
Usai menolong istrinya untuk mengangkat galon air mineral ke dispenser dan juga mengangkat tabung gas, kemudian Ervita dan Pandu duduk bersama di ruang tamu yang menghadap ke pendopo depan rumahnya. Sekarang tampak Ervita yang menyeka keringat di kening suaminya usai mengangkat beban yang berat. Tidak hanya itu, Ervita pun juga mengambilkan air minum untuk suaminya.
"Minum dulu, Mas ... makasih yah, udah mau ngangkatin yang berat-berat," balasnya.
Pandu pun tersenyum di sana, "Iya, Dinda ... pokoknya kalau yang berat-berat gak usah kamu angkat, gas pun biar di luar aja. Nanti aku yang angkat ke dalam," balas Pandu.
Pandu juga memikirkan istrinya yang sedang hamil. Sehingga memang dia meminta Ervita tidak mengangkat barang yang berat. Sama seperti tabung gas, biarkan saja di luar, asalkan tidak kehujanan. Nanti ketika dia pulang kerja, sudah pasti Pandu sendiri yang akan membawanya ke dalam.
"Aku kirain kamu tadi nungguin aku karena kangen, rupanya karena kehabisan air minum. Dulu, waktu hamil Indi, kamu angkat-angkat gas dan galon air mineral sendiri juga, Nda?" tanya Pandu.
"Enggak Mas, aku kan dulu kost. Tidak punya perabotan apa-apa. Kalau malam kadang cukup makan Nasi Kucing, dan beli air minuman botolan aja. Gak perlu gas dan galon air mineral," balasnya.
"Makan Nasi Kucing?" tanya Pandu lagi.
Dengan cepat Ervita pun menganggukkan kepalanya. "Iya, kan di depan kost dulu ada angkringan kan. Kalau malam, aku beli Nasi Kucing di sana. Selain itu kan ada Nasi Oseng, Nasi Telor, dan Nasi yang bungkus lainnya."
Mendengar apa yang baru saja Ervita ceritakan membuat Pandu merasa iba. Tidak menyangka kalau semasa hamil Indi, istrinya hanya sebatas memakan Nasi Kucing atau Nasi lainnya yang dijual di Angkringan. Nasi kucing sendiri adalah Nasi putih yang diberi suwiran Bandeng, dan diberi sambal. Orang biasa juga menyebutnya Nasi Bandeng. Namun, karena dibungkus dan porsinya kecil, sehingga sering disebut dengan nama Nasi Kucing.
Tidak perlu banyak berbicara. Sekarang Pandu memeluk Ervita di sana, mendekapnya erat. Rupanya bukan hanya penderitaan hamil tanpa suami dulu yang terjadi. Dalam kesehariannya pun Ervita terbilang kasihan. Benar-benar harus bertahan hidup dan jauh dari keluarganya.
"Kenapa peluk-peluk?" tanya Ervita kepada suaminya itu.
"Kasihan sama kamu dulu, Nda. Beban hidup kamu berat banget. Sekarang, setelah hidup bersamaku, kamu harus bahagia ya, Nda. Harus makan yang bergizi, kamu juga bisa cerita apa saja ke aku. Bahkan kamu bisa memanfaatkan aku," balas Pandu.
Di dalam pelukan Pandu, Ervita pun menganggukkan kepalanya. "Iya Mas, aku selalu bahagia sejak bersama kamu. Bahkan aku bahagia karena aku memiliki pasangan hidup yang tepat," balas Ervita.
__ADS_1
"Oh iya, Nda. Nanti diminta ke rumahnya Ibu. Ada rencana yang mau Bapak dan Ibu sampaikan kepada kita. Mau ke sana sekarang atau nanti?" tanya Pandu kemudian.
"Sekarang aja, Mas. Nanti malam, pengennya aku tidur nyenyak meluk kamu," balasnya.
Pandu pun tersenyum di sana. "Lebih dari sekadar tidur nyenyak juga boleh, Dindaku. Nanti malam yah," balas Pandu dengan mengecup kening Ervita.
"Emang kamu gak capek Mas?" tanya Ervita perlahan.
"Enggak, kalau sama kamu ya mau-mau aja," balasnya.
Kemudian Pandu dan Ervita sekarang berjalan kaki bersama menuju ke kediaman Hadinata. Sebelumnya memang Pandu mengajak menaiki mobil atau sepeda motor, tetapi Ervita memilih jalan kaki. Sehingga memang sekarang keduanya berjalan kaki bersama sembari bergandengan tangan.
Hanya beberapa menit berjalan, dan sekarang mereka berdua sudah berada di kediaman keluarga Hadinata. Bu Tari, Bapak Hadinata, dan keluarga Pertiwi berada di pendopo depan. Mereka tersenyum dan menyambut Ervita dan Pandu yang baru saja datang.
Ervita pun kemudian duduk di samping Kakak Iparnya itu. "Mbak Pertiwi juga. Kapan Caesarnya Mbak?" tanya Ervita.
"Dua hari lagi, Vi ... doakan yah," balas Pertiwi.
"Tentu, mbak," balas Ervita.
Kemudian sekarang ada Pak Hadinata dan Bu Tari yang hendak berbicara dengan seluruh anak-anaknya. Mumpung baru kumpul.
"Bapak mau bicara dulu," ucap Pak. Hadinata di sana.
Tidak menunggu lama, seluruh atensi pun tertuju kepada Pak Hadinata. Menunggu apa yang hendak disampaikan oleh beliau.
__ADS_1
"Begini, dua hari lagi kan Pertiwi akan melahirkan. Setelahnya Bapak dan Ibu ingin membuat acara Aqiqah untuk anaknya Pertiwi dan Damar. Nah, nanti rencananya mau sekalian dengan acara tujuh bulannya Ervita. Jadi, sekalian yang repot dan masak-masak. Gimana?" tanya Pak Hadinata.
"Tujuh bulannya kapan, Vi?" tanya Pertiwi kemudian.
"Minggu depan sudah tujuh bulan," balas Bu Tari.
Ervita pun menatap Ibu mertuanya itu. "Ibu menghitung ya Bu?" tanyanya.
"Iya, biar Ibu ingat," balas Bu Tari dengan menganggukkan kepalanya.
"Jadi, setuju tidak? Misalnya sekalian saja," ucap Pak Hadinata lagi.
Pandu dan Damar pun menganggukkan kepalanya. "Iya, setuju, Pak," balasnya.
Merasa bahwa Pandu dan Damar sudah setuju, Pak Hadinata pun sekarang berbicara kepada Ervi. "Vi, dulu kan acara empat bulan sudah dilakukan di Solo. Nanti acara tujuh bulan di sini yah. Di rumah kita di Jogja. Nanti beri kabar ke keluarga di Solo untuk bisa berkenan hadir," ucap Pak Hadinata lagi.
"Nggih, Pak ... nanti Ervi beri tahu kepada Bapak dan Ibu di Solo," balasnya.
Rupanya memang keluarga Hadinata merencanakan untuk melakukan Aqiqah sekaligus dengan acara tujuh bulanan Ervita. Pandu pun melirik kepada istrinya dan berbicara perlahan. "Gak kerasa sudah tujuh bulan ya, Nda. Bentar lagi buah hati kita lahir," balasnya.
"Iya Mas, cepet banget yah," balas Ervita.
"Bapak dan Ibu senang. Dua hari lagi terima cucu, terus dua bulan lagi juga terima cucu. Lama-lama keluarga Hadinata akan menjadi ageng, besar, banyak anak cucunya," ucap Pak Hadinata.
Memang begitulah Pak Hadinata, beliau adalah orang yang senang memiliki keluarga besar. Apalagi saat bisa berkumpul dengan anak, menantu, dan cucu rasanya begitu bahagia. Kebahagiaan itu akan kian bertambah dengan hadirnya cucu-cucu kecil di dalam keluarganya.
__ADS_1