
Usai menelpon Bu Tari dan Indi, agaknya Ervita merasa begitu tenang. Di Jogja, Indi sama sekali tidak rewel. Sehingga menikmati sisa hari di Surabaya, Ervita juga bisa lebih santai. Sembari menunggu sang suami yang bekerja sampai siang nanti, Ervita kemudian memilih untuk tidur. Setidaknya badannya juga harus diistirahatkan terlebih dahulu, sebelum nanti akan memulai hal-hal menyenangkan dengan suaminya.
Sudah beberapa kali juga Ervita menguap, sekarang dia kembali bergelung di balik selimut dan memilih untuk tidur. Tubuh lebih bugar, dan bersiap menyambut suaminya datang lagi nanti. Mungkin efek kecapekan, tidak butuh waktu lama bagi Ervita untuk terlelap. Suasana kamar yang dingin, sinar matahari yang mengintip dari celah-celah tirai jendela, dan juga suasana yang sepi, dimanfaatkan baik-baik oleh Ervita untuk tidur saja.
Kurang lebih hampir tiga jam Ervita tertidur. Dia bangun saat jam hampir menunjukkan tengah hari. Wanita itu mengerjap dan melihat handphonenya terlebih dahulu.
“Sudah jam 12.00, berarti sebentar lagi Mas Pandu akan pulang. Lebih baik, aku mandi dulu saja,” gumamnya dengan mengucek matanya sesaat dan juga menguap.
Tidak ingin menunda waktu, Ervita pun segera bersih-bersih dan mengguyur tubuhnya. Ini pun menjadi hal tergila dalam hidup Ervita, dalam kurun waktu setengah hari, dia sudah mandi tiga kali. Jika benar-benar seharian full dengan suaminya, bisa-bisa dia akan menghabiskan satu botol sabun dan shampoo. Di dalam kamar mandi pun melihat banyaknya tanda merah di leher, dada, hingga perutnya, Ervita sampai geleng kepala sendiri dengan kelakuan suaminya yang suka menggigitnya hingga merah-merah. Suaminya itu memang benar-benar.
Kurang lebih dua puluh menit berlalu, dan kini Ervita sudah keluar dari kamar mandi. Supaya lebih rileks, dia membuat Coklat Susu yang memang sengaja dia bawa dari rumah. Menikmati City View kota Surabaya dengan secangkir coklat hangat rasanya begitu menenangkan. Belum habis minumannya, rupanya suaminya itu sudah datang dan mengetuk pintu kamar hotel.
"Dinda," sapanya begitu sang istri membukakan pintu baginya.
"Yayah," balas Ervita dengan tersenyum.
Pandu pun segera masuk ke dalam kamar dan tersenyum melihat istrinya itu, "Kamu kalau manggilnya Yayah gitu, kayak Indi deh," balasnya.
Ervita pun tersenyum, dan meminta ransel suaminya itu, "Sini, biar aku yang bawain. Gimana Mas, kerjaannya?" tanyanya.
"Deal dong, Nda ... tapi mungkin dua bulan lagi aku ke Surabaya untuk controlling. Makasih ya doanya, berkat doa dari istri tercinta," balas Pandu.
Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Sama-sama Suami ... mau buat cokelat enggak? Aku baru saja bikin cokelat hangat," balasnya.
"Boleh, tapi 15 menit lagi aja, Nda ... aku mandi dulu. Kotor dari luar," balasnya.
Pandu memilih bergegas dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Lebih baik mandi terlebih dahulu karena Pandu sudah tahu bahwa istrinya itu juga sudah mandi. Selang lima belas menit, Pandu sudah keluar dari kamar mandi, dan segelas coklat hangat sudah tersaji untuk suaminya.
__ADS_1
"Ini Mas ... coklatnya, diminum dulu, masih hangat," balasnya.
Pandu yang tersenyum itu segera mendekap tubuh istrinya terlebih dahulu. "Peluk kamu dulu, Nda ... aku perlu mengisi dayaku dengan memelukmu."
Keduanya sama-sama diam dan menikmati dekapan yang hangat itu. Pandu bahkan tampak memejamkan matanya dan belitan tangan di tubuh istrinya kian menguat.
"Kamu sengaja yah sudah mandi dulu?" tanya Pandu.
Ervita mengernyitkan keningnya, bingung dengan pertanyaan dari suaminya. "Enggak itu Mas. Tadi, aku tidur kok ... jadi ya sekarang, aku mandi. Nanti aku bau bantal loh," balasnya.
"Bau bantal juga cantik kok. Aku juga suka," balasnya.
Ervita pun terkekeh geli di sana, "Gombalan kamu receh, tapi bikin aku klepek-klepek deh, Mas," sahutnya.
Pandu melepaskan pelukannya dan kemudian meminum coklat hangat yang telah dibuatkan oleh istrinya itu, dan dia mengajak Ervita untuk duduk bersama di sofa.
"Ke Mall yuk Mas ... beliin boneka untuk Indi dulu, setelah itu kamu mau kurung aku seharian di kamar, aku gak masalah. Penting untuk Indi dapat dulu," balasnya.
Pandu pun tersenyum di sana, "Serius dikurung dan diajak yang enak-enak boleh?" tanyanya.
"Iya, boleh-boleh saja kok. Penting yang diminta Indi dapat dulu, daripada kepikiran nanti," balas Ervita.
"Ya sudah, ganti baju aja Nda ... yuk, kita belikan boneka yang diinginkan anak widok (anak perempuan)," balasnya dengan tertawa.
Hotel yang terhubung dengan mall itu pun didatangi Pandu dan Ervita sekarang. Kabarnya ini adalah Mall terbesar di Surabaya. Sehingga memang terlihat jelas betapa besar dan luasnya mall tersebut. Mereka segera menuju ke kids toy dan melihat adakah boneka yang diminta oleh Indi.
"Rainbow Dash itu apanya yang Rainbow, Nda?" tanya Pandu kepada Ervita.
__ADS_1
"Ekornya Mas ... dia memiliki ekor berwarna-warni kayak pelangi gitu, makanya namanya Rainbow Dash," jawab Ervita.
"Aku kira mereka semua itu namanya Little Pony, ternyata setiap karakter ada namanya?" balas Pandu.
"Bener banget ... masing-masing Pony punya nama dan kekuatannya sendiri. Yang dari kamu itu saja, Indi suka banget sampai dibawa bobok terus loh," balasnya.
"Mungkin suka dengan bonekanya dan juga sayang sama yang ngasih," balas Pandu dengan tertawa.
"Ini Mas ... yang biru dan ekornya pelangi. Beliin yang ini yah," ucap Ervita dengan menunjukkan boneka yang diminta oleh Indi itu.
"Boleh saja sih Nda ... sekalian lah sama apa yang Indi belum punya. Indi sudah tidak rewel dan memberi waktu untuk kita berdua, jadi beliin satu lagi saja."
Akhirnya, dengan kesepakatan bersama Pandu dan Ervita membelikan boneka Little Pony warna biru dan orange untuk Indi. Semoga saja Indi suka. Mumpung sekalian di Mall, kemudian Pandu mengajak Ervita untuk makan sekalian. Sudah lewat jam makan siang, sehingga lebih baik sekaligus mengisi perut.
"Yakiniku mau?" tawar Pandu kepada istrinya itu.
"Iya mau ... aku apa-apa mau kok Mas. Enggak pilah-pilih makanan," balasnya.
Akhirnya mereka membeli makan siang dengan menu Beef Yakiniku, dan sembari makan siang, ada saja yang mereka obrolkan bersama. Bahkan beberapa kali Pandu juga menyuapi istrinya itu, "Pacaran di luar kamar, Nda," ucap Pandu dengan tiba-tiba.
"Iya, masak dikurungi terus. Isi amunisi dulu," balas Ervita.
"Pacaran dulu berdua ya Nda ... abis ini mau apa lagi?" tanya Pandu.
"Jalan-jalan sebentar boleh Mas?" tanya Ervita.
"Boleh dong ... kamu tidak pengen sesuatu gitu Nda? Sesekali minta aku tidak apa-apa loh, Nda," balas Pandu.
__ADS_1
Kemudian Ervita menggelengkan kepalanya, "Aku tuh gak butuh apa-apa, Mas ... semua yang aku butuhkan sudah kamu cukupi. Healing jalan-jalan berdua saja sih. Mau apa lagi coba, setelah semua badai yang pernah berlalu dalam hidupku, sekarang aku bisa melihat pelangi yang indah dan itu ada di dalam diri kamu," balas Ervita.