Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Istimewanya Panggilan Yayah


__ADS_3

Sepeninggal Firhan, Pandu rupanya segera merangkul istrinya itu dan mengajaknya untuk masuk ke dalam kamarnya untuk sesaat. Walau Ervita terlihat tegas, tapi Pandu sangat yakin bahwa mungkin saja ada rasa sakit tersendiri ketika berhadapan dengan masa lalunya. Oleh karena itu, mungkin sekarang keduanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Cooling down sejenak, dan mengurai lagi pembicaraan di antara mereka berdua saja.


"Kita masuk dulu ya, Nda," ajak Pandu kepada Ervita.


"Iya, Mas," balas Ervita.


Sekarang, keduanya memasuki kamar Ervita. Begitu sudah masuk ke dalam kamar, Pandu segera memeluk Ervita. Walau tidak banyak berbicara, Pandu sangat yakin istrinya itu membutuhkan pelukan. Ketika, bibir tidak bisa banyak berkata-kata, ada pelukan hangat yang siap menenangkan Ervita.


"Aku selalu mendampingimu, Dinda," ucap Pandu dengan masih mempertahankan Ervita ke dalam pelukannya.


"Makasih selalu mendampingiku, Mas," balas Ervita. Tangan Ervita pun bergerak dan merengkuh tubuh suaminya. Bahkan sekarang, Ervita juga membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya. Dari semua kepahitan dan kegetiran hidup, tempatnya untuk bersandar selalu saja adalah Pandu. Dulu, ketika keduanya belum sama-sama menikah, tapi Ervita masih ingat bagaimana keduanya saling curhat di pendopo. Bercerita, dan saling dekat satu sama lain. Sekarang pun sama, bahwa Pandu selalu ada untuk melindunginya, mendampinginya, itu yang bisa Ervita selalu rasakan dari sosok Pandu.


"Gimana perasaanmu, Dinda?"


Akhirnya, Pandu kini menanyai Ervita. Bagaimana dengan perasaannya? Apakah Ervita baik-baik saja sekarang. Sebab, tidak muda berjumpa lagi dengan masa lalu yang pahit.


"Aku awalnya terkejut, Mas. Aku tidak pernah menyangka dia akan datang ke mari dan meminta maaf," balas Ervita.

__ADS_1


"Sama, Nda ... aku juga terkejut. Aku terbayang dengan sikap Firhan yang arogan dan selalu menyalahkan kamu untuk semua yang kamu alami. Sehingga, ketika dia rupanya datang untuk meminta maaf, aku benar-benar tidak menyangka," balas Pandu.


Ervita mengurai pelukannya, kemudian dia sedikit menengadahkan wajahnya, guna menatap wajah suaminya itu. "Aku yakin, dia bisa seperti itu karena dorongan dari istrinya, Mas. Tidak selamanya orang jahat akan terus berbuat jahat. Suatu saat ketika dia dipertemukan dengan pendamping hidup yang baik, justru dia mau melakukan yang baik. Walau yang mendorongnya adalah orang lain itu. Di balik berubahnya Firhan, pasti karena istrinya," ucap Ervita dengan panjang lebar.


Pandu menganggukkan kepalanya. Tentu dia setuju dengan apa yang barusan disampaikan oleh Ervita. Di balik berubahnya Firhan pastilah ada dorongan dan juga dukungan penuh dari istrinya.


"Aku justru terharu ketika istrinya meminta maaf kepadaku. Aku tahu itu adalah bentuk maaf seorang istri atas apa yang sudah dilakukan suaminya. Ada itikad baik untuk menanggung beban di masa lalu itu bersama-sama. Tidak mudah bukan untuk menjadi seperti Wati?"


"Ya, benar juga, Nda ... walau sebenarnya ada keterpaksaan pada diri Firhan. Entah, apa yang membuatnya melakukan itu, yang pasti kita apresiasi dengan baik. Kita doakan juga bahwa Firhan dan istrinya akan segera mendapatkan keturunan," balas Pandu.


Ervita menganggukkan kepalanya. Dia juga tidak menyimpan dendam. Hidup yang begitu singkat ini tidak akan dibiarkan berlalu begitu saja dengan dendam yang bisa membuatnya selalu marah dan tidak bisa mengampuni. Ervita lebih memilih jalan menyimpan masa lalu itu ke dalam kotak penyimpanan dan menyimpannya rapat.


"Aku tadi merasa takut, Nda," ucap Pandu kemudian.


"Hmm, kenapa Mas?" Ervita bertanya dan menatap wajah suaminya di sana.


"Aku pernah membaca di satu buku tentang genetika, ikatan batin anak dan orang tua kandungnya itu begitu kuat. Tidak akan memiliki hubungan seperti air dan minyak, tapi hubungan darah. Kupikir, Indi akan berlari ke Firhan dan memanggilnya Ayah. Jujur, ada ketakutan itu. Maaf, Nda ... itu juga karena aku sangat sayang kepada Indi. Bagiku, dia bukan anak sambung, tapi anak kandung. Aku seketika memiliki rasa tidak rela ketika ada orang lain yang dipanggil Indi dengan sebutan Ayah," cerita Pandu.

__ADS_1


Rupanya, sebagai seorang pria, ayah, dan manusia biasa tentunya, Pandu merasa tidak rela jika memang ada pria lain yang dipanggil Indi dengan sebutan Ayah. Sebab, untuk Pandu mungkin karena dia merasa terlibat untuk mengasuh dan membesarkan Indi setiap harinya. Dia tidak ingin berbagi panggilan istimewa dari Indi itu.


"Itu wajar, Mas. Mungkin karena kamu sudah mengasuh dan merawat Indi sejak lama. Kasih sayang yang tulus dari Yayah untuk Didi," balas Ervita.


Ya, Ervita menyingkapi bahwa perasaan Pandu itu wajar. Ada rasa sayang yang tulus dan besar. Ada rasa memiliki dan menganggap layaknya anak sendiri. Ervita hanya berusaha menempatkan diri sebagai Pandu.


"Maaf ya, Nda ... aku salah," balas Pandu kemudian.


"Tidak Mas ... kamu tidak salah kok. Aku bisa memahami posisi kamu," balas Ervita.


"Bagiku, sebutan Yayah itu sangat spesial. Kamu tahu, Nda. Apa yang memantapkan aku untuk meminangmu dulu?" tanya Pandu perlahan.


"Hmm, apa Mas?"


"Sebab, Indi memanggilku Om Ayah dan menjadi Yayah. Hatiku berdebar kencang ketika dia memanggilku Yayah. Aku merasa ingin menjadi Yayahnya, menjaganya, mengasuhnya. Aku ingin menghapus air matanya. Itu yang membuatku memiliki tekad penuh untuk meminang kamu," balas Pandu.


Ketika Pandu mengucapkan semuanya, Ervita menitikkan air matanya. Itu berarti memang mencintainya dan juga mau menerima Indi. Anak yang semula ditolak oleh dunia, kini menjadi putri kecil kesayangan Pandu.

__ADS_1


"Makasih, Mas. Kamu orang pertama yang memberikan Indi kesempatan untuk merasakan kasih sayang seorang Ayah," balas Ervita.


Kembali terharu ketika dia hamil hingga Indi lahir, tidak pernah merasakan sentuhan kasih sayang ayah biologisnya. Mungkin itu juga yang membuat Indi justru hanya tahu bahwa sosok Yayah yang dia kenal adalah Pandu dan bukan yang lain.


__ADS_2