
“Hei, Ndu … Pandu,” sapa seorang wanita yang cantik. Begitu cantiknya wanita berkulit putih itu dengan rambutnya yang panjang terurai, midi dress yang dia kenakan terlihat menunjukkan bahwa dia wanita feminim yang begitu cantik.
“Sudah lima tahun ya, Ndu … kamu apa kabar?” tanya wanita itu lagi.
Ervita hanya bisa melirik suaminya yang kala itu benar-benar diam dan menunjukkan keengganan ketika melihat wanita itu. Ervita pun sampai bertanya-tanya dalam hati, siapa sebenarnya wanita cantik yang sekarang berdiri di hadapannya itu?
“Kamu masih dendam sama aku, Ndu … ya ampun, walau sudah lima tahun berlalu dan kamu masih tidak mengajakku berbicara,” ucap sang wanita yang kala itu berdiri kurang lebih hanya tiga meter di hadapan Pandu.
Pandangan wanita cantik itu kemudian beralih ke Indira yang digendong Pandu dan juga kepada Ervita yang sekarang tangannya sedang digenggam Pandu. Wanita itu pun tersenyum tipis dan melihat kedua tangan yang saling menggenggam satu sama lain.
“Sudah peningkatan ya, Ndu … kamu sudah berani menggandeng tangan cewek,” balas sang wanita.
Dari ucapan yang disampaikan wanita itu, Ervita teringat dengan cerita Pandu di masa lalu, mungkinkah bahwa cewek cantik di hadapannya sekarang adalah mantan pacar Pandu dulu. Pacar yang menyakiti hati Pandu di kaki Gunung Andong kala itu, ya lima tahun yang lalu.
“Hei, kenalin … aku Lina, mantan pacarnya Pandu,” ucap wanita itu dengan begitu percaya diri memperkenalkan dirinya sebagai mantan pacar Pandu.
Akhirnya Ervita pun mendapatkan jawaban mengenai siapa cewek cantik di hadapannya itu. Pandu yang semula diam, akhirnya pun berbicara, “Hmm, dia istri dan anakku,” balas Pandu. Kemudian Pandu melirik ke Ervita, “Dinda, mau ke mana lagi yuk?” tanyanya.
Ketika Pandu berbicara dengan Ervita dan memanggilnya dengan panggilan sayang dan tutur kata yang lembut membuat Lina kembali tersenyum menatap Pandu. “Aku tidak mengira kamu bisa bersikap semanis ini loh, Ndu … aku pikir dulu kamu pria cemen yang tidak berani menyentuh wanita. Itu semua karena minimnya kontak fisik di antara kita. Ternyata kamu bisa menikah dan memiliki anak juga. Hebat kamu, Ndu,” balasnya.
Bahkan kala itu Lina dengan terang-terangan menyebut Pandu adalah pria cemen yang tidak berani menyentuh wanita karena memang dulu Pandu nyaris tak pernah menyentuh Lina yang sudah berpacaran dengannya selama satu setengah tahun. Dicibir demikian, Pandu merasa biasa saja, dan kemudian menatap Lina perlahan.
__ADS_1
“Bukannya aku tidak mau menyentuh, tetapi aku baru mau menyentuh wanita yang sudah halal bagiku,” balasnya.
“Yayah es krim,” pinta Indira yang melihat anak-anak kecil membawa es krim, agaknya Indi juga menginginkan es krim.
Pandu pun tersenyum melihat Indira, “Yuk, Ayah belikan es krim ya buat Indi,” balasnya.
Kemudian pandu memberikan anggukan kepada Ervita, “Yuk, Nda … kita beli es krim,” balasnya. Pandu berjalan perlahan hingga akhirnya hendak melewati Lina yang berdiri tidak jauh dari darinya.
“Duluan, Lin … bahagia ya bersama Roni,” balas Pandu.
Kenangan terakhir yang Pandu tahu bahwa Lina kala itu bercinta di kaki Gunung Andong dengan Roni. Sehingga ucapan itulah yang keluar dari mulut Pandu. Pria itu pun dengan mantap menggandeng tangan Ervita dan mengajaknya pergi dari sana.
“Kamu baik-baik saja, Mas?” tanya Ervita perlahan.
“Tadi, kamu dikatain cemen loh. Kamu tidak sakit hati?” tanya Ervita. Seorang pria dikatai cemen adalah bentuk penghinaan dan direndahkan. Oleh karena itu, Ervita bertanya apakah suaminya itu sakit hati.
“Ndaklah, Dinda … semua hanya masa lalu. Aku memang tidak menyentuhnya, Nda. Kamu wanita pertama yang aku sentuh,” balas Pandu. “Aku bukan pria cemen kan bagimu?” tanya Pandu kemudian.
Dengan cepat Ervita menggelengkan kepalanya, “Enggak … kamu adalah pria hebat, pria yang baik hati, dan juga dewasa. Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu. Pria yang bisa menjaga wanitanya, tidak akan merusaknya. Di zaman sekarang, kapan bisa mendapatkan pria seperti itu,” balas Ervita lagi.
“Udah mujinya, Dinda … aku nanti bisa besar kepala loh. Mau es krim?” tanya Pandu kemudian.
__ADS_1
“Buat Indi saja … aku beliin minum yah, Mas … Mas Kanda pasti capek juga panas-panas gini gendongin Indi,” ucap Ervita.
“Boleh Dinda … air mineral saja. Aku belikan es krim untuk Indi dulu yah? Jangan lama-lama, nanti aku bisa ngambek kalau kamunya kelamaan,” balas Pandu dengan terkekeh geli.
Akhirnya Ervita itu mencari penjual air mineral dan ingin membelikan air mineral untuk suaminya itu. Ervita tahu cuaca hari ini begitu terik dan juga Pandu yang sejak tadi banyak menggendong Indira, sudah pasti membuatnya capek dan juga lelah. Untuk itu, Ervita yang berinisiatif membelikan air minum untuk suaminya.
Sayangnya, ketika Ervita lepas sejenak dari Pandu dan membeli air minum, dia berpapasan lagi dengan Lina di sana. Kemudian Lina, tersenyum sinus dan memperhatikan penampilan Ervita yang begitu biasa. Ya, Ervita hanya mengenakan celana jeans, kemeja, dan juga flat shoes, terlihat Ervita begitu sederhana, dari penampilan saja Ervita kalah jauh darinya.
“Eh, ketemu lagi sama istrinya Pandu,” ucap Lina.
Ervita pun menganggukkan kepalanya sebatas menyapa, tidak ingin menanggapi terlalu banyak juga.
“Tidak kukira yah, istrinya putra juragan batik begitu sederhana. Sederhana banget malahan,” ucap Lina dengan pandangan yang terkesan merendahkan Ervita.
Akan tetapi, Ervita hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, “Iya Mbak Lina … harta benda, bahkan busana yang mahal itu sifatnya sementara. Toh, Mas Pandu sendiri walau anaknya orang kaya juga sangat sederhana,” balasnya.
“Sederhana bukan berarti yang dia pakai murahan,” balas Lina dengan terkesan sewot.
Ervita pun kembali tersenyum di sana, “Cuma, aku tidak pernah melihat itu … yang aku lihat hati Mas Pandu yang begitu baik dan juga mencintai aku. Itu jauh dari apa pun yang dia punya sekarang,” balas Ervita.
“Ishs, omong kosong … mana ada wanita zaman sekarang berpikiran kayak gitu.”
__ADS_1
Ervita pun tersenyum, “Ya sudah, saya duluan ya Mbak Lina … itu suami sudah nungguin, takut saya hilang,” balasnya.
Lina pun memincingkan matanya melihat Ervita yang begitu berani membalas ucapannya. Dia pikir Ervita adalah wanita yang lemah dan mudah terintimidasi, rupanya tidak. Ervita dengan ucapannya yang sopan berani untuk membalas ucapan Lina. Tidak harus dengan ucapan yang menyala-nyala untuk membalas lawan. Sementara Ervita sendiri yang dia lihat dari Pandu sejak dulu adalah hatinya, dan bukan hartanya. Di zaman sekarang, begitu sukar mendapatkan pria yang menghargai wanita dan juga melindungi wanita. Ervita sangat tahu dengan cela yang dia bawa, tetapi nyatanya Pandu justru adalah pria yang selama ini melindunginya tanpa banyak berkata-kata.