
Tidak terasa deru suara adzan berkumandang, tanda untuk membatalkan puasa hari ini. Sekarang, keluarga Pak Agus dan juga keluarga Pandu berkumpul bersama untuk menikmati buka puasa bersama. Begitu juga dengan Indi yang tampak senang.
"Alhamdulillah, waktunya berbuka, Yayah," ucap Indi.
Pak Agus dan Bu Sri tersenyum karena anak sekecil Indi sudah bisa merasakan nikmatnya berpuasa dan berbuka. Semoga saja, ini menjadi bekal nanti Indi bisa bertahap menambah waktu berpuasa. Dimulai dari puasa dhuzur, nanti bisa ditingkatkan menjadi Asar, dan kemudian puasa penuh. Sebab, memang anak-anak bisa diajarkan dan dikenalkan pada puasa secara bertahap.
"Mbak Indi bisa memimpin kita berdoa puasa?" tanya Pak Agus kepada cucunya itu.
Sekarang Indi tampak tersipu malu dan melirik kepada Yayahnya. Seakan ingin bertanya apakah bisa dirinya memimpin doa berbuka puasa. Hingga Ayah Pandu menganggukkan kepalanya.
"Boleh, yuk Mbak Didi ... usai itu kita berbuka puasa bersama," balas Pandu.
Mulailah Indi menangkupkan kedua tangannya dan berdoa.
“Allahumma laka shumtu wabika amantu wa'ala rizqika afthortu birohmatika yaa arhamarrahimiin ... Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, dan dengan-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri, dan atas rezeki-Mu aku berbuka puasa, dengan rahmat-Mu ya Allah Tuhan Mahapengasih. Amin.”
"Amin."
Seluruh orang pun mengaminkan doa yang diucapkan Indi. Yayah Pandu usai berdoa tersenyum dan mengusapi puncak kepada Indi.
"Bagus, Mbak Didi ... terima kasih yah," ucapnya.
"Iya, Yayah," balas Indi.
Usai itu, Indi kemudian mulai untuk meminum takjil yang sudah disiapkan dan kemudian Ervita mengambil Indi untuk makan. Selain itu, Ervita juga mengisi piring kosong suaminya. Nasi putih hangat, dengan Sayur Bobor Bayam dan juga Tempe Goreng. Sangat sederhana. Namun, semua terasa istimewa karena kedatang anak, menantu, dan cucu dari Jogjakarta.
__ADS_1
"Enak enggak Mas Pandu?" tanya Bu Sri.
Pandu yang tengah mengunyah makanannya pun kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, enak sekali, Bu. Jarang, di Jogja dengan masakan seperti ini," balasnya.
"Katanya ya, Mas ... ini masakan kesukaan raja-raja di Jawa dulu. Sayur bobor. Jadi, kita ini memakan hidangan kerajaan," balasnya.
"Iya kah? Sama seperti Gudeg yang adalah makanan para prajurit, kemudian disukai juga oleh raja. Jadi, makanan khas kerajaan deh," balas Pandu.
Ya, dari sejarahnya memang banyak masakan di Jawa yang bermula dari hidangan kerajaan, kesukaan para raja. Hingga kemudian diadopsi oleh rakyat dan menjadi menu masakan keseharian bagi masyarakat di Jogja dan Solo.
"Yang tinggal di kerajaan itu ningrat ya, Yah?" tanya Indi kemudian.
"Ya, raja, keluarganya, dan beberapa kerabat. Ada pembantu juga yang disebut abdi dalem. Kalau ningrat itu keluarga dari darah biru, Nak. Keluarga atau kerabatnya raja. Begitu," jelas Pandu.
"Oh, begitu yah," balas Indi dengan menganggukkan kepalanya.
"Mei dan Tanto kemana ya Bu?" tanyanya.
"Oh, ini Mei ke Sidoarjo. Baru main ke rumahnya Tanto. Hari Senin nanti baru kembali lagi ke Solo," balas Bu Sri.
"Oh, makanya ... padahal pengen bertemu Arka," balasnya.
Ya, sebenarnya Ervita ingin sekaligus bertemu dengan keponakannya Arka. Pasti sekarang Arka juga sudah seusia Irene. Keduanya hanya selisih beberapa bulan saja. Sayangnya, Mei sedang main ke rumah mertuanya di Sidoarjo.
"Arka ya sudah se-Irene gini. Hanya lebih gendut, gak bisa diam anaknya. Maunya naik turun tangga ini. Ibu itu kadang hatinya copot, takut kalau terjadi apa-apa," balasnya.
__ADS_1
"Anak kecil baru aktif ya begitu, Bu. Maunya eksplorasi. Apalagi cowok, lebih aktif," balas Ervita.
Bu Sri menganggukkan kepalanya. "Benar banget. Apalagi Ibu belum pernah kan megang cucu cowok. Anaknya dua cewek semua. Jadinya, lihat Arka itu kadang geleng kepala. Ini anak kok gak bisa diam begini, tapi ya gimana lagi namanya juga anak-anak yah. Baru aktifnya," balas Bu Sri.
Memang banyak orang berkata banyak perbedaan untuk mengurus anak cewek dan anak cowok. Anak cowok biasanya lebih aktif dan suka eksplorasi ruangan. Sementara anak cewek bisa lebih lembut dan kalem.
"Kamu enggak tambah anak lagi, Vi? Mumpung masih muda. Irene juga bentar lagi lepas ASI," ucap Bu Sri sekarang.
Ervita hanya senyum-senyum mendengarnya. Begitu juga dengan Pandu yang menundukkan kepalanya sambil tersenyum. Namun, sebenarnya Pandu juga mau-mau saja.
"Tambah satu lagi tow Mas Pandu. Sapa tahu dapat anak cowok loh. Nanti Mas Pandu jadi paling cakep loh di rumah," ucap Bu Sri lagi.
"Iya, Mas Pandu. Biar punya anak cowok. Lengkap kan dua cewek dan satu cowok," sahut Pak Agus menambahkan.
"Doakan saja ya, Bu. Semoga nanti bisa menambah lagi. Setidaknya Irene biar selesai ASI dulu kasihan Ervita, Bu," balas Pandu.
Terlihat jelas bahwa Pandu bukan pria yang egois. Dia lebih memilih putrinya mendapatkan ASI sampai usia 2 tahun terlebih dahulu. Selain itu, Ervita juga bisa menyelesaikan pemenuhan nutrisi untuk Irene.
"Iya, Mas Pandu. Diatur saja. Semoga sih bisa nambah lagi. Nanti kalau lebaran kan cucunya Ibu dan Bapak jadi banyak," ucap Pak Agus.
Sungguh tidak mengira ketika berbuka puasa justru kedua orang tua Ervita mengatakan untuk menambah cucu lagi. Namun, sebagai anak juga mereka menganggap baik saja. Semoga nanti Allah akan menganugerahkan lagi keturunan untuk mereka.
"Nanti ikut Bapak tarawih ke masjid ya Mas Pandu," ajak Pak Agus.
"Nggih, boleh, Bapak," balasnya.
__ADS_1
Ada kebiasaan khusus ketika berada di Solo pastilah Pandu akan diajak Bapak mertuanya ke masjid. Tentu Pandu mau. Sebab, memang sekaligus beribadah dan menunaikan Sholat Tarawih.