
Tidak terasa sudah satu pekan berlalu, dan sekarang Pandu dan Ervita sedang melewati malam bersama. Membuka kaca jendela di malam itu dan merasakan semilir angin yang berhembus. Keduanya sama-sama tersenyum. Entah apa arti senyuman itu yang pasti justru keduanya merasa bahagia.
Angin malam berhembus, lirih dingin menyapa. Sementara dua sejoli itu berdiri di depan kaca jendela yang ada di kamarnya. Semribit, itulah ungkapan dalam bahasa Jawa yang melukiskan angin yang sepoi-sepoi itu.
"Kenapa Mas, senyam-senyum gitu?" tanya Ervita sekilas kepada suaminya.
"Kelihatannya sejak kita menikah, baru kali ini jendela kamar ini terbuka di malam hari," balas Pandu.
Akan tetapi, apa yang dikatakan Pandu benar adanya. Sejak mereka menikah, baru kali ini mereka membuka jendela di kamar ketika hari sudah beranjak malam.
"Seharian ini kamu ngapain aja, Nda?"
"Ya, seperti biasa, Mas. Jualan batik, mengasuh Indi. Cuma sekarang ada Lintang kan, Indi jadi sering bermain dengan Lintang. Kenapa Mas?" tanya Ervita kepada suaminya itu.
Sebenarnya kegiatan sehari-harinya juga tidak ada yang spesial. Semua terasa biasa saja. Akan tetapi, memang suaminya itu selalu saja menanyakan kegiatan sehari-hari Ervita.
"Aku seneng dengar kamu cerita aja, Nda. Menurutku dulu yah, kamu itu pendiam gitu. Jadi, aku yang harus sering banyak berbicara, membuka obrolan. Sekarang, mendengar kamu cerita begini rasanya senang," balas Pandu.
"Kamu bisa saja," balas Ervita perlahan.
"Aku ingin kamu terbuka juga denganku, Dinda," balas Pandu.
Kemudian pria itu menutup jendela dari kayu jati itu. Supaya tidak masuk angin, karena angin malam terasa kian dingin rasanya. Kemudian Pandu segera memeluk istrinya itu. Tangannya bergerak mengusapi perut istrinya yang kian membuncit.
"Dinda, kayaknya aku ngidam sesuatu deh," ucap Pandu sekarang dengan suara lirih perlahan.
__ADS_1
"Hmm, ngidam apaan Mas?" tanya Ervita.
"Mau itu, Nda ... hak suami," balasnya.
Sebenarnya juga sejak acara tujuh bulanan, dan Pandu belum lagi mengarungi Swargaloka bersama istrinya. Oleh karena itu, kali ini rasanya Pandu ingin menggapai istana di awan-awan itu bersama dengan istrinya.
"Boleh aja, pelan-pelan ya Mas. Perutku mulai besar, ingat kan pesannya Dokter. Tidak boleh menekan perut," balas Ervita.
Pandu pun menganggukkan kepalanya. "Tentu aku akan selalu ingat, Dinda. Pesannya Bu Dokter apa saja, aku ingat kok," balas Pandu.
Kini Pandu segera membawa sang istri menuju ke pembaringan untuk beradu bersama. Pandu kian mendekatkan wajahnya, bisa Ervita rasakan sapuan nafasnya yang hangat seolah membelai sisi wajahnya, dua mata yang saling beradu hingga, ada senyuman yang tercetak jelas di wajah suaminya. Tidak menunduk wajah Pandu dan mengikis jarak wajah yang tidak seberapa itu, kini Pandu mendaratkan bibirnya dengan sempurna di atas dua belah lipatan bibir Anaya. Rasa hangat yang hangat, lembut, dan kenyal begitu dominasi kala itu. Dengan dua mata yang saling berpadu, Pandu tersenyum sesaat, hingga akhirnya pria itu memejamkan matanya. Jika itu adalah cahaya lilin, sudah pasti ada hembusan angin yang mematikan cahaya lilin. Redup. Kelopak mata yang tertutup sempurna.
Pandu dengan langkah yang pasti dan penuh perhitungan segera membuka bibirnya perlahan dan memagut bibir Ervita. Rasa yang manis, hangat, dan juga basah bisa Pandu rasakan seketika. Namun, jangan lupakan bahwa Pandu merasa sangat senang kali ini. Dua bibir menyatu, saling menyapa. Dua lidah saling mengusap memberikan kehangatan dalam sensasi yang basah. Saling memagut, saling menghisap, dan saling mencecap. Jikalau itu adalah salju, tentu itu adalah salju yang manis.
Ketika ciuman Pandu kian dalam, ada jari-jemari Ervita yang meremas perlahan rambut suaminya. Sensasi ini tak bisa terbantah. Bibir bertemu bibir, saling berdecak, menghasilkan kombinasi sempurna tanpa celah.
Pandu membawa wajahnya kian turun dan dia menenggelamkan buah persik itu ke dalam rongga mulutnya yang hangat. Menciumnya, menghisapnya dengan gerakan peristaltik, dan memberikan gigitan demi gigitan di puncaknya. Ini adalah cara terbaik yang Pandu bisa lakukan untuk membuai istrinya. Menapak puncak asmara bersama.
"Mas Pandu," ucap Ervita dengan suara lirih.
"Ya, Dinda," balas Pandu dengan terus memberikan godaan yang tanpa ampung kepada Ervita. Kecupan yang lembut, gigitan yang membuat puncak di sana menegang dan basah. Namun, itu memberikan reaksi yang amat sangat memabukkan.
Tidak ingin berlama-lama, Pandu mulai melakukan invansi mandiri ke lembah di bawah sana. Menyusupkan lidahnya dan memporak-porandakan kedalamannya. Tusukan yang menjerat. Usapan yang membuai. Membuat Ervita limbung, dia seakan kehilangan kewarasannya sekarang.
Merasakan bahwa sang istri sudah siap, Pandu mulai merapatkan dirinya. Menyatukan diri dalam satu hunusan yang masuk, melesak dengan sempurna.
__ADS_1
"Dinda ... Dinda!"
Pandu memejamkan matanya merasakan sapaan yang hangat yang erat. Basah dan hangat begitu mendominasi. Hingga Pandu merasakan tubuhnya merasa begitu ringan, jantungnya berpacu, disertai dengan aliran darah yang memompa dari jantung ke seluruh tubuh lebih cepat. Sapaan erat yang dengan sendiri membuat wajahnya memerah dan peluh bercucuran begitu saja. Rasa nikmat yang mungkin tidak pernah bisa Pandu deskripsikan.
Ervita merasa terengah-engah. Dia memeluk suaminya yang mulai bergerak. Maju dan mundur dengan begitu berirama. Hujaman dan hunusan seakan mendominasi, rasanya ada benturan di dalam sana, yang membuat Ervita hanya bisa memekik lirih. Keduanya sama-sama sepakat di dalam hati bahwa ini adalah momen yang indah. Gerakan seduktif Pandu pun kian padu, peraduan cinta yang syahdu laksana di taman surga dengan syair dari para pujangga.
Ya, taman surga ketika sang burung surgawi melebarkan sayapnya. Merak Khayangan menunjukkan bulu terbaiknya yang memesona, di sana lah dua insan yang dimabuk cinta itu merasakan terpaan penuh gelora. Bahkan di sana bunga-bunga surgawi dengan sendirinya bermekaran. Keduanya laksana Adam dan Hawa, menapaki taman surga.
Puncak dari semuanya, Ervita bahkan nyaris menjerit karena tersulut dan terbakar habis. Pun dengan Pandu yang memenuhi cawan surgawi sang istri dengan semua miliknya yang terperas habis di sana.
Meledak.
Pecah.
"I Love U, Dinda," ucap Pandu dengan memeluk Ervita.
"I Love u too, Mas," balas Ervita.
"Aku sebenarnya ngidam ini, Nda ... hampir sepekan lamanya," balas Pandu.
"Lemes aku, Mas. Ya Tuhan ... sampai kayak gini," balas Ervita.
Kali ini seolah tenaga Ervita terkuras habis. Perjalanan menuju angkasa yang memang begitu dahsyat. Bahkan tanpa burung besi pun keduanya bisa menapaki awan demi awan, menuju negeri di atas angkasa. Walau lelah, tapi perjalanan itu sangat indah.
"Aku yang hamil, kamu yang ngidam ya Mas?" tanya Ervita perlahan.
__ADS_1
"Iya, sebelum satu setengah bulan lagi puasa panjang yang bisa melebihi puasa Ramadhan," balas Pandu.
Begitu pintarnya Pandu. Momen tertentu bisa dia jadikan dialog dengan istrinya. Namun, sejatinya begitu rumah tangga. Ada kalanya kemodusan pasangan menjadi penyedap rasa ternikmat untuk membuat kedua sejoli kian rekat.