Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Kembali ke Jogja


__ADS_3

Menjelang siang, Pandu dan Ervita berpamitan kepada orang tuanya yang berada di Solo untuk kembali ke Jogja. Memang mereka tidak bisa bermain terlalu lama, itu juga karena pekerjaan Pandu dan Ervita berada di Jogja. Sehingga hanya bisa menginap satu malam saja dan sekarang mereka akan kembali ke Jogjakarta.


"Bapak dan Ibu, kami pamit yah," ucap Ervita berpamitan kepada Bapak dan Ibunya.


"Kok keburu-buru. Enggak menginap saja semalam lagi," pinta Bu Sri kali ini.


"Nanti lain waktu, kami main lagi dan menginap di sini, Bu ... Pandu juga masih ada pekerjaan," balasnya.


"Ya sudah ... hati-hati di perjalanan yah. Yang menyetir pelan-pelan saja ya Mas Pandu. Salam untuk Bapak dan Ibu di Jogja," balas Pak Agus.


"Nggih Pak ... nanti disalamkan kepada Bapak dan Ibu," balas Pandu dengan begitu santun.


Ervita pun berpamitan dan memeluk ibunya itu, "Pamit nggih Buk," ucapnya.


"Iya, hati-hati ... didoakan Ibu rumah tanggamu dengan Mas Pandu selalu rukun, saling momong (mengasuh) satu sama lain, dan segera isi (hamil) yah," doa dari Bu Sri untuk anaknya.


Ervita pun tersenyum, "Menikah juga baru satu bulan Bu, nanti kalau isi ya Ervi akan memberikan kabar kepada Ibu," balasnya.


Bu Sri pun menepuk bahu menantunya kini, "Jangan menunda untuk memiliki momongan ya Mas Pandu ... biar tambah raket (semakin dekat) berumahtangganya," ucap Bu Sri.


Pandu pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Nggih Bu, diparingi doa mawon (diberikan doa saja - dalam bahasa Indonesia)."


Setiap orang tua sudah pasti mengharapkan bahwa anaknya yang sudah menikah bisa memiliki buah hati. Walau sudah ada Indira, tetapi keluarga dari pihak Ervita juga tidak masalah jika mereka mendapatkan cucu lagi dari Ervita dan juga Pandu.


“Lain kali main ke sini lagi ya Mbak … sering-sering main ke sini, biar bisa main sama Indi,” ucap Mei sekarang.


“Kamu dan Tanto, mainlah ke Jogja. Ke rumahnya Mas Pandu, menginap di sana,” balas Ervita.


Mei dan Tanto pun tersenyum, “Baik Mbak … kapan-kapan kami main ya Mas, boleh kan?” tanya Mei kepada Kakak Iparnya itu.

__ADS_1


“Tentu … silakan,” balas Pandu.


Usai berpamitan dengan keluarganya, Pandu dan Ervita pun menuju ke mobil mereka dan hendak kembali ke Jogja. Ketika mereka berjalan keluar dari gang kecil, dan menuju ke mobil milik Pandu, rupanya mereka berpapasan dengan Firhan yang lagi-lagi menunjukkan batang hidung. Pria itu menatap tajam pada Ervita dan Indira di sana.


Menyadari keberadaan Firhan, Pandu pun segera menggandeng Ervita di sana. Lebih baik untuk mengabaikan pria yang hanya bisa terus-menerus menyakiti Ervita.


"Langsung masuk ke dalam mobil saja, Nda ... tidak usah menghiraukan dia," ucap Pandu.


"Iya Mas Pandu," balas Ervita.


Hingga akhirnya, Pandu membukakan pintu mobil untuk Ervita dan Indira, kemudian Pandu pun perlahan-lahan menjalankan mobilnya dan melewati Firhan begitu saja. Tidak ingin mencari masalah dengan pria itu, lagipula jika berbicara, sudah pasti akan menyakiti Ervita.


"Makasih Mas," ucap Ervita begitu mobil mereka sudah mulai menjauh.


"Tentu, Nda ... tidak usah dipikirkan yah. Yang pasti ketika pria itu mengusikmu, aku akan selalu melindungi kamu," balas Pandu.


Ervita pun tersenyum di sana, "Iya Mas ... aku percaya bahwa aku selalu melindungi aku dan juga Indi. Terima kasih banyak yah," balas Ervita.


"Mau mampir dulu enggak Nda?" balas Pandu ketika mobilnya melintasi area Pasar Gedhe Harjonagoro, dengan ikon menara jam yang berdiri di tengah-tengah jalan. 


Ervita pun melirik suaminya, "Perlu beli oleh-oleh buat Bapak dan Ibu enggak Mas? Yuk, mampir sebentar kita belikan oleh-oleh," balas Ervita.


"Ya boleh, Nda," balas Pandu sembari menepikan mobilnya dan mengambil parkir. Kemudian Pandu keluar dari mobil dan segera menggendong Indira, tidak lupa untuk menggandeng tangan istrinya.


Ervita pun mengunjungi Pasar Gedhe Harjonagoro yang merupakan pasar terbesar di kota Surakarta ini. Gaya bangunan yang memadukan arsitek bangunan Belanda dengan atapnya khas Jawa yaitu Joglo ini merupakan pasar yang banyak dikunjungi para wisatawan karena keanekaragaman barang-barang yang dijual di sana. Sekarang, Ervita dan Pandu mampir ke Pasar ini untuk membelikan oleh-oleh untuk mertuanya.


"Bapak dan Ibu sukanya apa Mas?" tanya Ervita kemudian.


"Intip, Nda," balasnya.

__ADS_1


Intip sendiri adalah kerak nasi yang cukup familiar sebagai oleh-oleh dari Solo, Jawa Tengah. Biasanya terdiri dari dua varian rasa yaitu asin dan manis yang menggunakan gula jawa. Rupanya Bapak dan Ibu Hadinata menyukai kerak nasi ini. Oleh karena itu, Ervita membelikan Intip asin dan manis untuk mertuanya. Tidak lupa, Ervita membelikan jajanan khas Solo juga untuk mertuanya di Jogja.


Ketika hendak membayar, Pandu kembali menyerahkan dompetnya kepada istrinya itu. "Ini Nda, bayar saja," ucapnya.


Akan tetapi, Ervita lagi-lagi menolaknya. "Ndak Mas ... aku saja," balasnya.


Pandu kemudian tersenyum, dia yang mendekat kepada penjual dan mulai membayar semuanya. Setelahnya, Pandu sendiri juga yang membawa kantong plastik itu. 


"Yuk, ada lagi yang mau dibawa?" tanya Pandu kemudian.


"Enggak Mas ... sudah," balas Ervita.


Setelah dari Pasar Gedhe, kemudian Pandu dan Ervita kembali melanjutkan perjalanan mereka dari Solo menuju Jogjakarta yang ditempuh dalam waktu hampir 2 jam lamanya. Begitu sampai di rumahnya, mereka memilih untuk beristirahat sejenak, dan nanti sore mereka akan ke rumah mertua untuk memberikan oleh-oleh.


"Aku tidur dulu sebentar boleh Nda?" tanya Pandu kemudian setelah berganti baju dan membersihkan dirinya.


"Boleh Mas ... istirahat saja. Abis nyetir Solo-Jogja juga lama. Jadi, ya nyantai dulu saja. Aku sama Indi dulu ya Mas," balasnya.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Iya Nda ... nanti sore kita ke rumahnya Bapak dan Ibu yah. Nginep di sana," ajak Pandu kemudian.


"Nginep Mas? Kenapa memangnya?" tanya Ervita dengan penasaran.


Pandu pun tersenyum, "Aku mau nunjukkin kamu kamarku di rumahnya Ibu dan Bapak. Kamu belum pernah masuk kan?" balasnya.


Ervita pun tertawa, "Kan habis nikah langsung menempati rumah ini, belum pernah masuk ke sana. Paling juga hanya main di Pendopo." 


"Makanya itu, biar kamu tahu kamarku waktu masih jejaka," balasnya.


"Iya Mas Pandu ... aku sih ngikutin kamu saja," balas Ervita.

__ADS_1


Mungkin memang ada yang menarik dari kamar milik suaminya ketika masih menjadi jejaka dan hidup bersama orang tuanya. Rasanya juga ingin melihat seperti apa kamar milik suaminya itu sebelum menikah.


__ADS_2