Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Malam Takbir


__ADS_3

Malam ini adalah penghujung Ramadhan. Hanya menunggu satu malam saja menuju hari yang Fitri. Namun, malam ini begitu riuh rasanya. Masjid yang berada di dekat rumah Pandu dan Ervita sudah mengumandangkan takbir.


Allahuakbar allahuakbar allahuakbar lailahailallahu wallahuakbar. Allahuakbar wa lillah ilhamdu.


Dengan takbir yang berkumandang, Indi pun bertanya kepada Yayahnya. Sebenarnya, ini bukan lebaran yang pertama untuk Indi, tetapi dia sekarang bisa bertanya banyak hal. Termasuk kumandang takbir yang menghiasi malam.


"Yayah, dari Masjid itu suara apa?" tanya Indi.


"Oh, itu namanya suara takbir, Mbak Didik. Takbir dikumandangkan di malam terakhir bulan Ramadhan," jawab Pandu.


Mendengar jawaban dari Yayahnya, Indi setidaknya bahwa nanti setiap malam terakhir bulan Ramadhan akan terdengar takbir berkumandang seperti ini. Namun, masih ada hal yang ingin Indi tanyakan. Oleh karena itu, dia kembali bertanya kepada Yayahnya.


"Ada malam takbiran karena apa, Yayah?"


Rasa ingin tahu Indi yang besar, sehingga dia menanyakan kenapa dilakukan malam takbiran di akhir bulan ramadhan. Yayah Pandu juga sudah menduga sebelumnya adalah pertanyaan Indi masih berlanjut. Putrinya itu tidak akan cukup dengan satu pertanyaan yang terjawab. Indi akan mengejar dan menanyakan hal yang lainnya sampai dia puas.


"Takbir berkumandang adalah untuk memuji kebesaran Allah. Selama satu bulan penuh, kita menunaikan ibadah puasa. Menahan lapar dan haus. Puasa kita, ibadah kita untuk Allah, dan hanya Allah yang bisa menyempurnakannya. Oleh karena itu, kita memuji kebesaran Allah," jelas Pandu dengan pelan-pelan kepada Indi.


Ketika anak bertanya mengenai agama, orang pertama yang harus menuntunnya memang adalah orang tuanya. Membawa anak mengenal Allah sebagai Pencipta dimulai dari keluarga. Bukan tugas pemuka agama atau guru mengaji. Pandu pun mengajarkan itu dengan pelan-pelan kepada Indi. Membekali anak dengan ilmu pengetahuan itu memang penting. Akan tetapi, ajaran agama, warisan iman harus diberikan kepada anak-anak juga.


"Apa hanya sekadar bertakbir Yayah?"

__ADS_1


"Di negeri kita memiliki tradisi nanti akan ada takbir berkeliling. Anak-anak akan membawa obor dan berjalan keliling kampung dan mengumandangkan takbir," jawab Pandu.


Nah, sekarang mendengar apa yang disampaikan sang Ayah, Indi tertarik dengan takbir keliling itu seperti apa. Rasanya akan menjadi pengalaman tersendiri ketika bisa mengikuti takbir keliling itu.


"Indi ikut boleh, Yayah?" tanyanya.


"Berjalannya cukup jauh nanti Mbak Didi capek enggak?" tanya Pandu.


"Coba dulu saja, Yayah."


Setelah terlibat perbincangan dengan Indi. Pandu kemudian menemui Ervita dan menyampaikan keinginan Indi untuk bisa mengikuti takbir keliling. Ervita mengizinkan dengan syarat ada orang tua yang mendampingi. Sebab, bagaimana pun sudah malam, dan Indi belum berpengalaman sebelumnya.


Mendengar syarat yang diajukan Ervita, Pandu menyanggupi untuk menemani Indi. Sekarang Ervita mengganti pakaian Indi dengan baju panjang dan celana panjang, kemudian mengenakan kerudung kepada putrinya itu.


Indi mengingat ada temannya di TK, yang mengatakan bahwa Indi seperti karakter kartun dari Rusia yang berteman dengan beruang ini. Sama-sama mengenakan kerudung pink. Mendengarkan cerita Indi, Ervita pun tertawa geli, sembari mengecup kening putrinya itu.


"Tidak apa-apa, Mbak. Cantik kok. Cuma warna kerudungnya yang Pink aja. Nanti Didi jalannya lumayan jauh loh, jadi pelan-pelan saja. Gandeng tangannya Yayah yah," pesan Ervita.


"Iya, Nda."


Ternyata Ayah Pandu juga berganti baju dengan kemeja koko lengan panjang, mengenakan celana panjang. Lagi-lagi pria itu mengenakan peci putih atau biasa disebut kupluk di kepalanya. Siap untuk menemani Indi merayakan malam Takbir.

__ADS_1


"Kita berangkat Mbak Didi?" ajak Pandu.


"Okey, Yah. Gandeng tangan Didi, Yah. Pesannya Nda begitu."


Lantas Pandu menggandeng tangan kecil putrinya itu. Berpamitan dengan istrinya. Mengajak Indi untuk bertakbir keliling bersama jamaah masjid yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.


Di depan masjid anak-anak sudah berkumpul. Berbaris dengan membawa obor di tangan. Obor adalah tongkat dengan bahan mudah terbakar di salah satu ujungnya, yang dinyalakan dan digunakan sebagai sumber cahaya.


Yayah Pandu menggandeng tangan Indi, melintas jalanan di dalam perumahan dengan mengumandangkan takbir. Terlihat Indi yang sangat senang. Ini adalah Ramadhan penuh makna untuk Indi. Begitu juga untuk Pandu yang baru pertama kali mendampingi putrinya mengikuti takbir keliling.


Ketika rombongan takbir hendak melewati depan rumahnya, Pandu mengirim pesan kepada Ervita untuk keluar rumah sebentar. Tidak berselang lama, Ervita keluar dari rumahnya dengan menggendong Irene. Dia menunggu rombongan takbir keliling yang akan lewat depan rumah. Terlihat dari jauh sorot cahaya yang berasal dari api di ujung obor. Kemudian, tidak berselang rombongan itu lewat. Hampir di bagian belakang ada Yayah Pandu dan Mbak Didi yang bergandengan tangan bersama.


"Ya ... yah!"


Mengenali Yayahnya yang berjalan, Irene berteriak dan memanggil Yayahnya. Tampak Yayah Pandu melambaikan tangannya dan mencium pipi putri bungsunya itu. Begitu juga Indi yang senang melihat Nda dan Adiknya.


"Nda ... Adik ...."


"Kami lanjut takbir ya, Nda," pamit Yayah Pandu.


"Hati-hati ya, Yayah."

__ADS_1


Sungguh itu adalah malam Takbir yang indah. Merayakan bukan hanya dengan keluarga, tapi juga jamaah yang turut berkeliling mengumandangkan takbir. Malam terakhir di bulan Ramadhan ditutup dengan takbir yang terus berkumandang, tanda kemenangan. Esok sudah Hari Raya Idul Fitri, mereka akan kembali ke fitri. Memulai lembaran baru dan juga mengenakan kesucian yang selayaknya harus dilakukan setiap hari.


__ADS_2