Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Setia Menunggu


__ADS_3

Sementara itu di rumahnya nyatanya Ervita tidak bisa tidur. Padahal sebelumnya, dia merasa begitu mengantuk dan kecapekan. Namun, lantaran suaminya tidak datang-datang membuat Ervita tidak bisa tidur. Alhasil, Ervita justru menunggu dan sekarang Ervita menikmati duduk di Pendhopo.


Menikmati hembusan angin malam, dan juga menunggu jika nanti suami dan putrinya akan datang. Padahal tadi, Pandu sudah memintanya untuk istirahat duluan, tapi bagaimana lagi jika Ervita tidak bisa tidur jika tidak ada sang suami di sampingnya.


Kurang lebih setengah jam berlalu, barulah Pandu pulang dengan menggendong Indira yang sudah tidur di gendongannya. Pandu pun kaget karena melihat istrinya malam-malam sendiri dan duduk di Pendhopo depan.


"Loh, Nda ... kok malahan di luar?" Pandu bertanya dan menunjukkan raut wajah penuh kebingungan. Sebab, dia pikir sekarang Ervita sudah terlelap. Namun yang terjadi, istrinya justru berada di luar.


"Nungguin kamu, Mas. Gak bisa tidur," balas Ervita.


Pandu mengulum senyuman di bibirnya, dan menatap Ervita perlahan. "Ya ampun, manja banget sih Sayang ... harus nungguin aku yah? Kalau tidak ada Kanda, Dindanya gak bisa bobok yah?" balas Pandu.


Perlahan Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Iya, tadi sudah mencoba berbaring, cuma gak bisa tidur. Miring ke kanan, balik ke kiri, mau telentang rasanya juga engap. Ya sudah, akhirnya aku memutuskan untuk menunggu di Pendhopo saja," balas Ervita.


"Ya sudah, aku menidurkan Indi dulu. Kecapekan juga nih Indi ... waktu aku ke rumah, dia masih main sama Lintang, dan setelah aku ajak pulang, baru minta gendong sudah bobok. Padahal rumahnya Bapak dan Ibu ke rumah kita kan dekat," balas Pandu.


Akhirnya, Ervita mengekori suaminya itu untuk masuk ke dalam kamarnya Indi. Dia mengecup pipi putrinya yang tengah tertidur itu. "Selamat bobok Mbak Didi ... sekarang senang bisa punya teman bermain sampai beberapa bulan ke depan. Hobi barunya bisa bermain sama Mbak Lintang," ucap Ervita dengan lirih.


"Baru senang-senangnya bermain, Nda ... biarin saja. Toh, usianya bermain. Di rumah kan juga belajar sama kamu, nanti kalau sudah masuk TK, dipacu lagi untuk belajar. Seusia Indi ya memang bermain dan berlajar itu seimbang, Nda."


Tidak melulu menyuruh Indi untuk belajar. Sebab, untuk anak seusia Indi memang bermain dan belajar haruslah seimbang. Bermain untuk meningkatkan daya imajinasinya, mestimulasi sensorik dan motoriknya, selain itu dengan belajar yang tentu akan menumbuh semangatnya untuk belajar, rasa ingin tahu, dan juga kerajinan.


"Iya Yayahnya Didi," balas Ervita yang dengan sendirinya segera menggandeng tangan suaminya itu dan kemudian mereka memasuki kamar mereka.


Pandu tersenyum. Tadi, dia pikir memang Ervita biar istirahat dan tidur terlebih dahulu. Toh, tadi Indi juga masih bermain dengan Lintang, sehingga dia mengobrol dulu dengan Ibunya. Ternyata justru istrinya itu masih menunggunya di rumah.

__ADS_1


"Tadi tumben lama sih Mas?" tanya Ervita.


"Iya, tadi ngobrol dulu sama Ibu, Nda ... kangen. Dulu kan sering ngobrol-ngobrol sama Ibu. Tadi, juga sekalian nungguin Indi yang masih asyik bermain sama Lintang," balasnya.


Ervita pun menganggukkan kepalanya. Ya, bagaimana ada masa yang membuat rindu. Sama seperti Pandu yang mengakui kangen dengan Ibunya, dulu memang di kala senggang Pandu sering mengobrol dengan Ibunya.


"Kamu lebih dekat dengan Bapak atau dengan Ibu, Mas?" tanya Ervita kemudian.


"Dua-duanya sih dekat, Nda ... imbang lah. Cuma, anak cowok itu dekat sama Ibunya. Aku kelihatannya ya termasuk yang dekat dengan Ibu. Aku enggak malu kok dulu nganterin Ibu kemana-mana, walau aku sudah perjaka, bukan anak-anak lagi," cerita Pandu.


Ervita kembali tersenyum. "Katanya anak cowok semakin sudah besar, jejaka gitu mulai malu ya Mas untuk dekat ke Ibunya. Sudah bisa jaim. Kok kamu enggak sih?"


"Iya, aku enggak kok, Dinda ... ya malahan senang bisa nganterin Ibu ke mana-mana. Kadang kalau Ibu menghadiri pesta pernikahan itu yang diajak aku loh, bukan Bapak. Seru sih, Nda. Makanya nanti kalau baby kita misalnya cowok, nanti dia akan kayak gitu sama kamu, Nda. Nganterin kemana-mana, Bapaknya kalah deh," canda Pandu.


Pandu pun tertawa, "Sudah pasti boleh kok, Nda ... selalu siap sedia untuk nganterin kamu. Ibu dan Mbakku aja, aku anterin kemana-mana, apalagi belahan jiwaku," balas Pandu.


Itu adalah ucapan Pandu yang terbukti nyata. Sekadar mengantar Ibu dan Pertiwi yang adalah kakaknya saja, Pandu bisa mengantar kemana-mana, apalagi untuk istri sendiri sudah pasti akan diantarkannya.


"Dinda, kalau aku kemana gitu dan kamu kerasa ngantuk dan kecapekan mending kamu bobok dulu. Nanti aku akan nyusul deh. Tadi Ibu cerita, ada orderan online yang masuk berapa juta gitu yah?" tanya Pandu.


"Iya Mas ... ya yang itu, yang buat hajatan itu, Mas. Mau buat seragaman katanya," cerita Ervita lagi kepada suaminya.


"Terus tadi kamu duduk terus?" tanya Pandu.


Ervita pun tertawa dan memukul dada suaminya itu. "Kamu ini lucu deh Mas ... ya duduk yah, ibu hamil mana bisa siapin batik sambil tengkurap di lantai," balasnya.

__ADS_1


"Iya yah Nda ... heheheh. Ku pikir sambil rebahan nyantai kan di rumah sendiri, bukan di kios yang harus duduk di kursi. Kan bisa bersandar atau gimana gitu," balas Pandu.


"Enggak ... duduk saja sih Mas. Paling kadang bersandar. Kadang sambil berdiri. Pinggangnya sudah mulai capek, Mas. Kebanyakan duduk sakit, kebanyakan berdiri juga sakit. Memasuki fase tidak nyaman," balas Ervita.


Nah, seperti ini yang Pandu khawatirkan. Bagaimana pun baru kali dirinya melihat Ervita yang bisa mengeluhkan ketidaknyamanannya kala hamil. Seperti pinggangnya yang mulai tidak nyaman, begitu juga dengan tangannya yang kesemutan. Namun, jika Ervita berbicara, setidaknya Pandu bisa melakukan sesuatu untuk istrinya itu.


"Aku usapin pinggang kamu mau? Sapa tahu jadi lebih enakan," ucapnya.


Akan tetapi, Ervita justru menggelengkan kepalanya. "Enggak, bisa rebahan gini, kena kasur yang empuk jadi lebih enak kok Mas," balasnya.


"Kamu kecapekan gini tadi malahan duduk di luar. Kasihan aku sama kamu, Nda. Masa kehamilan itu berat, selama sembilan bulan ibarat kata kamu menggendong bayi kita semana-mana. Kian besar usia kehamilan, tubuh kian tidak nyaman. Pergerakan bayi yang bisa menekan hingga pankreas dan ulu hati, pinggang yang kian nyeri, juga bobot tubuh yang meningkat. Pengenku ya bisa berbagi sama kamu, walau yang aku lakukan tidak banyak," ucap Pandu.


"Semua rasa ini akan terganti saat buah hati kita lahir ke dunia nanti, Mas. Tergantikan dengan kebahagiaan yang tiada tara, lebih bahagia karena nanti ada kamu yang mendampingi aku kan?" tanyanya.


Pandu kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Dindaku Sayang ... nanti aku temenin, aku dampingi. Walau, aku takut. Dulu, aku mendengar kamu menjerit saat melahirkan Indi, dadaku terasa sesak, tubuhku merinding, dan gak tega rasanya. Pengen genggam tangan kamu waktu itu," balas Pandu.


"Sakit banget soalnya, Mas. Semua rasa sakit itu seakan ditumpahkan semua. Dari ujung kepala sampai ujung kaki sakit banget," balas Ervita.


"Bertambah sakit karena kamu menjalaninya seorang diri ya Dinda?" tanya Pandu disertai dengan helaan nafas panjang.


"Ada kamu waktu itu di luar yang pastinya mendoakan aku dan mendoakan supaya aku kuat untuk berjuang. Iya kan Mas?" tanya Ervita.


"Benar Dinda ... aku mendoakan untuk kamu, selalu. Bahkan aku berdoa dan bersujud kepada Allah, aku ingin mendampingi kamu, menjadi imammu, ketika beberapa saat ketika melihatmu," ucap Pandu dengan sungguh-sungguh.


Begitu teduh hati Ervita mendengarkan ucapan sang suami. Pria yang baik dan memiliki niat yang baik. Bahkan doanya yang baik pun didengarkan oleh Allah. Memiliki Pandu dalam hidupnya adalah anugerah terindah dari Sang Khalik.

__ADS_1


__ADS_2