
Dari kediaman Wati, Firhan memutuskan untuk menuju ke Air Terjun Parang Ijo. Rasanya, kali ini. Firhan merasa bersalah dan ingin segera minta maaf. Selain itu, dia teringat dengan nasihat dari Ibunya bahwa semua manusia pernah bersalah, tapi mereka juga harus untuk meminta maaf atas salahnya. Di masa lalu, Firhan pernah lari dari masalah begitu saja. Sekarang, Firhan harus berani bertanggung jawab untuk apa yang telah dia lakukan.
"Jika ada masalah dalam rumah tangga itu diselesaikan dengan baik-baik Mas Firhan. Orang tua mana yang hatinya tidak hancur, melihat putrinya tengah malam tiba di sini dengan air mata. Kalau masalah diselesaikan dengan emosi, hasilnya akan seperti itu. Berbeda, jika duduk bersama dan dicari solusinya," nasihat dari Bapak mertuanya.
Di sana Firhan terdiam. Memang semalam adalah salahnya. Dia yang sudah emosi dan juga hasratnya naik dengan begitu cepatnya membuatnya tak sabar untuk melampiaskan hasratnya. Walau Wati menangis dan tidak mau, tapi Firhan tetap memaksanya.
"Masalah dalam rumah tangga itu biasa dan wajar. Semua rumah tangga pasti pernah mendapatkan masalah. Apa pun itu, tapi tergantung kita menyingkapinya. Kalau diselesaikan dengan baik-baik ya hasilnya baik-baik. Tidak perlu istri kamu tiba di rumah orang tuanya malam-malam," ucap Bapak mertuanya lagi.
"Maafkan Firhan, Bapak. Sekarang, apa boleh Firhan menjemput Wati?" tanyanya.
"Cari saja di Air Terjun Parang Ijo," jawabnya.
Merasa sudah mendapatkan lampu hijau dari mertuanya, Firhan pun kembali melajukan sepeda motornya dan mencari rute menuju ke Air Terjun Parang Ijo. Sebenarnya, Firhan tidak familiar dengan tempat itu, tetapi dia tidak kekurangan akal. Sebab, sekarang Firhan menggunakan maps di handphonenya untuk menuju air terjun yang disebutkan Bapak mertuanya itu.
Pria itu menempuh jalan yang berkelok-kelok, naik dan juga turunan tajam. Melihat kebun teh, merasakan sejuknya udara di pegunungan itu. Hingga akhirnya, dia membaca sebuah tempat bernama Air Terjun Parang Ijo. Kemudian Firhan mencari tempat parkir dan kemudian mendaki anak tangga di sana.
Ya, rute menuju air terjun memang harus melewati anak tangga. Menguras tenaga. Namun, ketika sudah melihat air terjun, semua lelah akan hilang, tergantikan dengan keindahan air terjun atau di dalam bahasa Jawa biasa disebut Grojogan. Firhan pun berusaha mencapai air terjun dan mengedarkan pandangannya di segala penjuru untuk mencari Wati. Siapa tahu, dia akan menemukan Wati di sana.
Hingga akhirnya, Firhan sampai di Air Terjun Parang Ijo, dan kemudian Firhan melihat ada Wati yang duduk di sebuah batu dengan mata yang menghadap lurus ke air terjun. Tidak perlu menunggu lama. Firhan menuju batu besar itu, walau terengah-engah, tapi dia tidak menyerah. Hingga akhirnya, Suara pria itu yang lirih, tersamarkan dengan gemericik air terjun. Namun, rupanya Wati bisa mengetahui bahwa itu adalah Firhan, suaminya. Perlahan, Wati menoleh ke sisi kanan, dan benarlah dia mendapati Firhan di sana.
__ADS_1
"Wati, aku datang ke mari untuk menjemputmu," ucapnya lagi.
Kali ini memang Firhan datang dengan tujuan hanya untuk menjemput Wati. Jauhnya perjalanan dari Solo menuju Ngargoyoso, Karang Anyar, tidak menjadi masalah untuk Firhan. Bahkan demi menjemput Wati juga, hari ini Firhan terpaksa libur.
"Untuk apa ke sini, Mas? Untuk menyakitiku lagi?" tanya Wati.
"Bukan, aku datang untuk minta maaf, Yang," balas Firhan.
"Semalam saja, kamu melakukan semuanya dan tidak meminta maaf. Setelah, hari berganti baru minta maaf. Sudah terlambat, Mas," balas Wati.
Wati memilih membuang wajahnya, dan kemudian hendak berdiri, tapi Firhan segera menahan tangan Wati. Tidak akan membiarkan Wati berdiri dan pergi begitu saja.
"Aku butuh waktu, Mas," balas Wati.
"Aku akan menunggu, Ti," balas Firhan.
"Kemarin kamu marah dan memaksaku sampai seperti itu, dan sekarang datang untuk minta maaf. Itu gak benar, Mas. Selamanya, aku gak mau, jika kamu perlakukan seperti itu. Aku bukan gadis yang kamu ambil kegadisannya dan menerima nasibnya, aku wanita yang ingin dihargai oleh suamiku sendiri," balas Wati.
Di sana Firhan seolah mendapatkan tamparan dari Wati. Di sini Wati pun menuntut haknya untuk dihargai oleh suaminya sendiri.
__ADS_1
"Itu, masa lalu, Yang," ucap Firhan.
"Kamu pun harus meminta maaf untuk masa lalumu," balas Wati dengan tegas.
"Aku gak mau minta maaf dengannya," balas Firhan.
Menurut Firhan, semua kejadian buruk yang terjadi padanya, adalah karena Ervita. Untuk itu, Firhan merasa tidak perlu meminta maaf kepada Ervita.
"Kamu sudah merusak kehidupan gadis yang hanya terjerumus dalam hasrat sebelum pernikahan, Mas. Kamu tidak tahu bagaimana menderitanya dia hamil seorang diri, dan anaknya pun tanpa nasab Ayahnya. Itu adalah cela yang tidak akan bisa dihapuskan seumur hidup," balas Wati.
Firhan terdiam di sana. Memang usai Ervita dulu mengakui hamil, Firhan sangat yakin bahwa itu hanya akal-akalannya saja untuk menjeratnya. Firhan tidak mau masa depannya hancur karena menikah muda.
"Kalau salah, minta maaf, Mas. Sapa tahu dengan meminta maafnya, nanti Tuhan lapangkan ikhtiar kita berdua untuk mendapatkan keturunan," balas Wati.
"Dia bukan Tuhan, untuk apa aku meminta maafnya," balas Firhan lagi.
Wati tersenyum getir mendengar jawaban dari suaminya. "Aku tidak akan kembali ke Solo, kalau kamu belum berubah. Apa perlu, semua orang meninggalkan kamu terlebih dahulu, baru kamu mengetahui setiap tindakanmu yang salah Mas?"
Wati pun geram dengan suaminya. Dia sudah memutuskan tidak akan kembali ke Solo jika memang belum berubah dan belum meminta maaf. Siapa tahu, ikhtiar untuk mendapatkan buah hati bisa mereka dapatkan, ketika ada perubahan akal budi pada diri suaminya itu.
__ADS_1