Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Bertemu Teman Satu Fakultas


__ADS_3

Sudah dua hari berlalu sejak Indira diimunisasi dan juga Ervita kembali bertemu dengan Firhan. Syukurlah, dua hari lalu Ervita memang siang bahkan hingga tengah malam Ervita menenangkan Indira yang beberapa kali rewel. Akan tetapi, keesokan harinya Indira sudah tidak rewel lagi. Ervita pun bisa kembali mengurus rumah yang dia tempati sekaligus melakukan packing untuk setiap pembelian yang masuk melalui e-commerse.


Hari ini, agak pagi Pandu datang dan menemui Ervita. Pandu ingin mengajak Ervita untuk terlibat dalam kegiatan yang berhubungan dengan KKN mahasiswa yang datang dari Solo itu. Sebab, memang beberapa sentra batik akan mendapatkan waktu untuk mempresentasikan usaha batiknya dan mengembangkan usaha batik yang sudah bertahan dari generasi ke generasi.


"Ervi ... Ervi," panggil Pandu sembari mengetuk pintu rumah yang ditempati Ervita itu.


Ervita yang berada di dalam kamar pun, keluar perlahan dan membukakan pintu itu. "Eh, Mas Pandu ... ada apa Mas?" tanyanya.


"Bisa bicara sebentar, Ervi?" tanya Pandu kemudian.


"Boleh Mas ... silakan masuk, duduk dulu," balas Ervita yang mempersilakan Pandu untuk masuk dan duduk di ruang tamu.


Akan tetapi, Pandu menggelengkan kepalanya, "Di luar saja, Ervi ... hanya sebentar kok," balasnya.


Mungkin saja, Pandu merasa tidak nyaman karena berduaan dengan wanita yang bukan mahramnya. Sehingga memilih untuk berbicara di luar saja. Ervita pun menganggukkan kepalanya. Dia duduk di kursi kayu yang ada di depan rumah bersama dengan Pandu.


"Ada apa Mas Pandu?" tanya Ervita lagi.


"Begini Ervi ... bisa bantuin aku enggak untuk mempresentasi Batik Hadinata kepada mahasiswa KKN buat lusa. Setiap pemilik usaha batik diberi waktu lima belas menit. Nanti kamu yang jelaskan pendahuluannya, aku yang jelaskan lainnya. Tentu dihubungkan dengan bisnis batik yang bisa bertahan karena mahasiswanya dari fakultas ilmu ekonomi dan bisnis," jelas Pandu kepada Ervita.


Ervita mendengarkan penjelasan Pandu, hanya saja dirinya merasa ragu. Mengingat dirinya hanya pegawai biasa saja di Batik Hadinata. Selain itu, ada Pandu yang tentu bisa menjelaskan semuanya dengan lebih baik.


"Kenapa enggak Mas Pandu dan Bapak atau Ibu saja Mas? Aku malu, dan takut enggak menguasai," balas Ervita.


"Ibu tadi bilangnya justru disuruh ngajak kamu," balasnya.


Ketika dua orang itu sedang berunding, Bu Tari keluar dari rumah dan mendekat ke Ervita dan Pandu. "Sudah dibahas? Kalian berdua aja yang masih muda yang presentasi itu. Ibu dan Bapak sudah tua, tidak terlalu paham," jelasnya.

__ADS_1


"Bu, cuma kalau Ervita ikut itu, Indi gimana Bu? Kan Ervita juga ada bayi," ucapnya.


"Gampang, nanti Ibu yang jagain Indi. Ikut ya Vita, paling cuma satu atau dua jam aja," balas Bu Tari lagi.


"Sebenarnya takut, Bu. Takut salah dan tidak menguasai bahannya," balas Ervita.


"Latihan dulu sama Pandu. Wis, Ibu kalau sama kalian berdua itu percaya," balas Bu Tari.


Lantaran seolah sudah mendapatkan mandat, Ervita pun mau tidak mau ikut dengan acara KKN itu. Sebelumnya Ervita dan Pandu juga berlatih bersama di Joglo untuk mempresentasikan dengan baik. Bayi Indira pun diajak melihat Bundanya yang sedang presentasi. Bayi kecil itu ditidurkan di dalam stroller yang dibawa hingga ke Pendopo itu.


"Sudah bagus kok, Ervi ... besok kita ke Museum Batik yah, karena acaranya dilakukan di sana. Oh, iya ... ini baju batik buat kamu. Besok dipakai yah, kan mempresentasikan batik jadinya memakai batik dari Hadinata," ucap Pandu.


"Wah, senengnya ... satu tahun bekerja di Hadinata Batik baru kali ini punya batiknya," balas Ervita.


Pendu tersenyum di sana. "Ya sudah, besok jam 09.00 pagi kita berangkat bersama yah," balas Pandu.


Keesokan harinya ...


Tepat jam 09.00 pagi, Pandu bersama Bu Tari keluar dari rumahnya dan menuju ke rumah yang ditempati Ervita. "Vita, sudah siap?" panggil Bu Tari sembari mengetuk rumah yang ditempati oleh Ervita itu.


Ervita pun keluar dengan menggunakan batik yang kemarin diberi oleh Pandu dan celana jeans berwarna navy. Sekilas, penampilan Ervita dan Pandu tampil sarimbitan (cou karena mengenakan kemeja batik dengan motif yang sama, sementara warna celana yang mereka gunakan untuk nyaris sama.


"Sini Indira ikut Ibu ke rumah sana saja yah," ucap Bu Tari lagi.


Ervita menganggukkan kepalanya, kemudian memberikan ASIP yang ada di lemari es bisa dihangatkan dan diberikan untuk Indira dengan menggunakan dodot. Bu Tari pun juga paham, dan setelahnya Ervita berpamitan untuk pergi ke museum batik bersama dengan Pandu.


Perjalanan dari kediaman Hadinata menuju Museum Batik menempuh waktu kurang lebih lima belas menit. Tampak Ervita yang kembali menghafalkan slide untuk presentasi bagiannya, dan Pandu lebih memilih fokus mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


"Aku grogi Mas," ucap Ervita dengan tiba-tiba.


Pandu kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak usah grogi. Pasti kamu bisa. Ibu saja percaya kok sama kamu," balas Pandu.


Hingga akhirnya mereka sampai di Museum Batik dan puluhan mahasiswa dengan mengenakan almamater berwarna biru laut sudah berkumpul di museum itu. Ervita teringat bahwa dia juga memiliki almamater yang sama. Teringat dulu bagaimana Bapak dan Ibunya begitu bangga melihatnya memakai almamater biru laut itu. Namun, Ervita harus puas menggantung mimpi dan cita-cita. Semua mimpi dan cita-cita sudah sirna. Yang ada adalah bertahan untuk dirinya sendiri dan untuk Indira.


Kedatang Ervita pun tentu dikenali oleh teman-temannya. Ada Rudi, Tiana, dan beberapa mahasiswa lainnya yang dia kenal. Namun, Ervita memilih menundukkan wajahnya. Rasa tidak percaya diri seketika melingkupinya. Ada rasa malu juga karena dulu dia adalah bagian dari teman-temannya. Ada rasa khawatir karena ada Firhan juga yang duduk di antara kawanan mahasiswa itu.


Tak ayal beberapa mahasiswa pun saling berbisik dan tak percaya melihat Ervita. Setelah lebih dari satu tahun, mereka bisa melihat Ervita kembali. Teman satu angkatan yang mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif terbaik yang menghilang begitu saja selama dua semester ini muncul kembali di hadapan mereka dan tampak sebagai seseorang yang mungkin sedang merintis bisnis batik.


Pandu pun mengajak Ervita bergabung dengan penyaji materi yang lainnya. Sebab, ada koordinasi dari seksi acara dan juga menjelaskan jalannya acara hari ini. Kemudian tiap penyaji materi juga mendapatkan nomor urutan untuk mempresentasikan. Kebetulan pihak Batik Hadinata mendapat urutan nomor satu.


“Ya ampun, nomor satu … aku grogi,” ucap Ervita dengan menghela nafas.


“Santai saja, Ervi … kayak pas latihan kemarin saja. Kemarin saja waktu latihan kamu sudah bagus kok. Jadi, ya seperti itu saja. Nanti kamu tujuh atau delapan menit, terus sisanya ke aku yah,” ucap Pandu yang membagi jadwal tampil keduanya.


Ervita menganggukkan kepalanya, “Iya Mas Pandu … kalau salah, maaf ya Mas. Aku tidak pernah berdiri di hadapan orang banyak apalagi mahasiswa dan tokoh masyarakat kayak gini,” balasnya.


“Santai saja … percaya dan yakin pasti bisa,” balas Pandu.


Menunggu pembawa acara membuka acara itu, kemudian dipersilakan kepada penyaji materi yang mendapatkan nomor urut pertama untuk mempresentasi bisnis batik yang mereka geluti. Ervita yang menyampaikan materi, sementara Pandu yang mengoperasikan slide presentasinya. Ketika Ervita maju, begitu kagetnya teman-temannya tidak mengira bahwa Ervita akan maju dan memberikan materi terkait bisnis batik.


“Itu kan Ervita … anak FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis) dulu.”


“Eh, itu bukannya mantannya Firhan yah?”


“Satu tahun menghilang sekarang jadi pengusaha, Gaes.”

__ADS_1


Firhan yang duduk di antara kawanan mahasiswa pun juga bingung kenapa Ervita bisa maju di sana? Mungkinkah sekarang Ervita sudah memiliki kehidupan yang enak dan sukses sebagai pengusaha batik? Seolah Firhan merasa harus bisa mendapatkan harta kekayaan Ervita dengan merayu wanita itu lagi supaya bisa mendapatkan apa yang Ervita miliki sekarang ini. Keculasan otak Firhan beraksi dan pria itu sedang menyusun cara untuk memperdaya Ervita sekali lagi.


__ADS_2