Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Anak yang Merasa Berbeda


__ADS_3

Keesokan harinya, Pandu mengantar Kakaknya Pertiwi dan juga Lintang, serta Bu Tari yang ikut serta menuju Bandara Internasional Yogyakarta untuk menjemput suami dari Pertiwi, yaitu Damar. Itu memang karena Pertiwi dan Lintang pulang lebih dulu ke Jogja supaya bisa memiliki lebih banyak untuk bersama Bapak Hadinata dan Bu Tari. Sehingga Damar baru bisa pulang ke Jogja, setelah mengajukan cuti. Sebagai abdi negara, Damar tidak bisa pulang seenaknya, harus mengajukan cuti terlebih dahulu barulah bisa pulang ke Jogjakarta. Libur satu minggu dan rencananya mereka ingin liburan keluarga mumpung berada di Jogja.


Pagi itu Ervita yang sedang menggendong Indira dari luar pun berpapasan dengan Pandu yang sedang memanasi mesin mobilnya. "Sudah mau berangkat ya Mas Pandu?" tanya Ervita.


"Iya ... beneran kamu tidak mau ikut?" tanya Pandu lagi.


"Tidak, di rumah saja. Nanti juga ada reseller yang mau datang ambil barang. Jadi, aku siapkan dulu," balas Ervita.


Pandu kemudian mencolek pipi Indira yang chubby. Agaknya Indira sendiri usai menangis, terlihat jejak air mata yang membasahi wajahnya. "Habis nangis yah?" tanya Pandu.


"Iya, enggak dikasih ASI jadinya tadi nangis," balas Ervita.


Usai disentuh pipinya sama Pandu, Indira menyembunyikan wajahnya dalam gendongan Bundanya itu. Pandu pun tersenyum lucu melihat tingkah Indira yang menggemaskan baginya.


"Ya sudah, kami masuk ya Mas ... hati-hati," balas Ervita.


Pandu menganggukkan kepalanya, "Iya ... kamu juga. Bye Indi ... jangan menangis ya Sayang," balas Pandu dengan melambaikan tangannya kepada Indira.


Rupanya obrolan Pandu dan Ervita itu dari jauh dilihat oleh Pertiwi. Si Kakak yang kadang kala jahil itu pun menggodai adiknya. "Hayo loh ... baru ngapain?"


"Apaan sih Mbak ... baru manasin mobil aja kok," balas Pandu yang kembali ke setelan pabriknya, cool dan juga kalem.


"Kamu enggak pengen pacaran lagi ya Ndu? Sudah hampir lima tahun berlalu. Kamu tidak ingin membuka hatimu lagi?" tanya Pertiwi kepada adiknya itu.


Pandu menggelengkan kepalanya, "Belum ada yang cocok, Mbak ... nanti kalau ada yang cocok langsung Pandu bawa kepada Bapak dan Ibu," balasnya dengan menunjukkan ekspresi wajah yang biasa saja.


"Sama Ervi juga tidak apa-apa. Mbak setuju kok," balas Pertiwi dengan tiba-tiba.


Pandu tidak menjawab, dia hanya mengulas senyuman tipis di sudut bibirnya saja. Lantas Pandu mengajak Kakaknya itu untuk berangkat. "Yuk Mbak ... berangkat sekarang saja, daripada nanti keburu panas dan Mas Damar yang nunggu kita," balas Pandu.


Hingga akhirnya Pandu dan keluarganya berangkat bersama menuju Bandara Internasional Yogyakarta untuk menjemput Kakak Iparnya yaitu Damar. Perjalanan darat lebih dari satu jam yang harus ditempuh Pandu menuju daerah Kulon Progo yang sudah akan berbatasan dengan Kabupaten Magelang. Untunglah, begitu mereka tiba di sana, bertepatan dengan pesawat yang baru saja landing dari Jakarta. Memang Damar transit terlebih dahulu di Jakarta, barulah dilanjutkan dengan rute Jakarta - Jogkarta.

__ADS_1


Keluarga Hadinata menunggu di pintu kedatangan, hingga akhirnya Lintang pun berteriak.


"Papa ... Papa ...."


Lintang yang berusia tiga tahun nyaris berlari dan menerobos masuk ke pintu kedatangan, tetapi ditahan oleh Pertiwi. "Sabar Lintang, nanti Papa yang akan ke sini. Kita tidak boleh masuk ke sana," ucap Pertiwi.


Hingga akhirnya Damar sudah berada di depan mereka. Menggendong Lintang dan juga menyalami keluarga mertuanya yang sudah menjemputnya.


"Bapak dan Ibu bagaimana kabarnya?" sapanya dengan mencium punggung tangan Bapak dan Ibu mertuanya.


"Alhamdulillah, baik dan sehat ... lebih berisi sekarang ya Mar," balas Bu Tari.


"Iya Bu ... memang lebih berisi," balas Damar dengan tertawa.


"Gimana kabarnya Pandu?" tanya Damar sekarang kepada Adik Iparnya itu.


"Baik Mas ...."


Begitu sampai di rumah, Damar dan keluarga istirahat dulu. Bu Tari sudah memasak makanan spesial untuk menantunya itu. Damar menyukai Sambal Goreng Krecek dan Opor Ayam. Sehingga pagi itu, Bu Tari sudah berjibaku di dapur bersama Mbok Minah dan membuatkan masakan kesukaan menantunya itu.


Damar membersihkan dirinya terlebih dahulu dan kemudian makan siang bersama keluarga. Pertiwi pun bertanya kepada Ibunya, "Ervita tidak diajak makan siang sekalian Bu?" tanyanya.


"Boleh kalau anaknya mau ... dia itu sudah tinggal di sini, tapi masih sungkan," balasnya.


"Biar dipanggil Pandu ya Bu," ucap Pertiwi lagi.


Merasa mendapat lampu hijau dari Bu Tari, Pertiwi pun meminta Pandu untuk memanggil Ervita dan mengajaknya untuk makan siang bersama. Bagaimanapun Ervita sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Bahkan Pertiwi juga agaknya cocok juga dengan Ervita.


Pandu pun akhirnya memanggil Ervita yang menempati rumah samping dan mengajak Ervita untuk makan siang bersama. Lantaran di ajak, Ervita pun mau dan menggandeng Indira untuk ikut serta.


"Sini masuk, Vi ... kenalin ini menantunya Ibu, Mas Damar namanya, suaminya Mbak Pertiwi," ucap Bu Tari.

__ADS_1


Ervita pun menganggukkan kepalanya dan menyapa Mas Damar, "Ervita, Mas ... Papanya Lintang yah?" tanyanya sebagai formalitas belaka.


"Iya, Damar," balasnya.


Melihat Lintang yang digendong oleh Papanya, Indira yang masih kecil pun menunjuk-nunjuk Lintang dan Mas Damar di sana. "Nda ... Yayah ... Yayah," ucapnya.


Mungkin Indira merasa ingin juga digendong oleh sosok Ayah seperti Lintang. Jujur saja, jika Indira yang masih belum lancar bicaranya dan menyebut-nyebut "Yayah", Ervita begitu sedih. Seolah mengingatkan Ervita dengan luka masa lalunya, dan juga putrinya yang tak bernasab dari pihak Ayahnya. Indira lahir tanpa Ayah, bahkan sosok Ayah seperti apa Indira juga tidak tahu.


Mungkin Indira yang masih kecil itu merasa dirinya berbeda. Ada anak kecil lainnya yang bermain dan digendong oleh Ayahnya, sementara Indira yang selalu menggendongnya hanya Bundanya saja. Ervita menyadari, kebahagiaannya memang menjadikan Indira berbeda, karena putrinya itu tumbuh tanpa sosok Ayah.


"Itu Papanya Mbak Lintang, Nak," ucap Ervita.


Rupanya belum sempat makan siang, Indira sudah menangis terlebih dahulu, sehingga Ervita kembali menggendongnya.


"Ervi ke depan dulu ya Bu ... ini Indi-nya rewel, nanti kalau sudah Ervi nyusul," balasnya.


Akhirnya Ervita menggendong Indira dan membawanya ke Pendopo depan. Ervita berusaha menenangkan putrinya itu.


"Nda, Yayah ... Yayah," ucapnya dengan menangis terisak.


"Sabar ya Nak ... Indi punyanya hanya Bunda. Siapa yang Indi punyai?"


"Nda."


"Siapa yang orang tuanya Indi?"


"Nnndaaa ...."


"Iya, Bunda. Indi sayang Bunda?"


Terlihat Indira kecil menganggukkan kepalanya, "Ya, Nda ... ayang," balasnya.

__ADS_1


Ervita menitikkan air matanya di sana. Di saat seperti ini, hatinya sangat rapuh. Anaknya memang berbeda. Anaknya tumbuh hanya dalam pengasuhannya saja, dan tidak pernah mengenal sosok Ayah dalam hidupnya.


__ADS_2