Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Pemeriksaan Pertama


__ADS_3

Usai sarapan, Pandu pun berpamitan kepada Ervita untuk berangkat ke kantor terlebih dahulu. Sebenarnya kantor yang dimiliki Pandu juga termasuk kantor miliknya sendiri karena di sana ada beberapa konsultan dan bidang yang lain. Sementara Pandu memang lebih mengambil spesifikasi untuk konsultan desain interior. Namun, Pandu tentu perlu melimpah beberapa pekerjaan kepada staf dan orang yang bekerja dengannya terlebih dahulu supaya jika dia memilih pulang cepat atau tidak masuk, stafnya bisa melanjutkan pekerjaan.


“Nda, aku berangkat ke kantor dulu yah … yakin kamu tidak apa-apa di rumah?” tanya Pandu kepada istrinya itu.


“Iya Mas … kan kalau agak siang, aku sudah sehat. Cuma pagi aja lemesnya,” balas Ervita.


“Aku daftarkan pemeriksa nanti ya Dinda … biar bisa minta obat pereda mual sekalian. Kasihan kamu sampai pucet begitu,” balas Pandu.


“Iya, terserah Mas aja, aku sih ngikut Mas aja kok,” balasnya.


“Ya sudah, nanti aku daftarkan yah. Gak tega lihat kamu kayak gini, Nda,” balas Pandu.


Sebelum melangkah kaki ke luar rumah, Pandu rupanya kembali memeluk istrinya itu dan mengecup kening Ervita di sana. Rasanya tidak tega meninggalkan rumah ketika istrinya itu begitu pucat dan tubuhnya lemas. Dipeluk suaminya dan sangat diperhatikan membuat Ervita hendak menangis, tetapi sebisa mungkin dia tahan karena takut jika membuat suaminya justru makin mengkhawatirkannya.


“Sudah Mas … kamu yang sudah wangi nanti bau minyak kayu putih loh,” balas Ervita.


“Gak apa-apa Dinda … biar ingat kamu. Ya sudah, aku bekerja dulu yah. Enggak usah gendong-gendong Indi dulu, nanti kalau aku pulang biar Yayahnya yang gendong Didi,” pesan Pandu lagi. Itu juga supaya tidak menekan perut Ervita. Mereka juga belum tahu berapa usia kandungan Ervita, biasanya ketika hamil muda seseorang diperingatkan untuk melakukan aktivitas yang akan menekan perutnya.


“Berangkat dulu ya Dinda … aku cinta kamu, Nda,” ucap Pandu dengan mengurai pelukannya dan melangkahkan kakinya keluar dari pintu. Ervita pun masih mengantar sampai depan dan melambaikan tangannya kepada suaminya itu.


Setelahnya, Ervita kembali masuk ke rumah dan mengasuh Indi. “Yayah sudah berangkat Nda?” tanya Indi kepada Bundanya.


“Iya, sudah … kenapa Nak?” tanya Ervita kepada putrinya itu.


“Ndak Nda … Didi sayang Yayah aja kok,” balasnya.


Ervita tersenyum kepada putrinya yang bisa dengan jujur mengungkapkan rasa sayangnya kepada Ayahnya. Begitu lucu, bahkan sejak kecil, figur Ayah untuk Indi adalah Pandu. Ada rasa haru, ada rasa sedih, dan yang melimpah kali ini adalah rasa syukur karena memang Pandu terlihat sayang kepada Indi sejak anaknya itu masih kecil.

__ADS_1


 ***


Sore harinya ....


Kali ini, Pandu menitipkan Indi kepada orang tuanya terlebih dahulu karena Pandu hendak mengajak Ervita ke Klinik Ibu dan Anak untuk memeriksakan kandungan Ervita. Kali ini, bukan Dokter yang sebelumnya didatangi Ervita saat dulu hamil Indi, tetapi Pandu mengajak istrinya ke Dokter Kandungan yang menurutnya lebih baik. Sebab, untuk Ervita dan bayinya, Pandu ingin bisa memberikan selalu yang terbaik.


"Sudah sana ... malahan bagus diperiksakan dulu. Indi di rumah Eyang lihat Parkit yah," ucap Pak Hadinata yang sudah menggendong Indi.


"Pamit nggih Pak ... nanti begitu periksa, langsung pulang," balas Pandu.


Setelahnya, Ervita juga berpamitan kepada kedua mertuanya dan mengikuti Pandu untuk ke Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak Menurut Pandu, daripada ke Rumah Sakit dan juga terpapar virus dan kuman yang bisa menyebabkan penyakit, lebih baik mendatangi klinik atau sejenis Rumah Sakit Ibu dan Anak saja, yang memang hanya didatangi Ibu hamil, melahirkan, dan juga anak-anak saja.


Pandu yang sudah mendaftar sebelumnya dengan menggunakan nomor whatsapp sekarang mendatakan istrinya terlebih dahulu. Setelahnya mereka menunggu untuk melakukan pemeriksaan bersama Dokter Arsy.


"Kok aku deg-degan ya Mas," ucap Ervita sembari menunggu di ruang tunggu di RSKIA itu.


Ervita pun tertawa, "Iya ya ... harusnya aku bisa lebih santai karena ada suamiku sendiri. Gak kayak dulu," balasnya.


Pandu pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, gitu ... suamimu ini akan tanggung jawab sepenuhnya," balas Pandu lagi.


Hingga akhirnya, nama Ervita pun dipanggil dan Ervita ditimbang berat badannya terlebih dahulu dan juga mengukur tekanan darahnya. Setelahnya, mereka masuk ke dalam ruangan untuk melakukan pemeriksaan dan konsultasi.


"Halo, selamat sore ... kenalkan saya Dokter Arsy," salam dari Dokter Wanita yang masih cukup muda di sana.


"Sore Dokter," balas keduaya sembari menganggukkan kepalanya.


"Dengan Ibu Ervi dan Bapak Pandu yah ... ada yang bisa dibantu?" tanya Dokter Arsy.

__ADS_1


"Iya, Dokter ... jadi, kami datang untuk memeriksakan kandungan. Tadi pagi sudah melakukan tes dengan tes pack dan hasilnya positif," cerita Ervita kepada Dokter Arsy.


Dokter Arsy mencoba mendengarkan dan juga melihat Hari Pertama Haid Terakhir. Sebab, usia kehamilan dihitung mulai dari hari pertama HPHT, biasanya akan dihitung dalam hitungan minggu.


"Baik Bu ... Hari Pertama Haid Terakhirnya sudah 6 mingguan yah. Kalau positif dan mungkin janinnya sudah berusia sekitaran 6 atau 7 minggu. Untuk lebih jelasnya, kita lakukan pemeriksaan dengan USG saja," balas Dokter Arsy.


Kali ini bahkan Pandu turun berdiri dan mengantar Ervita untuk menaiki brankar. Setelahnya Pandu kembali duduk dan tentunya dia melihat sendiri ketika perawat menaikan kaos yang dikenakan Ervita dan memberikan USG Gell di perut istrinya itu. Setelahnya Dokter Arsy mulai menggerakkan transducer di tangannya.


"Silakan melihat di monitor ya Pak ... saya akan menjelaskan perlahan," ucap Dokter Arsy.


Atensi Pandu sepenuhnya teralihkan kepada monitor yang terlihat olehnya. Juga ada rasa ingin tahu yang tinggi karena ingin tahu kondisi buah hatinya sekarang ini.


"Oke ... selamat ya Bu Ervi dan Pak Pandu ... benar positif yah. Sekarang janin sudah berusia 7 minggu," ucap Dokter Arsy dengan menggerakan transducer di tangannya dan menyisiri perut Ervita itu.


Kali ini Ervita dan Pandu pun tersenyum. Benar, ada kehidupan baru, benih terbaik dari suaminya yang sudah mulai bersemi dan menunjukkan tunasnya di dalam rahimnya. Pandu merasa sangat bersyukur dan bahagia.


"Di sini terlihat kantong rahim ya Bu Ervi ... kantong rahim inilah yang akan menjadi tempat tumbuhnya janin selama 9 bulan 10 hari. Yang kecil dan bergerak seperti melayang-layang ini adalah embrio atau bakal janin ya. Di usia 7 minggu ini ukurannya sebesar biji apel dengan panjang kurang lebih 1,27 centimeter. Di usia ini janin sedang beradaptasi untuk tumbuh di dalam rahim. Selain itu organnya juga berkembang dengan pesat. Wajah bayi sedang dalam proses pembentukan. Kontur mata, hidung, mulut, telinga, dan bagian di wajah bayi akan terbentuk. Plasenta atau ari-ari juga sudah terbentuk yah,” penjelasan Dokter Arsy yang begitu detail kepada mereka berdua.


"Alhamdulillah," sahut Ervita dan Pandu hampir bersamaan.


"Usia janin baik yah. Hanya saja di trimester awal sebaiknya tidak terlalu melakukan hubungan suami istri karena cairan pria mengandung hormon prostaglandin yang justru menyebabkan kontraksi dan melukai babynya. Kalau pun berhubungan sebaiknya tidak dikeluarkan di dalam,” jelas Dokter Arsy lagi.


Kali ini Pandu membuka lebar-lebar telinganya. Yang dikatakan Ervita sebelumnya benar karena memang ada hormon Prostalglandin yang bisa menyebabkan kontraksi dan melukai bayi. Usai melakukan pemeriksaan dengan USG, kemudian perawat membersihkan perut Ervita dengan tissue, dan di sana Pandu kembali berdiri, mengulurkan tangannya dan membantu sang istri untuk turun dari brankar.


"Pemeriksaan selanjutnya bulan depan ya Bu. Saya akan resepkan vitamin yang mengandung Asam Folat dan Omega 3 untuk perkembangan otak bayi. Selain itu, jaga pola makan. Ibu bisa makan lebih sering dengan porsi kecil. Selain itu jaga pola tidur dan konsumsi air putih," imbuh Dokter Arsy kali ini.


Ini adalah pemeriksaan yang istimewa untuk Ervita, bisa mendapatkan penjelasan yang detail karena dulu, dia memulai pemeriksaan dengan mendatangi bidan saya. Juga kian istimewa karena ada Pandu yang setia mendampinginya. Terlihat raut wajah kegembiraan di wajah keduanya. Ini memang bukan Ervita yang pertama, tetapi bersama dengan Pandu, suaminya, kehamilan ini terasa bermakna.

__ADS_1


__ADS_2