Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Upacara Tujuh Bulanan


__ADS_3

Kali ini kediaman keluarga Hadinata kembali disibukkan dengan dua acara yang digelar sekaligus yaitu Aqiqah untuk Langit yang baru saja lahir dan juga acara Mitoni atau tujuh bulanan yang dilangsungkan hari itu juga. Di Indonesia sendiri, ada beberapa tradisi dari berbagai adat dan budaya masing-masing. Salah satunya dalam tradisi Jawa ada acara tujuh bulanan yang sering disebut dengan Mitoni.


Mitoni dalam bahasa Jawa berasal dari kata 'am' dan 'pitu' yang berarti adalah hitungan yang ke tujuh. Oleh karena itu, Mitoni adalah upacara yang dilakukan pada hitungan ketujuh bulan kehamilan. Tujuan dilakukannya upacara ini adalah memohon kelancaran dan juga keselamatan untuk sang ibu dan bayinya sampai hari persalinan nanti. 


Ervita, yang kini sudah dihias dengan Kebaya berwarna ungu yang lembut dan bersanggul. Ibu hamil itu tampil begitu cantik. Dengan perut yang kian membuncit justru kian membuat Ervita kian cantik saja.


"Cantik sekali tow, Vi ... jangan-jangan cucunya Ibu kali ini cewek," ucap Bu Tari yang tampak memuji menantunya itu.


Hanya sekadar mitos yang lama beredar, biasanya ketika ibu hamil tampak cantik dan bersih ketika hamil menandakan bayinya berjenis kelamin perempuan. Sehingga Bu Tari pun menebak bahwa cucunya kali ini adalah cewek.


"Ervi dan Mas Pandu tidak memilih, Bu ... sedikasihnya sama Allah," balas Ervi.


Bu Sri yang ada di sana pun turut menganggukkan kepalanya. "Iya, kamu malahan cantik, Vi ... bersih. Mungkin adiknya Indi ini cewek," balas Bu Sri.


Sekadar informasi, hanya Bu Sri dan Bapak Agus yang datang ke Jogja. Sementara Mei dan Tanto berada di rumah, mereka tengah menunggu dan bersiap menanti datangnya hari persalinan yang kian mendekat.


"Cewek lagi tidak apa-apa kok, Bu. Mas Pandu juga tidak keberatan kalau memang cewek lagi," balas Ervita. 


Setidaknya Ervita hanya ingin menyampaikan kepada ibunya dan ibu mertuanya bahwa memiliki anak cewek lagi tidak masalah. Sebab, dari semula suaminya sudah mengatakan bahwa bayinya laki-laki atau perempuan sama saja. Itu juga yang membuat Ervita tidak memiliki beban selama hamil kali ini. 

__ADS_1


"Ya sudah yuk keluar. Kita bawa Ervita ke luar ya Bu. Sudah mau mulai acaranya," ucap Bu Tari. 


"Nggih, Bu ... monggo," balas Bu Sri dalam bahasa Jawa bahwa dia akan mengikuti apa yang dilakukan Bu Tari untuk membawa keluar Ervita dari kamar. 


Didampingi oleh Bu Tari di sisi kiri dan Bu Sri di sisi kanan, Ervita keluar dari kamar Pandu di kediaman orang tuanya. Wanita hamil itu berjalan menuju ke Pendopo di sana sudah ada suaminya yang duduk dan mengenakan Beskap berwarna ungu. Pandangan mata pria itu sepenuhnya hanya tertuju kepada Ervita. Di matanya, istrinya itu begitu memukau. Mengenakan kebaya dengan perutnya yang membuncit justru tidak mengurangi kecantikan istrinya itu. 


Acara pertama pun dimulai, dan calon ibu dipersilakan melakukan sungkeman kepada suaminya, sang calon ayah. Oleh karena itu, sekarang Ervita bersujud di depan kaki suaminya dengan posisi duduk berlutut. 


"Untuk Mas Pandu suamiku dan ayah dari anakku. Hari ini, aku memohon maaf kepada Mas Pandu untuk kesalahan yang pernah aku lakukan sengaja maupun tidak disengaja. Di dalam rahimku, bersemi buah hati kita berdua. Semoga hari-hari yang terus berjalan semakin membuat kita rukun sebagai pasangan dan orang tua untuk Indi dan adiknya nanti. Doakan istrimu untuk bisa menjalani kehamilan penuh syukur, dan bersalin nanti dengan selamat. Terima kasih untuk cinta dan kasih sayang dari Mas Pandu untuk kami," ucap Ervita. 


Kemudian dia bersujud dan mendekat ke suaminya. Mencium punggung tangan sang suami sebagai bentuk rasa hormat, tunduk, dan patuh kepada sang suami. Pun Pandu yang membalas dengan memeluk dan mengecup kening istrinya itu. 


Satu kalimat itu Pandu bisikkan di telinga Ervita. Rasa cinta yang dia miliki cukup menjadi bukti bahwa dia mencintai Ervita dengan tulus dan apa adanya. Cinta yang dia miliki akan memampukan Ervita menjalani hari kehamilan, persalinan, bahkan pasca persalinan nanti. 


Setelahnya, keduanya sama-sama melakukan sungkeman kepada kedua orang tua. Memohon doa dan restu dari Bapak dan Ibu supaya ibu dan bayi selamat saat persalinan nanti. Sungkeman selalu saja terasa haru, tak jarang membuat berurai air mata. Di sana pun demikian. Mereka berurai air mata, tetapi kali ini bukan air mata kesedihan. Melainkan air mata bahagia. 


Usai melakukan sungkeman sekarang dilanjutkan dengan prosesi siraman. Di mana Ervita akan dimandikan dengan air yang diambil dari tujuh sumber mata air. Orang tua, mertua, suami, hingga Pertiwi dan Damar pun turut menyirami Ervita. Tujuan dari prosesi itu adalah pembersihan diri untuk sang ibu dan bayi. 


Begitu siraman usai, Ervita dibersihkan dan digantikan dengan kebaya yang baru. Masih dengan warna ungu muda yang lembut. Wanita itu kembali dirias. 

__ADS_1


"Dingin?" tanya Ibunya. 


"Iya, Bu ... dingin," balas Ervita. 


"Tinggal beberapa prosesi lagi sudah selesai kok," balas Bu Sri. 


Hingga akhirnya Ervita kini kembali dibawa ke Pendopo. Sementara suaminya akan melakukan prosesi pecah telor. Telur yang digunakan adalah sebutir telur ayam kampung yang ditempelkan terlebih dahulu ke dahi dan perut calon ibu, lalu dipecahkan ke lantai. Prosesi ini bermaksud agar persalinan nantinya lancar.


Ketika Pandu menempelkan telor terlebih dahulu ke dahi dan perut Ervita, keduanya saling melemparkan senyuman. Rasanya lucu, tapi memang inilah tradisi Jawa yang mereka lakukan. 


Prosesi dengan maksud supaya persalinan lancar bukan sekadar pecah telor, tetapi juga memutus janur dan memecahkan kelapa. 


Bahkan ada ganti busana di sana. Di mana para hadirin yang datang mengatakan, "cocok" untuk berbagai dengan jenis kain batik yang dikenakan kepada Ervita. Batik Sidomukti dengan makna kebahagiaan, Batik Sidoluhur dengan makna kemuliaan, Kain Semen Rama dengan makna agar cinta kedua orang tua bertahan selamanya, Batik Udan Iris dengan makna agar kehadiran sang bayi bermanfaat untuk orang sekitar, Batik Cakar Ayam dengan makna kemandirian, dan terakhir Kain Lurik dengan motif Lasem yang bermakna kesederhanaan. 


Dalam setiap corak atau motif batik di Jawa sendiri penuh dengan makna. Semuanya itu lakukan Ervita dan Pandu supaya budaya itu tetap ada dan tidak tergerus zaman. 


Sebagai prosesi terakhir Ervita dan Pandu akan berjualan dawet, dan Pandu yang memayungi istrinya. Satu demi satu prosesi acara tujuh bulanan atau mitoni pun dilakukan oleh Ervita dan Pandu. 


Walau prosesinya banyak, tapi mereka sekaligus belajar dengan tradisi mereka. Zaman boleh berganti, tapi tradisi itu dibudayakan, diuri-uri, supaya tidak tergerus hingga akhirnya punah begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2