Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Obrolan di Meja Makan


__ADS_3

Dengan menahan tawa, Ervita dan Pandu pun keluar dari kamar Pandu di kediaman orang tuanya itu. Ervita pun segera menyusul Bu Tari dan membantu untuk menyiapkan makan malam, sementara Pandu menyusul Bapaknya dan tentunya akan mengajak Indi, supaya Bapaknya nanti bisa makan dengan leluasa. 


“Mana lagi yang perlu dibantu Bu?” tanya Ervita kepada Bu Tari.


“Sudah Vi … makasih ya sudah dibantuin. Gimana, sebulan hidup sama Pandu, kamu merasakan apa saja?” tanya Bu Tari kemudian.


“Mas Pandu baik banget kok, Bu … Ervita bersyukur karena ada yang menyayangi kami berdua,” balas Ervita dengan tersenyum dan menatap wajah Bu Tari di sana.


Mendengar apa yang disampaikan oleh Ervita, Bu Tari pun menganggukkan kepalanya, “Syukurlah … Pandu itu jika sudah cinta, tidak akan main-main, Vi … Ibu tahu sendiri, dulu waktu dia pacaran itu dijaga beneran. Cuma memang dia punya prinsip tidak akan menyentuh wanita yang belum sah baginya. Sekarang, Pandu sudah menikah sama kamu, Ibu menjadi lega. Ibu percaya Pandu itu sangat sayang sama kalian berdua,” balas Bu Tari.


Satu hal yang Ervita tahu bahwa memang Pandu juga bukan pria yang suka menyentuh wanita lain. Itu terbukti dengan pengakuan dari Bu Tari. Ervita pun juga merasakan bahwa dulu, memang Pandu terkesan dingin dan menjaga jarak dengannya. Namun, setelah menjadi seorang suami, Pandu memang berbeda, pria itu justru sering memberikan sentuhan entah itu pelukan, genggaman tangan, atau sebatas usapan ketika Ervita hendak tertidur.


“Bukannya Ibu membuat penilaian yang baik untuk anaknya Ibu, tetapi sebelum sah, Pandu tidak akan mau menyentuh wanita, Vi … baginya itu cinta adalah menjaga. Pacaran kalau banyak bersentuhan justru akan jatuh dalam dosa. Jadi, Pandu memang seperti itu. Setelah jadi suami, dia dingin enggak?” tanya Bu Tari lagi.


Belum Ervita memberikan jawaban, rupanya Pandu sudah menuju ke dapur dan bertanya kepada istrinya di sana.


“Nda, boleh nitip Indi dulu enggak? Aku mau ke kamar mandi sebentar,” ucap Pandu dengan menyerahkan Indi kepada Ervita, meminta tolong untuk menggendong Indi.


“Tentu, sini Nak, ikut Bunda dulu. Ayah ke kamar mandi dulu yah,” balasnya.


Akhirnya Indi mau lepas dari tangan Ayahnya, dan kini Indi berada di dalam gendongngan Bunda. Pandu pun tersenyum, dan mengusapi kepala Ervita di sana. “Sebentar ya, Nda,” ucapnya.


Dari suara, gestur tubuh, dan juga air muka yang ditunjukkan Pandu saja, Bu Tari yakin jika putranya itu bukan pria yang dingin kepada istrinya dan juga Indi. Terlihat cara Pandu memberikan usapan di puncak kepala Ervita, itu adalah bukti bahwa Pandu memang perhatian.


“Oh, Ibu sudah tahu jawabannya. Pandu bukan pria yang dingin dan cuek kan?” tanya Bu Tari lagi.


Ervita pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “Hmm, iya, Bu,” balasnya malu-malu.


Setelah beberapa saat, Bu Tari, Bapak Hadinata, Pandu, dan Ervita menikmati makan malam bersama. Ada obrolan juga yang terjadi malam itu.


“Kalian berdua benar-benar tidak ingin bulan madu?” tanya Pak Hadinata kepada Pandu dan Ervita.


“Tidak usah Pak … sudah bulan madu terus kok di rumah,” balas Pandu dengan tenang.

__ADS_1


Jika Ervita terlihat malu, tetapi Pandu justru terlihat tenang-tenang saja. Bu Tari pun yang melihat banyak perubahan dari sisi Pandu juga merasa senang tentunya. “Mau jalan-jalan berdua juga tidak apa-apa. Indi nanti di sini sama Eyangnya,” sahut Bu Tari.


“Tidak usah Bu … kasihan Indi juga, kan sejak lahir sampai sekarang tidak pernah ditinggal,” balas Ervita.


“Kalian itu seperti Pertiwi dan Damar, sebisa mungkin anak itu dibawa kemana-mana, padahal sesekali dititipkan Eyangnya kan juga tidak apa-apa. Di Lampung juga begitu, Pertiwi itu tidak pernah nitipkan Lintang,” balas Bu Tari kemudian.


Pandu kemudian memberikan balasan kepada Ibunya, “Kalau sudah punya anak ya begitu, Bu … kan dekat sama anak juga menyenangkan,” balasnya.


“Benar … malam ini nginep sini yah. Indi mau bobok sama Eyang?” tawar Bu Tari lagi kepada Indira.


Terlihat Indira yang menganggukkan kepalanya perlahan, “Mau,” balasnya.


Ervita pun tersenyum, “Yakin, mau bobok sama Eyang?” tanyanya.


“Iya ….”


“Biar aja, Vi … kalian bisa agak santai, menikmati kamarnya Pandu waktu lajang. Sebelumnya belum pernah masuk kamarnya Pandu tow?” tanya Bu Tari.


Dengan cepat Ervita menggelengkan kepalanya, “Belum Bu,” balasnya.


“Yuk, Nda … ke kamar mantan Jejaka,” balasnya.


“Cowok kan jejak atau enggak tidak tahu, Mas,” balasnya.


Pandu kemudian melirik kepada istrinya itu, “Kalau aku pasti, Nda … kamu yang pertama buat aku,” balasnya.


Ervita hanya tersenyum di hati. Kini mereka sudah di dalam kamar milik Pandu. Kemudian Pandu mengambil duduk di samping Ervita. 


“Kenapa Nda, gugup?” tanyanya.


“Lumayan Mas … kalau tidak ada Indi, justru aku menjadi gugup,” balasnya.


Pandu pun tersenyum dan menggenggam tangan Ervita di sana, “Kamu kalau berdua sama aku pasti gugup ya Nda?”

__ADS_1


“Hmm, iya,” balas Ervita dengan singkat.


“Padahal biasa saja, Nda … santai saja,” balas Pandu kemudian.


“Malu, Mas,” jawab Ervita dengan menundukkan wajahnya. 


“Sudah buka-bukaan juga, masih malu,” balas Pandu dengan tersenyum di sana dan melirik Ervita. 


Lantas Ervita perlahan mengangkat wajahnya dan sedikit beringsut untuk bisa menatap wajah suaminya itu, “Tadi Ibu bilang, kamu kalau sudah sayang kepada orang itu tidak akan main-main. Jadi, makasih banyak ya Mas … aku bisa merasakan kalau kamu itu sayang sama aku dan juga Indi,” balasnya.


Pandu pun segera menganggukkan kepalanya, “Sama-sama Dinda … selamanya aku akan mencintai kamu dan menyayangi Indi.”


“Kita memang bukan yang pertama untuk satu sama lain, tetapi kenapa rasa ini justru lebih besar dan juga lebih indah dari yang sebelumnya,” ucap Ervita dengan memejamkan matanya perlahan. 


“Itu karena kita sudah dalam pernikahan yang sah, Dinda … bukan sekadar pacaran yang mengejar hasrat semata. Tujuannya sudah berbeda, sekarang kalau bersentuhan begini karena cinta, karena suami istri yang ingin harmonis dengan menunjukkan afeksi kepada satu sama lain, dan juga berhubungan suami istri juga untuk mempererat hubungan kita berdua. Nda, aku juga ingin memiliki buah hati dari kamu,” ucap Pandu kemudian.


Beberapa saat keduanya sama-sama diam, lantas Pandu kembali berbicara, “Kalau kita memiliki buah hati lagi, adik buat Indi, apa kamu mau Nda?” tanyanya.


“Iya, kita kan juga tidak menunda,” balas Ervita kemudian.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, “Iya … jangan berpikir bahwa nanti hanya anak kandung yang lebih aku sayang. Aku juga akan tetap menyayangi Indi, tidak akan berubah dan berkurang,” balasnya.


“Iya Mas … aku tahu, Mas Pandu tidak akan melakukannya,” balas Ervita.


“Lucu kali, Nda … kalau punya baby cewek, biar Indi bisa punya teman bermain,” balasnya.


Ervita pun tersenyum dan melirik suaminya itu, “Kan ya sedikasihnya saja Mas,” balasnya.


“Yuk, Nda … aku ajak jalan-jalan,” balas Pandu kemudian.


Tidak heran, Ervita tahu ke mana arah pembicaraan suaminya itu, “Ke Swargaloka,” Pandu dan Ervita sama-sama menyahut dan menyebut nama itu. Lantas keduanya tertawa bersama.


“Mau kan?” tanya Pandu terlebih dahulu.

__ADS_1


“Sebentar … agak malam dikit ya Mas, takut kalau nanti kita dipanggilin lagi,” balasnya.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, “Oke Dinda … jangan tidur dulu yah, kita duduk di sini dulu aja,” balasnya.


__ADS_2