Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Untung Tepat Waktu


__ADS_3

Nafas yang masih menderu dan juga tubuh yang saling memeluk satu sama lain, Ervita memulihkan kembali kesadarannya. Selama menjadi istrinya Pandu, baru kali ini mereka bercinta di pagi hari menjelang siang seperti siang seperti ini. Sensasinya memang luar biasa, tetapi juga begitu deg-degan rasanya.


"I Love U, Dinda," ucap Pandu dengan berguling ke sisi kanan Ervita dan kemudian menarik selimutnya untuk mengcover tubuh keduanya dalam posisi polos mutlak.


"Nakal banget sih Mas," balas Ervita dengan merapikan rambutnya yang berantakan dan juga menstabilkan nafasnya yang masih terengah-engah.


"Biar nanti lahirannya lebih lancar, Nda," balas Pandu.


Sebenarnya yang lebih diutamakan oleh Pandu adalah istrinya itu melahirkan lebih lancar. Jika bisa pembukaan satu hingga sepuluh tidak akan terlalu lama, sehingga Ervita tidak akan mengalami sakit bersaling terlalu lama.


"Mandi yuk, Mas ... bersih-bersih dulu. Takut kalau ada yang datang ke rumah," balas Ervita.


"Barengan yah," balas Pandu.


Seolah-olah memang Pandu tidak ingin melewatkan waktu berdekatan dengan istrinya. Toh, mumpung di rumah juga hanya berdua. Sehingga memang, Pandu ingin memanfaatkan waktu yang ada saat ini.


"Cepat aja ya Mas ... jangan main-main lagi," balas Ervita.


Pandu pun terkekeh perlahan. "Iya-iya, Dinda ... kan sapa tahu, beberapa hari lagi sudah bersalin. Kan aku puasa panjang kan?" tanya Pandu.


"Iya, dua bulan hingga tiga bulan mungkin Mas," balas Ervita.


"Dulu Indi berapa lama, Nda?" tanya Pandu.


"Lama apanya? Nifasnya yah?" tanya Ervita untuk mempertegas arti pertanyaan Pandu itu.


"Iya, Dinda," balasnya.


"50 hari tuh, Mas," balas Ervita.

__ADS_1


Pandu pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Lama juga yah," balasnya.


"Suaminya biar belajar bersabar, Mas," balas Ervita.


Pandu kembali tertawa. "Pasti sabar ... untuk kamu, akau akan sangat sabar, Dinda," balas Pandu.


Kini keduanya sama-sama membersihkan diri di bawah guyuran air shower. Tampak Pandu membantu Ervita untuk menggosok punggungnya dengan shower puff dan semerbak sabun cair yang dibuat dari susu domba itu yang kabarnya bisa mencerahkan kulit. Selain aroma harum dan lembut dari sabun itu memang begitu disukai Ervita selama hamil ini.


Hanya dua puluh menit berlalu, keduanya sudah bersih dan segar. Pandu pun memberikan waktu untuk Ervita mengeringkan rambutnya yang basah, dan juga Pandu justru yang memunguti pakaian mereka yang berserakan di atas ranjang.


"Mas, biar aku saja," ucap Ervita.


"Tidak apa-apa, Nda ... sesekali aku yang bersihin kan tidak apa-apa," balas Pandu.


"Malahan repotin kamu loh, Mas," balas Ervita.


Setelahnya, Pandu berniat mengajak Ervita ke rumah orang tuanya karena memang baru liburan. Sekalian menunggui Indi yang sedang bermain dengan Lintang. Namun, belum sampai mereka sampai di sana, sudah terdengar suara gerbang rumahnya terbuka dan ketukan di pintu. Kali ini Ervita yang berdiri lebih dulu dan hendak membukakan pintu.


Ervita pun terkejut, karena ada ibu mertuanya yang sudah berdiri di depan pintu. "Loh, Ibu," sapa Ervita dengan bingung. Sebenarnya Ervita juga malu karena dia kelihatan sekali usai mandi keramas, dengan rambutnya yang masih setengah basah.


"Baru selesai mandi, Vi?" tanyanya.


"Hehehe, iya, Bu," balas Ervita dengan tersenyum malu.


"Ibu buatin Kare Ayam ... kamu sudah masak belum?" tanya Bu Tari.


"Sudah masak sih, Bu ... tadi membuat Sayur Bening Bayam dan Gambas, Bu," jawabnya.


"Buat tambah lauk yah," balas Bu Tari.

__ADS_1


Ervita pun mempersikan ibu mertuanya untuk duduk. Sementara dia menaruh Kare Ayam itu ke dapur terlebih dahulu. Untung saja, dia sedang tidak bergelut dengan suaminya, dan sudah selesai. Jika masih memadu kasih, pastilah akan kacau balau suasananya.


"Sebenarnya tadi kami mau ke rumah loh, Bu," balas Ervita.


Bu Tari pun sedikit tertawa. "Ibu tadi telepon Pandu, tapi enggak dijawab. Ya sudah, Ibu saja yang ke sini," jawabnya.


Ya Tuhan, rupanya memang Ibu mertuanya itu sudah menelpon Pandu. Namun, teleponnya tidak diangkat. Pasti handphone suaminya itu dalam mode silent. Kemudian Pandu keluar dari kamarnya, dan juga kaget melihat ibunya.


"Bu," sapanya dengan duduk di samping sang ibu.


"Ibu tadi telepon kamu, tapi tidak dijawab," ucap Bu Tari.


"Handphonenya ke silent, Bu ... maaf," balasnya.


Bu Tari pun menganggukkan kepalanya. "Iya, tidak apa-apa. Masih muda juga kan yah ... masih semangat," balas Bu Tari.


Tidak menjawab, Pandu hanya mengulum senyuman di sudut bibirnya. Malu juga. Namun, semuanya juga sudah terlanjur.


"Belum ada tanda apa-apa, Vi?" tanya Bu Tari kemudian kepada Ervita yang menuju ke ruang tamu dengan membuatkan Teh hangat untuk ibu mertuanya dan untuk suaminya.


"Belum itu, Bu ... sudah mulai deg-degan, Bu. Kalau malam, kadang bingung karena begah, Bu," balas Ervita.


Bu Tari pun menganggukkan kepalanya. "Iya, karena perutnya semakin membuncit, gerak bayinya semakin banyak, tapi ruang geraknya terbatas," balas Bu Tari.


"Ya doakan nggih, Bu," balas Ervita.


"Pasti, Vi ... kalau sewaktu-waktu kerasa dan Pandu sedang kerja, bilang ke Ibu yah. Kan selama ini Ibu ada di rumah selama Pertiwi punya bayi," balas Bu Tari.


Ervita merasa lega. Walau sempat dicandai oleh Ibu mertuanya. Namun, itu adalah tanda sayang seorang ibu kepada menantunya. Selain itu, jarak rumahnya dengan ibu mertuanya yang dekat. Jika sewaktu-waktu merasakan tanda persalinan, Ervita tidak perlu khawatir.

__ADS_1


__ADS_2