Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Perhatian dari Ibu Mertua


__ADS_3

Memang baru empat hari usai Ervita melahirkan, sehingga Pandu masih memilih cuti dari pekerjaannya. Lagipula, kantor konsultasi desain interior adalah miliknya sendiri, sehingga Pandu bisa mengerjakan dari rumah. Fokusnya sekarang menemani Ervita dulu sampai pulih. Selain itu, Pandu di kala senggang juga menerima pesanan batik secara online. Pria itu melakukan packing sendiri untuk pembelian batik secara online.


"Yah, baru ngapain Yayah?" tanya Indi yang menyusul Ayahnya ke pendopo.


"Baru bekerja, Ndi ... packing batik," jawab Pandu.


"Ini kan pekerjaannya, Nda ... kok Yayah yang kerjakan?" tanya Indi.


"Iya, kan Ayah bantuin Bunda. Biar Bunda bisa memberikan ASI untuk Adik Irene. Selain itu, Bunda juga biar sehat," balasnya lagi.


Indi yang mendengarkan jawaban dari Ayahnya pun menganggukkan kepalanya. Memang sekarang Bundanya harus siaga ketika Adiknya menangis dan juga meminta ASI. Selain itu, Bundanya untuk posisi dari duduk dan kemudian berdiri terkadang mendesis karena terasa sakit.


"Nda nanti sakitnya lama ya Yah?" tanya Indi.


"Ya, tergantung, Nak ... bisa juga cepat pulih. Makanya, Yayah bantuin Bunda, biar Ndanya kita bisa segera sehat," balas Pandu.


Akhirnya, siang itu Pandu memberi waktu untuk Ervita beristirahat siang dengan Irene. Sementara dia dan Indi berada di Pendopo untuk mempacking setiap pesanan yang masuk. Selain itu, Pandu juga yang menemani Indi bermain. Setidaknya ini adalah wujud supportnya untuk istri tercinta supaya bisa meng-ASI-hi dengan lancar. Sebab, keberhasilan menyusui juga disupport oleh seorang suami.


Kurang lebih satu setengah jam berlalu, dan sekarang Ervita terbangun dan kemudian mencari keberadaan suaminya. Rupanya suaminya ada di Pendopo. Oleh karena itu, Ervita pun menyusul ke Pendopo depan.


"Ayah, di sini sama Indi yah?" tanyanya.


"Iya, Nda ... di sini sama Indi kok. Tadi abis ada kurir yang datang untuk mengambil pesanan batik. Kamu sudah bangun?" tanyanya.


"Sudah Mas ... kok aku tidak dibangunin. Kan aku bisa packing batiknya," balas Ervita.

__ADS_1


"Nda, katanya Yayah ... Nda itu masih sakit. Jadi, Nda istirahat dulu saja, biar bisa memberikan ASI untuk Adik bayi," balas Indi.


Di sana Ervita tersenyum. Suasana yang berbanding terbalik dengan beberapa tahun lalu di mana dia merawat dirinya sendiri usai bersalin. Bahkan, Ervita juga mengalami baby blues kala itu karena mengurus bayinya sendiri, tidak ada yang membantunya sama sekali.


Sekarang Pandu benar-benar merawat dan memperhatikannya. Bahkan Pandu membiarkannya tidur siang sebentar, dan mengajak Indi bermain. Sungguh, Ervita merasa terharu dengan pengertian dan perhatian besar yang diberikan oleh suaminya itu.


Hingga akhirnya datanglah Bu Tari bersama dengan Lintang ke kediaman Pandu dan Ervita. Sang Ibu mertua datang dan membawakan buah tangan untuk anak-anaknya.


"Ervi," panggil Bu Tari kepada menantunya itu.


"Nggih, Bu ... ada apa?" balasnya.


"Ibu buatin Jamu Kunyit dan Sirih. Untuk membersihkan usai bersalin, selain itu biar tidak terlalu bau anyir," ucap Bu Tari.


Jamu adalah minuman tradisional yang terbuat dari berbagai rempah. Salah satu jamu yang terkenal terbuat dari kunyit yang mengandung protein, lemak, curcumin, vitamin C, kalium, dan magnesium yang baik untuk ibu di masa nifas. Selain itu, kunyit juga diharapkan dapat memulihkan sakit perut dan menyembuhkan luka pasca melahirkan normal maupun luka bekas operasi caesar. Tidak hanya dibuatkan jamu. Bu Tari juga membuatkan pilis dari kunyit dari air kapur sirih, Bu Tari sendiri yang menaruhnya di kening Ervita. Sehingga, keningnya Ervita berwarna kuning karena kunyit.


"Dulu, Mama juga begitu, Ndi ... dibuatin Eyang. Itu namanya Pilis," balas Lintang.


"Oh, namanya Pilis ya Mbak ... lucu yah, keningnya kuning," balasnya.


"Sama Ibu masakkan Ikan Kakap, Vi ... ikan bagus untuk menyembuhkan luka. Jadi, biar luka jahitannya segera sembuh yah," ucap Bu Tari.


"Makasih banget nggih, Bu ... sejak dulu Ervi sudah dirawat dengan sangat baik oleh Ibu," balas Ervita.


"Sama-sama, Vi ... tidak usah masak dulu, nanti setiap hari Ibu anterin lauk untuk kalian. Yang penting kamu pulih dulu. Usai melahirkan itu ya pasti sakit, malam juga begadang. Biar Ibu saja yang masak, nanti dianterin ke sini," ucap Bu Tari.

__ADS_1


"Kami jadi merepotkan Ibu," balasnya.


"Tidak repot sama sekali kok, Vi ... kan ya setiap hari Ibu juga memasak. Cuma ditambah saja porsinya."


Hingga akhirnya, terdengar tangisan suara bayi. Ervita  hendak berdiri dan mengambil Irene yang pasti sudah terbangun. Akan tetapi, Bu Tari justru menyuruh Ervita duduk dan dia sendiri yang masuk ke dalam untuk menggendong Irene.


"Yuh, anak cewek nangisnya kenceng banget," ucap Bu Tari.


"Iya, Bu ... nangisnya memang kencang banget," balas Ervita.


"Adiknya Indi ya mirip Indi yah ... cantiknya cucunya Eyang," ucap Bu Tari lagi.


"Mirip Pandu apa Ervi, Bu?" tanya Pandu kemudian.


"Ya, banyak kamunya, Ndu ... hidungnya, matanya, dan bentuk wajahnya sama kayak kamu. Ada Ervi juga. Kan namanya ya anaknya bersama," balas Bu Tari.


Pandu pun tersenyum. "Pandu pengennya punya anak banyak dengan Ervita, Bu ... biar nanti kalau tua bisa berkumpul dengan anak dan cucu."


"Istrimu aja baru aja bersalin, sudah mikir anak banyak, Ndu. Biar Irene besar dulu. Kalau Ervi mau ya tambah lagi, kalau tidak ya sudah ... dua saja cukup," balas Bu Tari.


"Kalau Irene sudah se-Indi, ya tidak apa-apa sih, Bu ... kalau masih kecil banget ya jangan," balas Ervita.


Pandu pun tertawa di sana. "Tuh, Dinda aja mau loh, Bu," balasnya.


"Jan ... kamu ini, Ndu-Ndu."

__ADS_1


Bu Tari sampai menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya itu. Namun, di satu sisi Bu Tari juga yakin bahwa Pandu juga menginginkan anak banyak dari Ervita. Akan tetapi, tetap harus menjaga jarak persalinan.


__ADS_2