Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Indira Tantrum


__ADS_3

Sepeninggal Tiana dan Firhan, akhirnya Ervita kembali berjalan. Sungguh, Ervita sama sekali tidak menginginkan untuk bertemu Firhan. Jika bisa, dia akan menolak untuk bisa bertemu lagi dengannya. Bahkan di hatinya sama sekali tidak ada asa untuk mendapatkan Firhan lagi.


Bagi Ervita lebih baik dirinya menjadi Ibu Tunggal daripada mengemis cinta dan belas kasihan kepada Firhan. Toh, Ervita membuktikan sejak keluar dari rumah, walau hidupnya berliku dan tentunya jatuh bangun, tetapi Ervita bertahan dan berjuang untuk dirinya dan Indira.


Sekarang, walau pun ada keluarga Hadinata yang membantunya, memberi tempat berteduh untuknya. Bukan berarti perjuangan Ervita selesai. Dia tetap berusaha keras bekerja sembari mengasuh Indira. Mendapatkan rupiah demi rupiah yang dia tabung untuk mencukupi kebutuhan keduanya.


“Di sini sering untuk KKN ya Mas Pandu?” tanya Ervita kepada pemuda yang berjalan di sampingnya itu.


"Iya, hampir setiap tahun selalu ada mahasiswa yang KKN ke sini. Bukan hanya dari Solo, kadang ada dari Purwakarta bahkan dari Jakarta," balas Pandu.


Ervita menganggukkan kepalanya, menyadari mungkin karena banyaknya sentra pengrajin batik di tempat ini dan juga dekat dengan Museum Batik. Selain itu ada sentra penjualan batik di Pasar Beringharjo. Sehingga memang sering kali menerima mahasiswa yang KKN, dan sekaligus bisa mengenalkan batik.


"Nanti kamu juga terlibat yah ... karena Batik Hadinata itu termasuk sentra batik yang cukup tua di kampung ini. Sudah dimulai sejak Simbah aku dulu," balas Pandu.


Ervita kemudian menganggukkan kepalanya, "Boleh sih. Cuma malu aja, Mas," balasnya.


Pandu tersenyum tipis dan melirik kepada Ervita. "Tidak usah malu, Ervi ... nanti aku ajarin deh. Misal memberikan cerita sejarah Batik Hadinata ini kepada mahasiswa yang KKN. Bahkan aku buat portal situsnya ada bagian sejarahnya di sana," balas Pandu.


"Keren Mas ... dari desainer interior bisa bikin portal situs, dan mau bantuin Bapak dan Ibu jualan," sahut Ervita.


"Biasa saja, Ervi. Lagian kalau bukan aku yang membantu Bapak dan Ibu siapa lagi? Anaknya tinggal aku saja, Mbakku ikut suami dan tinggal di Lampung," balas Pandu.


Dalam benak Ervita, Pandu memang anak yang berbakti. Sepengetahuan Ervita selama tiga bulan tinggal di rumah keluarga Hadinata, Pandu begitu menghormati orang tuanya. Bahkan pemuda itu begitu giat bekerja. Sebagai anak orang tua, pemilik usaha batik bisa saja Pandu hidup enak dan foya-foya. Akan tetapi, Pandu bukanlah anak yang demikian. Pemuda yang rajin bekerja, dan juga santun.


"Yuk, pulang ... kamu tunggu di sini saja. Aku ambil sepeda motor dulu yah," ucap Pandu.


Mengingat jarak Puskesmas dan rumahnya yang dekat, Pandu memang memilih menggunakan sepeda motor saja. Ervita pun menunggu putra sang juragan batik itu mengambil sepeda motornya. Pandu yang menaiki motor matic berukuran besar itu berhenti di hadapan Ervita.

__ADS_1


"Yuk, Ervi ... naik. Pelan-pelan yah," balas Pandu.


Ervita pun memposisikan diri dan membonceng Pandu dengan perlahan, kemudian dia menyelampirkan jarik selendang itu untuk menutupi bayi Indira supaya tidak terkena angin.


"Sudah Mas," jawabnya.


Dengan hati-hati, Pandu membawa sepeda motor itu. Bahkan tanpa sengaja sepeda motor yang dikemudikan Pandu itu melewati Firhan dan Tiana yang sedang berjalan bergandengan. Anehnya, ketika melewati Firhan, si Bayi Indira tiba-tiba menangis. Sampai Ervita bingung dibuatnya.


"Cup - cup - cup, Sayang ... kok tiba-tiba nangis sih," ucap Ervita sembari mengusapi bagian pantat bayi untuk menenangkannya.


Pandu pun sampai menoleh ke belakang, "Indiranya nangis ya Vi? Mau berhenti dulu?" tanyanya.


"Enggak usah Mas Pandu ... sebentar lagi juga sampai di rumah kok," balasnya.


Pandu pun menganggukkan kepalanya. Bahkan Pandu juga merasa bingung dengan Indira yang tiba-tiba menangis. Tadi Indira menangis usai diimunisasi itu wajar. Akan tetapi, sekarang ... Indira menangis karena apa? Mungkinkah usai melewati dua mahasiswa yang dia temui di Puskesmas tadi? Mungkinkah bayi sekecil Indira merasakan ada ikatan dengan pria yang mengenakan kemeja almamater tadi?


"Mas, maaf ... aku masuk ke dalam yah, nenangin Indira yang tiba-tiba tantrum (rewel) seperti ini. Makasih banyak ya Mas Pandu sudah dianterin ke Puskesmas," ucap Ervita.


"Iya Vi ... sama-sama," balas Pandu.


Ervita pun masuk ke rumah, menguncinya karena dia hendak memberikan ASI terlebih dahulu untuk Indira. Ervita menghela nafas, sembari mengeluarkan sumber ASI-nya dan melekatkannya ke dalam mulut Indira.


"Kenapa nangis Putrinya Bunda? Indira merasakan apa tadi? Cup-cup-cup," ucap Ervita.


Walau tak terucap, mungkinkah ada ikatan yang dirasakan Indira? Namun, si Ayah Biologis agaknya tidak merasakan ikatan apa-apa, dan juga seolah begitu bermulut tajam saat bertemu Ervita. Menanyakan bayi yang berada dalam gendongannya pun tidak.


"Indira nangis karena usai imunisasi atau kenapa orang tadi sih? Maaf ya Nak ... Ibu tidak bisa memberikan keluarga yang utuh untukmu. Yang kamu miliki hanya Ibu, dan yang Ibu miliki hanya kamu," ucap Ervita dengan lirih.

__ADS_1


Ketika menenangkan Indira yang nyatanya masih menangis hingga wajah bayi berusia 3 bulan itu sampai memerah. Ervita turut menangis di sana.


"Sudah ya Nak ... Indira punya Bunda. Bunda akan selalu sayang sama Indira. Memiliki orang tua tunggal tidak apa-apa, Nak ...."


Jika sekarang Ervita turut menangis itu bukan lagi karena sakit di masa lalu, tetapi karena Indira yang rewel. Sebagai seorang Ibu, dia ada kalanya bingung dan jadi mellow melihat anaknya menangis seperti ini. Ervita tergugu pilu di sana, mungkinkah Indira merasakan penolakan yang begitu besar dari Ayah biologisnya sendiri. Walau bayi belum bisa berbicara, tetapi dia bisa begitu sensitif.


Penolakan dari orang tuanya sendiri membuat bayi merasakan perasaan tidak nyaman akubat penolakan yang akhirnya tersambung ke otak bayi sehingga bayi bisa tahu bahwa kehadirannya ditolak. Bahkan dalam ilmu psikologis, saat lahir bayi akan menjadi pribadi yang inferior, tidak percaya diri, merasa rendah diri, merasa tidak diharapkan, serta memiliki kendala emosi. Perasaan tertolak ini bahkan bisa dirasakan bayi sejak berada di dalam kandungan.


Pertama Ervita menenangkan dirinya terlebih dahulu. Ya, Ervita menyeka air matanya. Untuk menenangkan buah hatinya, dia harus menenangkan dirinya terlebih dahulu, dan kemudian Ervita memberikan afimasi positif kepada bayinya.


"Indira Sayang ... dengarkan Bunda yah ... walau tidak ada yang mengakui Indira. Walau ayah biologis kamu sendiri menolak kamu, jangan sedih dan menangis ya Nak ... ada Bunda yang sejak kamu berada di dalam kandungan Bunda, Bunda tidak pernah menolak kamu. Bunda selalu menyayangi kamu dengan kasih yang tulus. Indira pasti bisa merasakan bahwa Bunda sangat sayang kepada Indira kan? Jadi anak yang kuat ya Indira. Ingatlah, kasih Bunda untuk kamu sepanjang masa, sepanjang usia Bunda."


Mengucapkan afirmasi positif yang pasti akan didengar oleh bayi dan juga tersalurkan sampai ke otak bayi. Ada tangan Ervita yang mengusapi bagian kening, menggenggam tangan Indira yang mungil, dan menepuki perlahan pantatnya. Lantas Ervita menyenandungkan lagu untuk Indira.


Kasih Bunda kepada Indira ....


Tak Terhingga sepanjang masa ....


Hanya memberi tak harap kembali ....


Bagai sang surya menyinari dunia ....


Beberapa kali lagu itu Ervita senandungkan dengan lirih, hingga Indira bisa perlahan menjadi tenang. Lantas, Indira mau untuk meminum ASI-nya. Begitu Indira sudah tenang, Ervita yang tergugu tanpa isakan. Begitu perih rasanya. Menjadi orang tua tunggal bukan hanya mengajarkan Ervita untuk berjuang dan bertahan, tetapi juga menekan rasa sakit di hatinya. Menenangkan dirinya sendiri sebelum menenangkan perasaan bayi kecilnya.


"Kita kuat bersama ya Indira ... saling memiliki satu sama lain. Bunda sayang kamu."


Dengan suara yang bergetar dan begitu lirih, Ervita kembali menyenandungkan lagu Kasih Ibu itu. Sebuah lagu yang mengungkapkan bagaimana perasaannya dan kasih sayang yang dia miliki untuk Indira. Kasih sayang yang tidak akan pernah terbagi. Kasih sayang yang selalu terbit layaknya surya di pagi hari, surya yang menyapa dunia dengan kehangatannya.

__ADS_1


Ketika Ervita menenangkan Indira, di balik rumah ada seorang pemuda yang tengah menurunkan batik dari mobil pick up dan merasakan hatinya bergetar. Suara yang lirih berpadu dengan isakan tangis membuat pemuda itu merasakan gejolak di hatinya. Siapakah pemuda yang mendengar suara Ervita yang tengah menenangkan Indira itu?


__ADS_2