Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Semangkok Mie Instan


__ADS_3

Malam harinya, begitu Indi dan Irene sudah tertidur, Ervita teringat dengan permintaan dari suaminya yaitu semangkok Mie instan rasa ayam bawang yang diberi telor dan irisan cabai. Sehingga, malam itu Ervita segera menuju ke dapur. Ingin membuatkan apa yang diinginkan suaminya itu.


"Kemana, Nda?" tanya Pandu sekarang kepada istrinya.


Memang begitulah Pandu, kadang jika di rumah dan Ervita hanya keluar dari kamar saja sudah langsung ditanyai. Kadang Ervita hanya ingin ke dapur dan mengambil minum saja, Pandu juga akhirnya memilih beranjak dari tempat tidurnya dan mengikuti Ervita ke dapur. Seakan mengekori istrinya itu.


"Tadi katanya mau dibuatin Mie instan, Mas ... jadi enggak?" tanya Ervita sekarang.


Barulah sekarang Pandu tersenyum. Rupanya, istrinya itu beranjak dari tempat tidur karena hendak membuatkannya Mie instan. Itu berarti Ervita ingat dengan apa yang dia minta tadi.


"Jadi, dong ... kirain kamu lupa, Dinda. Kamu capek enggak buatin aku mie instan enggak Dinda?" tanya Pandu sekarang.


Ervita menggelengkan kepalanya. Dia kemudian tersenyum kepada suaminya. "Enggak, Mas. Untuk suami tercinta, cuma semangkok Mie instan aja mudah," balas Ervita.


Hingga akhirnya, Pandu memilih untuk mengikuti Ervita ke dapur. Pria itu seakan tak mau jauh-jauh dari istrinya. Sebab, Pandu juga menyadari waktunya untuk bisa berdekatan dengan istrinya memang kala malam dan saat anak-anaknya sudah tidur terlebih dahulu.


"Mas Pandu tunggu aja gak apa-apa. Di rumah sendiri, aku gak akan hilang kok, Mas," balas Ervita dengan terkekeh geli melihat suaminya yang ikut wira-wiri dengannya sampai seperti setrikaan itu.


"Gak mau jauh-jauh, Nda. Toh, bisanya deket sama kamu kalau Indi dan Irene sudah bobok. Waktu buat suami kan terbatas, Dinda," balas Pandu.


Pria itu bukan hanya sekadar berkilah, tapi memang Pandu merasa bahwa waktunya paling maksimal dengan Ervita hanya di malam hari saja. Kala, anak-anak sudah tidur. Namun, itu juga bukan waktu yang panjang melainkan hanya beberapa jam saja sebelum mereka akhirnya beristirahat malam dan tidur.

__ADS_1


"Ya, aku selesaikan buat mie dulu, Mas. Nanti kalau udah aku temenin," balas Ervita.


Akhirnya Pandu memilih duduk di depan meja makan, sehingga dia bisa tetap mengamati istrinya itu walau dari jarak sekian meter. Namun, Pandu merasa bersyukur memiliki istri yang cantik, cakap dengan kerjaan rumah tangga, ibu yang baik dalam mengasuh anak-anak, dan juga pribadi yang sederhana.


Itu sejalan dengan apa yang Pandu dulu. Memang dia menginginkan istri yang mau diajak berjuang bersama. Menjalani kehidupan rumah tangga dengan sederhana. Sebab, orientasi Pandu adalah materi itu hanya pelengkap, tapi kebahagiaan yang sejati itu bersumber dari hati, dari perasaan yang tulus dan murni.


Sementara Ervita yang sekarang berdiri di depan kompor gas mulai memotong cabai rawit, mengambil telor dari lemari es. Begitu air yang dia masak sudah mendidik, Ervita memasukkan potongan cabai terlebih dahulu, sehingga kuahnya sedikit pedas karena rebusan cabai itu. Menunggu beberapa saat, Mie kemudian dimasukkan, dan telor dimasukkan paling akhir tanpa diaduk sehingga nanti hasilnya telor bisa bulat penuh. Tidak pecah dan berantakan. Sementara itu, bumbu dan minyak sayur sudah Ervita tuang ke dalam mangkok.


Kurang lebih tiga menit, mie instan rasa Ayam Bawang sesuai request suaminya sudah matang. Ervita pun menyajikannya dengan penuh cinta tentunya. Wajahnya juga full senyum.


"Silakan, Yayah. Mie instan sesuai request sudah jadi," ucap Ervita.


"Wah, kelihatannya enak banget, Dinda. Makasih ya, Nda," balas Pandu.


"Dimakan, Mas ... mumpung masih hangat. Aku temenin," balas Ervita.


Lantas Ervita mengambilkan segelas air putih, kemudian dia duduk di depan suaminya itu. Sebagaimana janjinya yang hendak menemani suaminya. Pandu pun segera menyumpit mie dan merasakan kuahnya. Sedikit terbatuk, karena cabai rawit yang dicampurkan.


"Mie buatan kamu enak banget, Dinda. Mie nya juga enggak lembek. Aldente," balas Pandu.


"Cuma mie instan loh, Mas. Bukan spaghetti," balas Ervita dengan terkekeh geli.

__ADS_1


"Bener, tapi enak banget. Aku suka mie dengan tekstur seperti ini, jadi enggak begitu lembek," balas Pandu.


Ervita tersenyum. Puas rasanya hati ketika suaminya suka dengan apa yang dia masak. Sekadar menyukakan hati suami saja, Ervita juga turut berbahagia.


"Dihabiskan ya, Mas. Pelan-pelan saja. Ini aku juga sudah siapkan air putih," ucapnya.


"Makasih, Dinda. Kamu mau gak?" tawar Pandu sekarang.


Akan tetapi, Ervita dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Enggak, buat Mas aja. Aku lihat kamu makan lahap dan kelihatan menikmati saja sudah senang."


Itu adalah ungkapan hati sungguhan. Ervita sudah senang melihat suaminya yang makan dengan lahap. Bahkan rasanya juga sudah ikutan kenyang.


"Enak banget sih, Nda. Asli ... semua makanan yang kamu buat itu enak," balas Pandu.


"Kebetulan aja, Mas," balas Ervita.


"Serius. Sekadar telor dadar kalau yang bikin kamu aja enak kok," sahut Pandu.


Ervita hanya terkekeh geli, membiarkan suaminya itu berbicara. Namun, Ervita memang selalu berusaha membuat masakan dengan hati. Berusaha memasak lezat supaya anak-anak dan suaminya bahagia, bahkan ketagihan dengan masakan rumah.


Happy Reading😍💕

__ADS_1


__ADS_2