dengan tiba-tiba.
__ADS_1
Perlahan Ervita menggelengkan kepalanya, "Aku tidak takut hamil, aku justru takut saat pertama kali kamu menyentuhku. Aku merasa diriku ini kotor dan tidak layak. Bahkan ada yang mengataiku barang bekas," balas Ervita.
Mungkin masih ada efek traumatik dari masa lalu dulu, sehingga ketika kembali disentuh oleh pria membuat Ervita merasa begitu takut, merasa dirinya kotor, merasa dirinya hanya barang yang tidak berharga.