
Tidak dipungkiri usai bertemu dengan Suci dan Sigit, perasaan Pertiwi menjadi tidak enak. Bukan karena hubungan Suci dan Sigit. Pertiwi sepenuhnya sudah melupakan masa lalunya. Akan tetapi, dengan ucapan pedas Suci yang selalu merendahkannya.
Seakan masa persahabatan dulu yang indah, hanya sebuah hubungan yang berselimut dusta. Bahkan Suci pun bisa dengan mudahnya merebut Sigit dan juga sampai tidur berdua dengan Sigit. Sahabat yang sudah dianggap seperti saudara sendiri justru bisa-bisanya seolah menjadi pagar makan tanaman.
Lagipula sekarang bukan menjadi masalah jika seorang wanita menjadi mandiri dan juga ke mana-mana sendiri. Asalkan untuk kesetian dan hati terus berpaut kepada sang suami tercinta. Pun, dengan Pertiwi sendiri sejak tinggal di Bandar Lampung, ketika suaminya ada dinas ke luar kota, Pertiwi juga selalu mengerjakan semuanya sendiri. Hanya, kala dia melahirkan saja memang Pertiwi memilih untuk pulang ke Jogjakarta karena waktu melahirkan Lintang, Pertiwi merasa tidak berpengalaman untuk mengurus bayi.
Sementara di dalam klinik itu, Sigit juga tampak menghela nafas panjang dan kemudian menatap Suci yang masih mengapit lengannya.
"Ucapan kamu terlalu pedas, Yang," ucap Sigit.
Ya, menurut Sigit bahwa apa yang diucapkan Suci kepada Pertiwi terdengar pedas dan ada nada ejekan di ucapannya. Terlebih ketika Suci mengatakan bahwa Pertiwi tidak diantar suaminya, itu terasa begitu pedas di telinga Sigit.
"Kenapa Mas mau belain dia?" tanya Suci.
"Bukan belain, cuma kita kan orang Jawa yang memiliki sopan santun. Tidak perlu mengatakan kalau Tiwi tidak diantar suaminya juga. Toh, dulu kan kalian juga bersahabatan," balas Sigit.
Akan tetapi, Suci tampak tidak terima. Dia merasa suaminya itu hanya berusaha untuk membela Pertiwi saja. "Kenapa sih Mas? Mas Sigit masih ada hati sama mantan terindahnya Mas Sigit?" tanya Suci.
Pria itu dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak ada hati. Toh, yang aku nikahi kan kamu, bukan dia," balas Sigit.
Di sana hati Pertiwi kembali panas rasanya. "Kalau bukan karena tidur denganku pasti Mas juga memilih dia kan bukan aku?" walau hanya ucapan yang lirih karena takut terdengar orang lain, tapi terlihat jelas bahwa Suci menekan setiap ucapannya. Terdengar ada rasa tidak suka dari diri Suci kepada Pertiwi.
"Sudah lah Sayang ... toh sudah lebih dari Sewindu juga. Semuanya sudah berlalu. Semua hanya masa lalu. Nyatanya aku menikahimu dan bukan dia," balas Sigit.
Rupanya usai dari konsultasi dengan Dokter, di dalam mobil Suci masih panas hati. Dia terlihat sebal dengan suaminya dan menuduh bahwa suaminya itu hanya membela Pertiwi saja.
"Lebih dari sewindu lalu, kalau bukan karena terbawa hasrat dan kita tidur bersama, lalu aku hamil, pasti yang kamu nikahi adalah Tiwi dan bukan aku. Jangan-jangan masih ada rasa di hati kamu untuknya," balas Suci.
__ADS_1
"Sudah, Yang ... jangan bicara yang aneh-aneh dan macam-macam. Sejak pernikahan kita dan juga sejak kamu keguguran kala itu, aku tidak pernah macam-macam aku bertahan dalam pernikahan kita," balas Sigit.
Faktanya memang begitu. Suci merebut kekasih sahabatnya, bahkan tidur dengannya. Hingga akhirnya, Suci hamil kala itu. Suci meminta pertanggungan jawab Sigit, sehingga belum sampai diwisuda, keduanya sudah menikah terlebih dahulu. Sayangnya, kandungan Suci lemah dan harus mengalami keguguran. Lebih dari sewindu, sejak keguguran itu Suci pun belum dikaruniai buah hati kembali.
"Pasti Mas nyesal kan sudah menikahiku?" tanya Suci sekarang.
Sigit kemudian menghela nafas kasar dan mengusapi wajahnya untuk sesaat. Jika istrinya sudah berbicara yang bukan-bukan, rasanya Sigit menjadi begitu sebal rasanya. "Sudah, Yang ... sudah. Sekarang semuanya tidak ada hubungannya dengan Tiwi. Kita fokus ke rumah tangga kita berdua saja," balas Sigit.
Ya, alih-alih menyalahkan mantan pacar yang sekarang tidak ada sangkut pautnya dengannya, lebih baik untuk fokus ke rumah tangga sendiri. Tidak perlu berpikiran negatif dengan orang lain dan membiarkan semua berjalan sebagaimana mestinya.
***
Sementara itu ...
Malam harinya ketika Lintang dan Langit sudah tertidur, kali ini Pertiwi menghubungi Damar. Tentu karena dia ingin curhat dengan suaminya. Hanya sekadar bercerita saja dengan apa yang dia alami barusan.
Papa Damar
"Assalamualaikum, Mas," sapa Pertiwi begitu teleponnya tersambung kepada suaminya.
"Ya, waalaikumsalam, Yang ... ada apa? Baru saja, aku mau menghubungi kamu," balas Damar.
"Mau curhat kok, Mas ...."
Pertiwi pun mengatakan secara langsung bahwa dirinya ingin curhat. Sebab, selama ini juga Pertiwi selalu curhat dan bisa bercerita apa pun kepada Damar. Terlebih ketika mereka sama-sama merantau dan jauh dari keluarga, yang mereka miliki hanya satu sama lain. Sehingga, Pertiwi pun kerap curhat dengan suaminya.
"Curhat saja, kenapa nih Mamanya Lintang," jawab Damar.
__ADS_1
"Mas, aku tadi ketemu sama Suci dan Sigit," ucapnya untuk membuka ke dalam pembicaraan selanjutnya.
"Oh, ketemu di mana?"
"Di klinik waktu tadi vaksinasi untuk Langit. Tidak sengaja bertemu sih lebih tepatnya. Kamu tahu kan, Mas ... kalau hubunganku dengan Suci dulu baik dan pada akhirnya menjadi tidak baik," cerita Pertiwi.
Mengenai apa yang terjadi di masa lalu, Pertiwi juga sudah terbuka dengan Damar. Kisahnya dengan Sigit pun Damar juga sudah tahu. Sehingga, Damar bisa memaklumi dan memberikan penilaian berdasarkan kisah yang sebelumnya pernah dia dengar.
"Tahu lah, Yang. Masih tidak baik yah?" tanya Damar.
"Ya, iya Mas ... justru Suci semakin nyolot. Cuma, tadi aku bales sih. Tidak selamanya orang harus diam ketika dia diinjak-injak," balas Pertiwi.
Di sana Damar tersenyum. "Kamu tidak berubah, Yang ... kalau kamu benar, kamu tidak akan gentar. Cuma, kalau aku boleh memberikan saran sih, tidak usah ditanggapin Sayang. Suci dan suaminya sudah memiliki kehidupan rumah tangga sendiri. Begitu juga dengan kita," balas Damar.
"Iya, Mas ... cuma tadi Suci ngejek saja sih, karena aku tidak anter suamiku," jawab Pertiwi.
"Maaf ya, Yang ... aku memang belum bisa mengantar kamu. Nanti, kalau aku sudah di Jogjakarta, aku janji akan berusaha mengantar kamu. Minggu depan, barang-barang kita mulai aku kirimkan cargo ya, Yang ... mobilnya aku bawa saja dari Lampung, nanti lewat akses tol," balas Damar.
"Nyetir Jakarta ke Jogjakarta sendiri, Mas? Enggak capek itu?" tanya Pertiwi yang merasa khawatir.
"Ya, kan ada rest area. Jadi aman, Yang. Sesampainya saja, juga tidak akan terburu-buru," balas Damar.
"Baiklah, asalkan Mas Damar hati-hati yah. Namun, cara kamu menanggapi masalah dan juga memberi saran mirip sama Bapak dan Pandu sih, Mas," balas Pertiwi.
Di sana Damar pun tertawa. "Ya, kan aku menantunya Bapak dan Mas Iparnya Pandu, lama-lama ya seperti Pandu dan Bapak. Kata Bapak dulu kan fokus ke payung kita sendiri-sendiri. Tidak usah melihat payung orang lain, dan jangan membiarkan payung kita sendiri terbalik," balas Damar.
"Iya Mas ... setidaknya bisa cerita sih, sudah lega. Sudah bisa curhat walau ya jarak jauh," balas Pertiwi.
__ADS_1
"Pasti Sayang ... beberapa minggu lagi kan kita sudah bersama. Setiap malam curhat pun tidak masalah," balas Damar.
Ya, ketika ada rasa tidak enak di dalam hati dan kemudian bisa sharing dengan pasangan sendiri rasanya sudah bisa membuat lega. Sama seperti Pertiwi yang merasa lega sekarang usai curhat dengan Damar. Selain itu, memang beberapa minggu lagi, dia akan bertemu dengan Damar, sehingga bisa curhat kapan saja, tidak perlu curhat jarak jauh seperti ini.