Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Ayah dan Bunda Sayang Indi


__ADS_3

Begitu kereta api sudah sampai di Stasiun Tugu, Jogjakarta. Keduanya lantas bersama-sama keluar dari stasiun dan mengambil mobil yang memang Pandu parkirkan selama empat hari di stasiun. Setelahnya, Pandu memanasi mobil itu terlebih dahulu karena sudah tiga hari juga mobil itu tidak dipakai.


"Malam ini pulang ke rumah Bapak dan Ibu dulu ya, Nda," ucap Pandu kepada istrinya itu.


"Iya Mas ... kemana saja, asalkan sama kamu kan aku juga mau-mau saja," balasnya.


Pandu tersenyum di sana, dan mulai melajukan mobilnya keluar dari Stasiun Tugu dan kemudian menyusuri jalanan di Kota Gudeg, membawanya pulang ke rumah Bapak dan Ibunya dan menemui Indi yang sudah sangat dirindukannya.


"Senjanya bagus ya Mas," kata Ervita dengan melihat bayangan senja yang merona kekuning-kuningan di langit Jogjakarta.


"Jadi inget senja di Abhaya Giri ya Nda?" balasnya.


"Iya, senja pertama kita," balas Ervita.


Bagaimana Ervita bisa lupa karena itu adalah senja pertamanya bersama Pandu usai akad. Keduanya dengan begitu tenang duduk di bibir bukit, menyaksikan matahari terbenam dengan latar Gunung Merapi di belakangnya. Sangat indah. Begitu merona, dan juga hangat.


"Mau kapan-kapan menginap di sana lagi?" tanya Pandu.


"Mau sih ... cuma, kapan-kapan saja. Baby moon ke Abhaya Giri saja," balas Ervita.


Pandu mengulum senyuman di wajahnya, "Bisa saja kamu, Dinda ... enggak pengen ke Bali atau Lombok gitu yah?" tanyanya.


"Enggak ... takut naik pesawat. Di rumah aja asal sama kamu juga mau kok, Yayah," balas Ervita.


Kurang lebih mereka telah menempuh perjalan setengah jam, dan kemudian mereka sampai di rumah kediaman Hadinata, menemui Indi yang diasuh oleh Eyang Kakung dan Eyang Putrinya.


"Ayah dan Bunda pulang," ucap Pandu begitu memasuki rumah orang tuanya.

__ADS_1


Dari ruang tamu, si Kecil Indi sudah berlari dan memeluk kaki Ayahnya itu. "Yayah ... Didi kangen," ucapnya dengan suaranya yang terkadang terdengar cempreng di telinga. Suara yang membuat Ervita dan Pandu kangen selalu dengan Indi.


Ervita tersenyum, walau dia yang melahirkan Indi, tetapi yang pertama kali dipeluk oleh Indi adalah Ayahnya. Sampai Ervita tersenyum dalam hati.


"Ini ... boneka dari Yayah dan Nda untuk Didi ... seneng enggak dapat bonekanya?" tanya Ervita.


"Yee ... hore ... ada Rainbow Dash dan Apple Jack," teriaknya dengan girang.


Kemudian Ervita bersalam taklim dengan mertuanya dan menyerahkan oleh-oleh untuk mertuanya, Roti Lapis Surabaya yang mereka beli di stasiun untuk Bu Tari dan Pak Hadinata.


"Repot-repot bawain oleh-oleh. Kalian berdua sampai di rumah selamat aja, Bapak dan Ibu sudah seneng banget," balas Bu Tari.


"Sedikit Bu ... tidak apa-apa," balas Ervita.


"Sana mandi dulu ... abis ini makan malam. Nginep sini saja, pulang ke rumahnya besok," balas Bu Tari.


"Selama Yayah dan Bunda pergi, Indi rewel enggak?" tanya Ervita.


"Ndak Nda ... Didi baik kok. Ikut Eyang Uthi ke Pasar jualan batik," balasnya.


Bu Tari pun tertawa di sana, "Iya, ikut Uthi ke Pasar Beringharjo jualan batik. Malahan seneng kok Indinya. Kalau besok Bundanya hamil dan punya adik bayi, Indi sering-sering ikut Eyang Uthi yah?"


Indi pun dengan cepat menganggukkan kepalanya perlahan, "Nggih Eyang Uthi," balasnya.


"Nda, Yayah ... abis ini Didi mau bobok sama Yayah dan Nda yah," pintanya.


"Boleh Sayang," balas Pandu dan Ervita bersamaan.

__ADS_1


Usai makan malam bersama, tampak Bu Tari yang mengobrol dengan Ervita sembari mencuci peralatan makan.


"Bagaimana sudah bulan madu?" tanya Bu Tari.


Ervita pun menundukkan wajahnya dan tersenyum, "Ya, usaha saja Bu," balasnya.


"Iya, setidaknya usaha ... kalian juga dari menikah kan belum bulan madu. Jadi, sekarang dinikmati. Kalau pengen pergi berdua, mau menginap silakan. Indi biar sama Bapak dan Ibu," jawab Bu Tari lagi.


"Makasih banyak ya Bu ... Ervi sudah diberikan waktu berdua dengan Mas Pandu," jawabnya.


Sepenuhnya Ervita menyadari jika bukan karena Bu Tari yang memberikan waktu, tentu tidak akan bisa dia ikut ke Surabaya bersama suaminya selama empat hari tiga malam. Bisa menikmati waktu berkualitas dengan suaminya.


"Sama-sama Vi ... jangan sungkan sama Ibu. Semoga ya, nanti Ibu bisa tambah cucu. Indi tambah adik," balas Bu Tari.


"Amin, doakan nggih Bu," balas Ervita.


Usai mencuci semua peralatan makan, kemudian Ervita dan Pandu menidurkan Indi terlebih dahulu. Gadis kecil itu berbaring di tengah-tengah, di antara Ayah dan Bundanya.


"Didi kangen Yayah dan Nda," ucapnya.


"Sama ... kami juga kangen Didi," balas Pandu.


"Nanti adiknya Didi bisa jadi Yah?" tanyanya dengan mata bulatnya yang begitu bening.


Pandu kemudian tersenyum, "Doakan ya ... nanti Didi bisa jadi Mbak yah buat adiknya. Didoakan biar ada baby di perutnya Bunda," balas Pandu.


Indi pun segera menganggukkan kepalanya, "Iya Yayah ... jadi Mbak Didi deh, punya adik bayi nanti," balasnya.

__ADS_1


Begitu senangnya, usai waktu berkualitas sebagai suami dan istri. Sekarang memiliki waktu berkualitas bersama dengan Indi. Melewati malam dengan memeluk putri kecilnya itu.


__ADS_2