
Menata batik saja belum selesai, tetapi Ervita merasakan badannya yang berkeringat dingin. Pinggulnya terasa kencang dan perut yang juga begitu mules. Ervita terduduk, berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis, walaupun sebenarnya Ervita sudah begitu ingin menangis sekarang ini. Sebagai orang yang tidak memiliki pengalaman melahirkan sepenuhnya, Ervita pun tidak tahu ini rasa apa. Hanya saja beberapa waktu yang lalu, Ervita memang pernah melakukan sounding kepada bayinya itu, "Adik ... nanti kalau mau lahir, yang cepat saja ya Dik ... Ibu di sini tidak punya siapa-siapa. Kalau harus kesakitan beberapa jam lamanya, apakah Ibu bisa Dik? Kita berjuang sama-sama yah, Ibu berjuang melahirkan kamu, dan kamu di dalam sini juga berjuang untuk mencari jalan lahir yah."
Ervita mengatakan demikian karena di kota Gudeg itu, dirinya hanya sendirian. Tidak ada keluarga, kalau pun ada orang yang dia kenal itu juga hanya Lusi, dan keluarga Bu Tari saja yang adalah juragannya. Selebihnya Ervita tidak kenal siapa pun di kota itu. Ervita pernah membaca sebuah artikel bahwa melahirkan untuk kali pertama itu biasanya membutuhkan waktu pembukaan bisa belasan jam, beberapa hari, bahkan ada yang sampai dua minggu. Membayangkan semua itu, Ervita berdoa dalam sujudnya meminta kiranya Allah masih berbelas kasihan semoga persalinannya nanti bisa berjalan lancar dan juga cepat.
Akan tetapi, Ervita benar-benar tidak mengira bahwa seolah-olah sekarang waktunya. Pandu yang sedang menata batik pun menghentikan aktivitasnya, dan kemudian mendekat ke arah Ervita.
"Kenapa Vit? Kamu mendadak pucat," balas Pandu.
"Badan aku rasanya enggak enak, Mas ... aku izin satu hari boleh enggak Mas?" tanyanya.
Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Boleh ... sebentar aku masukkan lagi dan menutup kiosnya dulu, aku anterin," ucap Pandu.
Ervita yang berusaha menahan rasa sakit hanya duduk, wanita itu sampai menggertakkan giginya karena sakit yang datang benar-benar sakit. Mulas, perih, dan juga rasa tidak nyaman yang menyengat dari kepala hingga kaki. Wajah yang semula pucat karena keringat dingin, kini menjadi memerah lantaran Ervita menahan nafas dan mengeluarkannya perlahan, melakukan relaksasi untuk menghilangkan sakitnya.
Wanita hamil itu menunduk, dan air matanya lolos begitu saja. "Nak, apa sekarang waktunya? Waktunya mendadak banget, Nak ... aduh, gimana ini."
Ervita bimbang. Tas untuk bersalin sudah dia siapkan di dalam koper miliknya. Akan tetapi, dengan posisi dia tengah berada di pasar harus bagaimana lagi. Ervita akhirnya menangis di sana. Tidak tahan dengan rasa sakit yang terus menyerangnya. Pandu yang tahu bahwa kondisi Ervita tidak baik rupanya segera menghubungi Bapak dan Ibunya untuk datang ke kios.
"Kenapa Pandu?" tanya Bapaknya dengan kaget.
__ADS_1
"Ervita sakit itu Pak," balasnya.
Bu Tari tampak mendekati Ervita dan mengusap punggung hingga pinggangnya, "Apa mau melahirkan?" tanya Bu Tari.
"Enggak tahu Bu ... perutnya mules banget, dan berkeringat dingin seperti ini," jawabnya dengan sesekali mendesis karena menahan sakit.
"Ke Rumah Sakit yah," ajak Bu Tari kepada Ervita.
Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Iya Bu ... cuma perlengkapan bersalinnya Vita masih di kost. Enggak menyangka kalau dadakan seperti ini," balasnya.
"Mana kunci kostmu, biar Bapak yang ambilin di mana. Ibu dan Pandu temanin kamu ke Rumah Sakit yah," balas Bu Tari.
"Agak cepat saja, Pandu ... kasihan Ervita," ucap Bu Tari.
"Nggih Bu," jawabnya dengan mempercepat mengemudikan mobilnya.
Begitu sudah di Rumah Sakit, Ervita segera di tanganin. Dokter Wulan yang memeriksanya sebelumnya rupanya juga bertugas di Rumah Sakit itu. Sehingga Ervita segera ditanganin oleh Dokter Wulan.
"Harusnya Hari Perkiraan Lahir (HPL) nya berapa hari lagi Bu Ervita?" tanya Dokter Wulan.
__ADS_1
"Seharusnya masih satu minggu lagi, Dok," balasnya.
Mulailah Dokter Wulan menginstruksikan kepada Ervita untuk berbaring di brankar dan membuka kedua pahanya. Sang Dokter akan melakukan pemeriksaan dalam kepada Ervita.
"Tolong dibuka pahanya ya Bu ... saya akan melakukan pemeriksaan dalam, tolong jangan berpikir yang macam-macam yah. Tarik nafas, dan tahan," ucap Dokter Wulan.
Mulailah tiga jari Dokter Wulan masuk ke jalan lahirnya, dan Ervita menangis di sana, sangat sakit rasanya kala dilakukan pemeriksaan dalam. "Sakit Dok," rintih Ervita dengan berlinangan air mata.
"Sudah pembukaan lima loh ini Bu ... cepat sekali," ucap Dokter Wulan. Begitu tangan sang Dokter keluar, tangan itu terdapat darah serviks di sana dan seolah mengecek darah servik itu dengan tangan yang mengenakan sarung tangan medis itu.
"Benar ... pembukaan lima ini Bu. Tidak lama lagi, kalau memang pembukaan cepat, tidak lama lagi sudah waktunya bersalin. Ibu akan dipindahkan ke kamar persalinan yah, nanti silakan miring ke kiri supaya bayi lebih cepat menambah jalannya. Suaminya mana Bu? Yang di depan itu?" tanya Dokter Wulan.
Dokter Wulan mengira bahwa Pandu adalah suami Ervita, karena di depan terlihat Pandu dan Bu Tari yang menunggu. Pikir Dokter Wulan jika memang Pandu adalah suaminya maka Dokter Wulan akan meminta Pandu untuk menemani Ervita. Di saat seperti ini, para suami menjadi orang pertama yang berada di garis pertahanan, memberikan elusan di pinggang, menenangkan, dan juga memotivasi sang istri yang sedang berjuang untuk melahirkan buah hati mereka.
Sayangnya, semua itu tidak bisa Ervita rasakan karena dia melahirkan seorang diri, tanpa suami. Hatinya begitu perih. Pedihnya hati bercampur dengan sakitnya proses pembukaan yang seolah tercetak jelas dari setiap air matanya yang terus berderai.
"Bukan Dok ... mereka kerabat saya," balas Ervita.
Dokter Wulan tampak menghela nafas di sana, "Suaminya kemana Bu? Harusnya di saat seperti ini suami itu datang dan menjadi orang pertama yang memberi support dan menenangkan Ibu," balas Dokter Wulan.
__ADS_1
Ervita menangis sesegukan di sana, tidak bisa menjawab pertanyaan Dokter Wulan. Memang inilah takdirnya. Memang inilah yang Tuhan gariskan dalam hidupnya, untuk persalinan dan semua rasa sakit bersalin ini Ervita harus menanggungnya seorang diri.