Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Sugeng Riyadi


__ADS_3

Usai Sholat Idul Fitri, keluarga Pandu dan Ervita pulang ke rumah terlebih dahulu. Usai mengenakan pakaian putih dan mukenah untuk melaksanakan Sholat Idul Fitri, sekarang mereka berganti dengan pakaian batik yang tentunya diproduksi oleh Batik Hadinata dan kemudian akan bersiap ke kediaman Hadinata. Merayakan Idul Fitri bersama keluarga besar Hadinata.


"Memakai batik ya, Nda?" tanya Indi.


"Iya, ini seragam batik dari keluarga besar Eyang. Eyang, Bu Pertiwi, dan kita, semua mengenakan kain batik yang sama," balas Ervita.


Memang itu adalah kain batik yang dicetak khusus oleh Bapak Hadinata yang akan dikenakan bersama untuk merayakan Lebaran. Kain batik dengan warna Sogan (cokelat) itu begitu indah dikenakan oleh keluarga Pandu. Sampai Indi dan Irene juga turut mengenakan dress batik.


"Batiknya Eyang bagus yah, Nda," ucap Indi dengan memutar ke kiri dan ke kanan mengenakan dress batik selutut itu.


"Iya, dong. Selalu bagus," balas Ervita.


"Batik yang dijual Nda juga yah," sahut Indi.


Lucunya Indi karena dia juga memahami kalau Bundanya juga berjualan batik. Ervita juga tertawa mendengarnya. Kendati demikian, Ervita justru senang. Semua berawal dari batik, dia bisa bertahan hidup dari pelarian dulu ketika hamil tanpa suami. Lantas memiliki pekerjaan, batik juga yang mengantarkan dia menemukan pendamping hidup dan juga mendapatkan keluarga baru di Jogjakarta. Oleh karena itu, Ervita memang ingin terus berjualan batik karena hidupnya berkaitan dengan batik, khususnya batik Hadinata.


"Kita berangkat ke rumah Eyang?" ajak Yayah Pandu sekarang.


"Iya, Yayah," balas Indi.


"Ya, Ya ... yah!"


Sekarang giliran Irene yang ikut dengan Yayahnya. Maka, Yayah Pandu segera menggendong Irene, dan menggandeng tangan Indi. Mereka kemudian berjalan menuju kediaman Bapak Hadinata dan Bu Tari.


"Kula nuwun," sapa Indi begitu memasuki rumah Eyangnya. Kula nuwun adalah sapaan dalam bahasa Jawa yang memiliki arti 'permisi'.


"Mari, silakan masuk cucu-cucunya Eyang yang cantik-cantik. Putri kecilnya Yayah Pandu," balas Bu Tari.


Lantas Indi memberikan salam takzim kepada Eyangnya, dilanjutkan ke Bu Pertiwi dan Pakdhe Damar. Indi pun juga dari kecil sudah diajari dengan sopan santun, orang tuanya selalu memberikan ajaran yang baik untuk Indi. Banyak pengajaran dan sopan santun mereka ajarkan di rumah.


Layaknya, sebuah tradisi dalam budaya Jawa, dilanjutkan dengan sungkeman di mana Bapak Hadinata akan duduk dan Bu Tari memohon maaf kepada suaminya terlebih dahulu. Kemudian sekarang giliran keluarga Damar dan Pertiwi yang melakukan sungkeman meminta maaf kepada kedua orang tuanya. Keluarga Damar selesai, kemudian dilanjutkan keluarga Pandu yang sungkeman kepada Bapak dan Ibunya.


“Dinten meniko dinten bakdo riyadi, kula menawi gadah kalepatan ingkang disengojo lan mboten disengojo dumateng Bapak saha kaliyan Ibu, kula nyuwun agunging samudro pangaksami," ucap Pandu.

__ADS_1


Dalam bahasa Indonesia, apa yang Pandu ucapan itu berarti,"Hari ini hari raya, saya minta maaf kalau ada salah yang disengaja dan tidak disengaja kepada semua Bapak dan Ibu, saya minta maaf sebesar besarnya."


Bapak Hadinata itu menaruh kedua tangannya di kedua bahu putranya itu. "Ya, Le... Anakku, pada-pada. Bapak lan Ibu semono uga. Bapak lan Ibu mangestuni muga anggonmu golek pangan tansah berkah. Rejeki saka Gusti meluwih-luwih marang kowe sak bebrayan."


Artinya, "Ya, anakku laki-laki, sama-sama. Bapak dan Ibu juga sama halnya. Bapak dan Ibu selalu memberikan doa semoga usahamu mencari pekerjaan selalu berkah. Rejeki dari Tuhan selalu melimpah-limpah untukmu dan keluarga."


Usai Pandu, Ervita juga sungkeman dengan cara yang sama. Kemudian Indi yang turut bersalaman takzim dengan Eyangnya.


"Sugeng Riyadi nggih, Eyang. Mohon maaf lahir dan batin," ucap Eyang.


"Selamat Hari Raya Idul Fitri juga untuk Mbak Didi yah. Eyang sayang Mbak Didi," balas Eyang Kakung.


Tidak lupa Eyang Kakung dan Eyang Uthi mencium pipi cucu-cucunya dan memberikan uang fitrah untuk cucu-cucunya. Dikemas dalam amplop yang lucu-lucu, Indi, Irene, Lintang, dan Langit sangat senang menerima hadiah dari Eyangnya.


Hari Raya Idul Fitri yang dirayakan penuh kekeluargaan dan mengusung budaya Jawa yang masih kental. Kemudian keluarga besar Hadinata mengambil foto bersama. Bapak dan Ibu Hadinata, kemudian keluarga Damar, dan keluar Pandu. Dengan cucu-cucu yang dipangku Eyang Kakung dan Eyang Putri. Mengabadikan momen lebaran dalam jepretan kamera.


Sungguh, luar biasa hari lebaran bersama keluarga Hadinata. Usai foto bersama, dilanjutkan dengan menikmati sajian khas lebaran yang sudah disiapkan oleh Bu Tari. Lontong Opor Ayam lengkap dengan Sambal Goreng Krecek dan Kerupuk Udang.


"Ayo, pada makan dulu," perintah Bu Tari.


Akhirnya Bu Tari mengambilkan makanan untuk Pak Hadinata terlebih dahulu. Kemudian Pertiwi juga mengambilkan untuk Damar. Disusul Ervita yang mengambilkan untuk Pandu.


Sementara, anak-anak asyik bermain bersama. Sehingga orang tua bisa menikmati hidangan khas lebaran keluarga Hadinata.


"Enak sekali, Bu," ucap Ervita kepada Bu Tari.


"Nambah, Vi. Nanti kalau pulang, bawa yah. Gak usah masak," ucap Bu Tari.


Ervita kemudian tertawa perlahan. "Ervi memang sengaja tidak memasak tadi kok, Bu. Hanya memasak Sup Ayam untuk anak-anak saja," balas Ervita.


Memang begitulah Ervita. Dia tadi sudah tidak memasak karena sudah pasti akan makan kenyang di rumah mertuanya. Jadi, Ervita yang sudah sekian tahun menjadi anggota keluarga Hadinata, sudah tahu kalau pasti akan mendapatkan masakan dari ibu mertuanya.


"Nah, benar. Nanti bawa saja. Makan yang banyak, Vi."

__ADS_1


Ervita menganggukkan kepalanya, tidak menolak karena masakan mertuanya memang sangat lezat. Pandu juga sampai menambah, dan Ervita melayani suaminya itu terlebih dahulu.


"Biar aku ambilin, Mas," ucap Ervita.


"Dibanyakin Krecek nya, ya Nda," request dari Pandu.


"Nggih, Mas," balas Ervita.


Pandu tersenyum, tapi memang Ervita adalah istri yang baik, dia selalu sedia melayani dirinya. Bahkan sekarang Pandu tersenyum karena banyak Krecek (kerupuk kulit sapi) di piringnya.


"Makasih, Dinda," balas Pandu.


"Aku ambilkan minum sekalian ya Mas?" tawar Ervita.


Senyuman Pandu semakin merekah. Sebab, tanpa dia meminta, Ervita sudah mengerti apa yang dia inginkan.


"Es Teh saja ya, Dinda ... yang dingin," pinta Pandu.


Bu Tari pun tertawa melihat putranya itu. "Enak yah, Ndu. Ada istri semuanya dilayani."


"Iya, Bu. Suami tanpa minta, istri sudah peka. Luar biasa. Berkah juga," balas Pandu.


Ya, ini adalah satu berkah juga untuk Pandu. Istrinya adalah sosok pelengkap dalam hidupnya. Wanita yang selalu menjadi pendamping dan teman hidup dengan dirinya.


"Aku justru belum sungkeman sama kamu loh, Mas," bisik Ervita kepada suaminya.


"Tidak perlu sungkeman, Dinda. Nanti malam aja yah, sediakan waktu untuk aku," pinta Pandu.


Sudah pasti Ervita tahu apa yang diminta suaminya itu. Wanita itu hanya tersenyum dan menundukkan wajahnya saja.


"Kita besok jadi lebaran di Solo kan Mas?" tanyanya.


"Jadi, tapi nanti malam mau dulu ya, Dinda. Kangen," bisik Pandu dengan pura-pura fokus menyantap makanannya.

__ADS_1


Dasar Pandu😂🙄


__ADS_2