Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Pertama Kali Memasuki Kamar Ervita


__ADS_3

Malam itu, cukup lama Pandu dan Ervita mengobrol dengan orang tuanya. Hingga akhirnya, mereka pun dipersilakan untuk tidur. Pandu rasanya teringat dengan dulu ketika dirinya menginap di rumah Ervita dan tidur di sofa, tetapi sekarang untuk kali pertama dia akan memasuki kamar milik istrinya itu.


“Ayo Mas … masuk,” ajak Ervita untuk masuk ke dalam kamarnya.


Kamar yang begitu sederhana di dalam kamar itu hanya ada tempat tidur, lemari pakaian, dan juga meja belajar. Tidak ada yang spesial di dalam kamar bercat putih itu.


“Tempat tidurnya cuma Queen Size, semoga muat yah buat kita bertiga,” ucap Ervita kepada suaminya.


Terlihat Pandu yang mengamati kamar itu, dan kemudian mengambil duduk di tepian ranjang. Lantas Pandu berdiri dan melihat foto Ervita di meja belajar. Gadis manis yang mengenakan seragam putih abu-abu itu terlihat menarik hati Pandu.


“Ini kamu waktu SMA ya Dinda?” tanyanya kepada istrinya.


“Iya, kelas 2 SMA waktu itu, Mas,” balasnya.


“Cantik banget sih … kamu secantik itu yang naksir banyak dong Nda?” tanyanya.


Ervita pun mendekat, kini wanita itu duduk di kursi yang berada di depan meja belajarnya dan menarik sebuah laci yang ada di meja belajar itu, menunjukkan fotonya yang lain.


“Ini waktu aku SD dan ini fotoku SMP. Jadul banget ya Mas,” ucapnya.


Tangan Pandu terulur dan mengamati foto-foto itu, dan kemudian menatap wajah Ervita di sana. “Cantik semuanya kok … tapi paling cantik Ervita yang duduk di hadapanku sekarang ini. Paling cantik, karena yang paling bisa aku miliki,” ucapnya.


Ervita pun tersenyum di sana, jika suaminya sudah mode gombal seperti ini, rasanya Ervita begitu malu dan juga yang dilakukan Ervita hanya bisa menunduk. Sisi lain seorang Pandu yang membuat Ervita hanya bisa senyum-senyum sendiri mendengar ucapannya yang semanis gula jawa.


Pandu lantas mengembalikan foto-foto itu ke atas meja, dan kemudian Pandu permisi, Pandu sedikit menunduk, pria itu tampak menatap bibir Ervita yang begitu ranum dan berpoles pewarna pink yang begitu lembut. Tangan Pandu lantas bergerak dan meraih dahu Sara. Pandu dengan begitu lembut melabuhkan bibirnya dan memberikan ciuman berbalut lu-matan di bibir Ervita.

__ADS_1


Pergerakan yang samar dan tanpa kata-kata itu sukses membuat Ervita membeku. Dadanya bergemuruh riuh mana kala dia merasakan pergerakan bibir Pandu yang begitu lembut menekan bibirnya dan memberikan pagutan serta lu-matan di sana. Kini, Pandu memejamkan matanya, menahan tengkuk Ervita dan bibirnya kembali mencecap kelembutan yang ditawarkan oleh bibir Ervita yang begitu ranum, manis, dan juga hangat. Berkali-kali Pandu tampak memagut bibir Ervita. Dengan bibirnya sendiri, Pandu tak henti-hentinya untuk memberikan pagutan yang begitu membuai di lipatan bibir bawah milik Ervita. Memagutnya dan menghisapnya dengan begitu dalam.


Tangan Pandu pun tampak mengusapi tengkuk dan telinga Ervita, hingga membuat Ervita sedikit mengerang ketika ciuman Pandu kian dalam dan juga intens di atas bibirnya.


"Mas Pandu," ucap Ervita dengan suara yang sedikit lirih. Sangat lirih malahan karena mereka sekarang berada di rumah orang tuanya, bukan di rumah mereka sendiri.


Akan tetapi, melihat bibir Ervita yang terbuka, nyatanya Pandu justru langsung menyambar bibir Ervita, membawa lidahnya untuk masuk dan menerobos, merasakan kehangatan di rongga mulut Ervita. Lidahnya bergerak dan memberikan usapan demi usapan di sana. Membelai dan juga membelit lidah Ervita.


Bahkan tangan Pandu sudah memberikan remasan di dada Ervita, merabanya perlahan dan lantas meremasnya. Sehingga membuat Ervita menghela nafas dan mencengkeraman bahu suaminya itu di sana. Perlahan-lahan pula, Ervita tampak mengikis tangan suaminya di sana.


“Mas … besok saja di rumah. Aku takut,” ucapnya dengan menghela nafas.


Mendengar suara dari istrinya, Pandu pun lantas menarik wajahnya dan memeluk Ervita dengan begitu eratnya. Memberikan elusan yang begitu lembut di kepala hingga punggung istrinya itu. Pandu masih memejamkan matanya dan tidak berbicara apa-apa.


“Maaf … besok saja ya Mas,” ucap Ervita lagi.


Pria itu lantas mengurai pelukannya, membawa Ervita untuk berdiri, membawa istrinya itu dan kemudian kembali mendaratkan ciuman di bibir Ervita. Pandu membawa kedua tangan Ervita untuk melingkari lehernya, dan bibirnya menari-nari di atas bibir Ervita. Memberikan pagutan, lu-matan, hingga hisapan di bibir yang begitu manis dan memiliki candu itu. Pandu kali ini mencium istrinya dengan nafas yang lebih memburu. Tangan yang semula hanya memegangi pinggang istrinya, perlahan pun mulai menelusup masuk ke dalam kaos yang dikenakan Ervita, meraba punggung yang halus dan lembut itu.


Usapan tangan Pandu di sana membuat Ervita menghela nafas dan kian memejamkan matanya. Rasanya begitu sesak, ingin mende-sah, tetapi takut terdengar oleh Bapak dan juga Ibunya. Bagaimana pun rumah yang ditempati oleh keluarga Ervita itu kecil dan juga tidak begitu luas, sehingga takut jika suara-suara mereka mengganggu penghuni rumah yang lain.


Ketika tangan Pandu hendak memberikan usapan di lembah yang di bawah sana, Ervita segera menariknya. Begitu takut rasanya.


“Mas … Mas … jangan Mas,” ucapnya dengan begitu lirih disertai dengan helaan nafas yang begitu berat.


Hingga akhirnya, ada suara tangisan dari Indi, yang membuat Ervita mendorong dada suaminya itu. Ervita pun buru-buru menaiki ranjang dan memberikan pelukan dan juga mengusapi kening Indira di sana. Ervita sampai menyeka buliran keringat di keningnya karena terlalu panik, dan Pandu yang akhirnya turut menaiki ranjang dan berbaring dengan memeluk Ervita di sana.

__ADS_1


“Nda … Nda,” panggil Indi dengan memeluk Bundanya.


“Iya, Nak … Bunda di sini,” balas Ervita.


“Bobok ma Nda Yayah,” balasnya dengan mata yang terpejam.


Pandu beringsut dan memberikan usapan dengan tangannya di kepala Indira. “Ayah di sini, Indi Sayang … bobok yah,” balasnya.


Beberapa menit berlalu, dan Indira pun kembali terlelap, lantas Pandu menepuk lengan istrinya itu dengan halus.


“Lanjut lagi enggak Dinda?” tanyanya.


“Besok saja ya Mas … takut kalau Indi kebangun,” balasnya.


Pandu pun akhirnya merebahkan dirinya dan mencerukkan kepalanya di dada istrinya itu. “Gagal deh … padahal aku baru mendamba,” balas Pandu dengan memejamkan matanya.


Tangan Ervita bergerak dan memberikan usapan di puncak kepala suaminya itu, “Sabar … besok yah kita ke Swargaloka. Suami yang sabar disayang istri,” balas Ervita dengan lembut.


Pandu pun akhirnya menganggukkan kepalanya secara samar, “Iya deh Dinda … besok kita ke Swargaloka yah,” balasnya.


Rencana ingin membuat kenangan di rumah mertua usai sudah. Pandu harus lebih bersabar sampai keesokan harinya tiba di Jogjakarta. Ervita pun tersenyum, di kirinya ada Indi yang tidur dan memeluknya, dan di kanannya ada suaminya yang juga memeluknya.


“Kesayangannya Bunda,” ucapnya lirih dengan sama-sama mengusapi puncak kepala Indi dan suaminya itu.


“Kamu kesayangannya Kanda,” balas Pandu dengan memejamkan matanya.

__ADS_1


Ervita tersenyum, kali ini dia akan turut untuk tidur. Jika tidak, mungkin saja suaminya itu bisa melakukan hal-hal yang membuatnya menjadi hilang kendali.


__ADS_2