Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Antara Cinta dan Belas Kasihan


__ADS_3

Beberapa waktu berlalu, Ervita pun masih duduk di samping Pandu. Pernikahan dalam prosesi Jawa memang biasanya lama. Di tempat acara pun, biasanya pengantin wanita yang akan keluar terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan temu panggih, di mana pengantin wanita akan menyongsong sang mempelai pria. Setelahnya masih ada prosesi adat yang harus dilalui satu per satu.


“Jadi keingat waktu kita menikah dulu ya Nda?” tanya Pandu sembari berbisik lirih kepada istrinya.


Acara pernikahan yang di mana para tamu undangan akan menempati kursi dan meja mundar, sehingga konsep yang diusung adalah round table. Pandu dan Ervita pun duduk bersisian satu sama lain. Mereka seakan teringat dengan momen saat mereka menikah dulu.


“Kayak baru kemarin nikahannya ya Mas,” balas Ervita yang juga saling berbisik dengan suaminya itu.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, “Iya, kayaknya baru kemarin kita menikah. Senang sekali, akhirnya aku mengakhiri masa lajang,” balas Pandu.


Hingga akhirnya satu per satu tamu undangan pun hadir. Tempat resepsi pernikahan yang semula masih sepi, kini sudah mulai penuh. Selain itu, juga teman-teman satu angkatan Pandu juga kian banyak yang hadir. Saat acara pernikahan seperti ini, sering kali menjadi tempat reuni. Bahkan teman kuliah yang tinggal di luar kota pun bisa hadir sekarang.


“Wis, Pandu … gimana kabarnya?” tanya teman Pandu yang lain, seorang gadis yang tinggal di Surabaya.


“Baik, Mil,” balas Pandu dengan bersalaman dengan temannya itu.


“Eh, ini siapa? Tidak dikenalkan?” tanya Mila, teman kuliah Pandu itu.


“Kenalkan, ini istriku,” balas Pandu.


Ervita pun menganggukkan kepalanya, dan tersenyum menyapa dengan sopan pada teman kuliah suaminya itu. “Ervi,” ucapnya memperkenalkan diri.


“Nikahan kok enggak undang-undang sih?” tanya Mila lagi.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, “Iya, cuma acara keluarga saja,” balasnya.


Hingga akhirnya, di sana pun ada sang mantan yang siang itu turut hadir. Lina, yang datang dengan dress panjang dengan model off-shoulder tampil memukau. Siapa saja yang melihatnya tentu akan terpesona dengan kecantikan seorang Lina. Dari jauh, ketika Lina datang, Ervita memilih bersikap santai dan seolah tidak terpengaruh sama sekali.

__ADS_1


Lina pun seolah tebar pesona, dan sengaja untuk menghampiri Pandu. Walaupun Pandu sudah bersikap cuek, dan juga disampingnya sudah ada Ervita. Bahkan dengan penuh percaya diri, Lina mengambil tempat di depan Pandu dan menyapa mantan pacarnya itu.


“Hei, Pandu,” sapanya dengan tersenyum begitu manis.


Rekan-rekan kuliahnya dulu pun sampai geleng kepala melihat Pandu dan juga Lina yang seolah reuni bersama. Tidak jarang yang menggodai keduanya.


“Wah, reuni ….”


“Reuni mantan.”


“Kalau enggak begini, ya enggak ketemu.”


Sementara Ervita hanya bisa menghela nafas, menenangkan dirinya sendiri, dan juga bersikap santai. Walau sejujurnya, Ervita agak risih dengan sikap Lina yang tidak malu untuk mendekati suaminya.


“Aku duduk di sini yah … istri kamu itu tidak keberatan kan?” tanya Lina dengan mengedikkan bahunya, berlaku begitu centilnya di hadapan Pandu.


“Banyak meja kosong di sana, jadi silakan pindah. Jika tidak kami yang pindah,” balas Pandu.


“Tidak usah dimasukkan hati ya Nda,” balasnya.


“Iya, Mas … tenang saja,” balasnya.


Hingga akhirnya hampir dua jam, acara pernikahan di siang itu selesai, dan juga ada foto bersama pengantin di pelaminan. Setelahnya, Pandu dan Ervita berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Pandu pun berjanji akan datang ke acara lainnya jika memang diundang. Pria itu kini berjalan dengan menggandeng tangan Ervita, menggenggamnya begitu erat, dan seakan tidak akan melepaskannya.


Namun, ketika mereka hendak sampai ke parkiran mobil mereka, ada Lina yang tampak mengikuti Pandu dan memanggil-manggil nama Pandu. Merasa dirinya dipanggil, maka Pandu dan Ervita menghentikan langkah kakinya untuk sejenak, dan menoleh ke arah sumber suara.


"Pandu, kita harus bicara," ucap Lina dengan menatap Pandu dengan sorot matanya yang tajam.

__ADS_1


"Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi di antara kita," balas Pandu dengan tegas.


"Ada Pandu ... sangat ada. Oke, aku to the point saja. Aku tahu, kamu menikah dengan dia, baru beberapa bulan kan Pandu? Tidak mungkin dari pernikahan yang baru berlangsung 3 bulan dan sudah memiliki anak yang berusia kurang lebih 3 tahun. Dicerna pun itu tidak masuk akal," balas Lina.


"Apa maksud kamu?" tanya Pandu.


"Manager di tempat kamu menikah itu adalah teman SMA aku, dan dia cerita kepadaku bahwa kamu menikah dengan dia, baru sekitaran 3 bulan. Itu pun karena aku melihat foto kalian di laman media sosial, dan itu tertanggal 3 bulan yang lalu. Jadi, tidak mungkin dong dari pernikahan yang baru 3 bulan dan anakmu itu berusia 3 tahun. Jangan-jangan kamu menikahi Janda?"


Kali ini Lina benar-benar berbicara secara to the point dengan Pandu. Jika menilik tanggal pernikahan kedua, tidak mungkin bisa Pandu memiliki anak yang berusia hampir 3 tahun.


"Itu bukan urusan kamu," balas Pandu.


"Itu urusan aku, Ndu ... kamu layak mendapatkan wanita yang baik, wanita terhormat, mendapatkan gadis," balas Lina.


"Di hadapan Tuhan, semua manusia itu sama. Manusia saja yang mengkotak-kotakan mana yang baik dan tidak baik. Namun, menurutku sebelum kamu berbicara seperti itu, lihatlah diri kamu sendiri. Apakah kamu sudah berlaku baik selama ini?"


Lina kemudian menatap Pandu dengan sorot matanya yang tajam, "Jangan-jangan kamu tidak cinta dia, Ndu ... kamu cuma kasihan kepada wanita beranak ini," tuding Lina.


Apa yang dikatakan Lina, sedikitnya membuat Ervita melirik kepada suaminya. Ervita sangat yakin bahwa itu adalah cinta, dan bukan berdasarkan pada kasihan.


"Tidak, aku mencintainya," balas Pandu.


"Ckck, antara cinta dan kasihan itu hanya ada garis tipis Pandu. Jangan terlalu munafik," balas Lina dengan berdecih.


Sementara Pandu memilih terus menggenggam tangan Ervita, dan menatap kepada Lina, "Dia jodoh terbaikku. Sebaiknya tidak usah membual terlalu panjang lebar, Lin. Dan, anak kecil itu adalah anakku, anak kami," sahut Pandu dengan tegas.


Kali ini ucapan Pandu membuat Lina bertanya-tanya, jika anak kecil itu adalah anaknya Pandu, Lina justru menerka bahwa Pandu mungkin saja yang menduda terlebih dahulu.

__ADS_1


Sementara Pandu memilih berlalu dengan terus menggandeng tangan Ervita di sana. Pria itu begitu sudah memasuki mobilnya, bertanya kepada Ervita.


"Kamu tidak marah kan Nda?" tanyanya lirih.


__ADS_2