
Dengan menggandeng tangan Indi, Pandu berjalan dari pelataran candi menuju ke Candi Siwa dengan Indi. Walau matahari bersinar terik, tetapi keduanya berjalan dan menaiki anak tangga demi anak tangga di Candi Siwa. Masuk ke dalam dan Pandu menunjukkan patung Dewi Durga atau yang oleh masyarakat sekitar disebut Roro Jonggrang. Walau pada hakikatnya Dewi Durga bukanlah Roro Jonggrang.
“Naiknya tinggi Yayah,” ucap Indi dengan menaiki anak tangga di candi itu.
“Iya … hati-hati, Nak … capek enggak? Kalau capek Yayah gendong,” balas Pandu.
Indira kecil pun tampak menggelengkan kepalanya perlahan, “Ndak Yah … Didi bisa kok. Ini namanya Candi apa Yah?” tanyanya.
"Ini namanya Candi Siwa, Sayang ... ada tiga candi utama di sini Brahma, Wisnu, dan Siwa, dan tiga candi di depannya itu adalah candi kendaraan atau tunggangan para dewa ada Hamsa, Garuda, dan Nandi. Nah, itu adalah patung Dewi Durga," tunjuk Pandu pada patung besar yang ada di dalam candi.
"Yayah, takut Yayah ... takut," ucap Indi yang merasa takut ketika melihat patung Durga yang berdiri besar di dalam candi siwa.
Pandu pun segera menggendong Indira dan mengusapi kepalanya, "Tidak usah takut ... kan ini cuma patung, dari batu. Indi kan punya Ayah. Jadi, mau keluar?" tanyanya.
"He-em, mau keluar Yayah," balasnya.
Tampak Indi seolah menyembunyikan wajahnya di dada Ayahnya itu. Pandu pun segera mengajak Indira untuk keluar dari dalam candi dan kembali menemui Bundanya yang menunggu di bawah.
"Sudah tidak usah menangis ... kita sudah keluar kok," ucap Pandu yang memang sekarang sudah keluar dari dalam candi.
Perlahan-lahan, Indi menarik wajahnya dari dada Ayahnya, dan kemudian melihat suasana yang sudah tidak gelap lagi. Tangisannya reda, dan juga dia sudah ingin berjalan lagi. Sehinggga dengan hati-hati, Pandu menurunkan Indi dari gendongannya.
"Semua candi ini di dalamnya ada patungnya ya Yah?"
"Ada, cuma yang patungnya ada empat cuma di Candi Siwa yang kita masuki tadi. Kenapa Indi takut?" tanya Pandu kemudian kepada anaknya.
"Iya, gelap Yayah ... patungnya yang gede banget, seram ... takut," balasnya.
Pandu pun tersenyum, itu adalah respons alami anak-anak ketika memasuki candi dan melihat patung-patung yang ada di sana. Dia teringat dengan Lintang yang dulu juga menangis waktu pertama kali diajak masuk ke dalam badan candi. Kala itu, Lintang masih berusia 2,5 tahun dan Pandu juga yang menggendong keponakannya itu untuk keluar dari candi Siwa.
"Mau ke tempatnya Bunda?" tanya Pandu kemudian.
__ADS_1
"Iya, mau ...."
Akhirnya, Pandu pun berjalan dan hendak menuju ke Ervita yang menunggunya. Akan tetapi, baru beberapa langkah Pandu berjalan ada orang yang memegang tangan Pandu dan menghentikan langkahnya.
"Pandu, kita bertemu lagi di sini," suara yang sudah pasti Pandu kenali.
Indi pun melihat seorang wanita yang kini menggenggam tangan Ayah di sana. Namun, Pandu segera menghempaskan tangan itu, dan genggaman tangan Indi di tangan Ayahnya semakin erat.
"Tidak usah sok marah kayak gitu, Ndu ... aku tahu, bahwa kamu tidak marah kepadaku."
"Yayah, ayo ke ke tempatnya Nda," ajak Indi yang sudah ingin ke tempat Bundanya.
Pandu menghiraukan wanita yang berdiri di hadapannya, dan menganggukkan kepalanya kepada Indi, "Iya, ayo ke tempatnya Nda," balasnya.
Kali ini Pandu benar-benar abai dan melewati wanita itu begitu saja. Namun, di luar prediksi, wanita itu justru mengikuti Pandu. Kian dekat Pandu dan Indi ke arah Ervita, kian bisa juga bagi Ervita untuk melihat siapa wanita yang berjalan di sisi suaminya.
Sebenarnya, Ervita merasa cemburu, tapi dia memilih untuk tenang. Kecemburuan justru bisa membuat semuanya runyam, terutama dengan kondisinya yang tengah hamil. Dia memilih menunggu dan mendengarkan penjelasan Pandu.
"Iya, Bunda menunggu kamu di sini ... jadi, lihat apa tadi di dalam candi?" tanya Ervita yang kini hanya menatap ke Indi dan enggan menangkap objek lain di sekitaran matanya.
"Candi siwa, Nda ... ada patung besar banget, Didi takut," balasnya.
"Nda, maaf," ucap Pandu dengan menghela nafas.
"Oh, kamu sama istrimu ya Ndu ... istri yang sebenarnya wanita tidak bener ini kan?"
Wanita itu kembali berbicara dan kini justru merendahkan Ervita sebagai wanita yang tidak benar. Ervita memilih diam dan tidak berkomentar. Dia mengalihkan perhatian dengan terus mengajak Indi berbicara.
"Nda, Didi main di tempat duduk itu boleh?" tanyanya.
"Boleh, Bunda tunggu di sini yah," balas Ervita.
__ADS_1
Wanita itu masih berdiri dengan tangan yang berseidekap di depan dada. Kemudian mulai memperhatikan penampilan Ervita dari ujung rambut dari ujung kaki, lantas wanita itu tersenyum sinis di sana.
"Aku kira kamu ke Prambanan karena kangen dengan kenangan kita dulu," ucap wanita itu lagi.
"Lebih baik kamu pergi, Lin ... tidak usah meracau yang tidak-tidak," balas Pandu dengan tegas.
Enggan pergi, nyatanya Lina justru tersenyum sinis menatap Pandu, "Untuk apa menikahi wanita yang bisa memiliki anak di luar nikah, Ndu? Sorry Ndu ... aku sudah tahu semuanya. Tidak susah untuk mencari tahu informasi di zaman sekarang."
Pandu menghela nafas dan menatap Lina di sana, "Kenapa wanita justru merendahkan wanita yang lain? Kamu kenapa sih? Sudahlah Lin, sebaiknya kamu pergi. Ingat, semuanya sudah usai, Lin. Antara aku, kamu, dan Roni sudah selesai di kaki Gunung Andong waktu itu."
Pandu menjawab tegas dan meminta Lina untuk pergi. Bagi Pandu semuanya sudah selesai.
"Tidak ada perasaan untukku lagi di hatimu?" tanya Lina.
"Tidak ada."
"Lalu, kenapa kamu ke sini? Kamu tahu, Prambanan menjadi tempat yang berharga untuk kita kan ... di sini, kamu dulu nembak aku, Pandu," ucap Lina.
Ketika mendengar itu, Ervita memilih diam dan tidak ingin terlibat bagaimana pun semua orang memiliki masa lalu. Termasuk dengan Ervita yang memiliki masa lalu yang tidak baik. Jika tempat ini hanya sekadar pengakuan cinta, maka ya tidak apa-apa. Candi ini saja dibangun karena cinta seorang Raja kepada Permaisurinya. Jadi, tidak masalah untuk Ervita.
"Aku ke sini karena anakku yang memintaku, bukan karena kamu," balas Pandu.
"Dia bukan anak kamu, Ndu," sahut Lina dengan cepat.
Pandu menggelengkan kepalanya, "Dia anakku ... dia anak yang aku sayangi."
Merasa jika berada di sini tidak akan menyelesaikan masalah, Pandu menatap Ervita yang ada di sampingnya, tangannya terulur dan menggenggam tangan Ervita di sana.
"Dinda, ayo kita pergi saja yah ... kita ajak Indi mengunjungi tempat yang lainnya," ajaknya kepada Ervita.
"Hmm, iya," balas Ervita.
__ADS_1
Memilih pergi daripada keadaan semakin runyam. Toh, lagipula di sini Pandu sedang tidak mengingat kenangan masa lalunya. Dia ke Prambanan murni untuk mengajak Indi jalan-jalan mumpung dirinya tengah liburan tahun baru.