Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Brambang Asem


__ADS_3

Kurang lebih sudah dua minggu berlalu, kali ini Ervita merasakan tubuhnya yang begitu berat. Sekadar untuk bangun saja, rasanya malas dan lebih menginginkan rebahan di ranjangnya. Walau urusan pagi di dapur sudah dibereskan oleh Ervita dan juga sudah menyuapi Indi. Akhir pekan ini, ketika Pandu mengajaknya untuk jalan-jalan ke Mall menikmati akhir pekan Ervita justru menolaknya.


"Nda, kok rebahan terus sih sejak pagi tadi ... jalan-jalan ke Mall yuk? Beli-beli makanan yang enak gitu," ajak Pandu kepada istrinya itu.


Ervita tampak menggelengkan kepalanya dan kemudian justru memeluk guling yang ada di ranjangnya yang berukuran besar itu. "Hmm, malas Mas ... ngapa sih aku ini, maunya tiduran terus. Mataku juga berat banget, cuma gak bisa tidur," balasnya.


"Kebanyakan baca novelnya Kirana mungkin kamu, Nda," balas Pandu.


Pandu mengatakan demikian karena memang Ervita baru begitu suka membaca novel digital yang ditulis oleh author bernama Kirana. Berlama-lama dengan novel yang ditulis author tersebut, membuat Ervita kadang senyum-senyum sendiri, kadang menangis sendiri, dan terkadang dia langsung memeluk dan menempel suaminya di sana. Seakan Pandu sudah begitu paham apa yang usai dibaca istrinya yang ditunjukkan dari gestur tubuh istrinya itu.


"Belum baca novel kok Mas ... ni sejak tadi cuma rebahan. Apalagi Indi di rumah Eyangnya, jadinya pengennya rebahan gak mau lepas dari kasurnya. Keenakan kali ya Mas, jadinya nyaman," balas Ervita.


Pandu tersenyum dan mengusapi kepala istrinya itu, "Jadi gimana, kamu mau rebahan terus?" tanya Pandu.


"Peluk dulu dong Mas ... kangen," balas Ervita.


Pria itu mengulum senyuman di sana, dan kemudian menindih tubuh istrinya dengan maksud untuk memeluknya. Ervita yang tubuhnya lebih kecil yang tertutup oleh tubuh Pandu yang begitu liat.


"Sesak?" tanya Pandu kala menindih istrinya dan memeluknya.


"Enggak ... suka," balas Ervita.


Namun, kala Pandu menindihnya, bisa Ervita rasanya denyutan di dekat perutnya. Oleh karena itu, Ervita segera mendorong dada suaminya itu. "Udah ah, bahaya ini," balas Ervita.


Pandu tertawa pecah, dan dia beringsut dari posisinya yang menindih Ervita. Kini Pandu justru berbaring di samping Ervita. Tangannya mengusap-usap kepala Ervita di sana.


"Ketahuan deh," balas Pandu.


"Iyalah ... secepat itu ya Mas? Cuma pelukan loh," balas Ervita.


Pandu kemudian menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, secepat itu kalau sama kamu. Tidak perlu berjam-jam, beberapa detik juga sudah berdiri," balas Pandu tertawa ngakak di sana.


Pun Ervita yang tertawa, heran dengan bagaimana reaksi tubuh suaminya kepadanya itu. Namun, itu memang nyata dan alamiah. Oleh karena itu, lebih baik Ervita menghindar, sebelum terjadi hal-hal yang justru akan memercik api.


"Apa kamu mau palang merah Nda? Tumben males-malesan kayak gini?" tanya Pandu.

__ADS_1


"Enggak tahu ... cuma males banget. Mau beralih dari ranjang kok berat," aku Ervita.


"Kamu ini ... gak mau beranjak, tapi kalau diajak bermain di ranjang nolak," balas Pandu.


Ervita menatap wajah suaminya itu, "Maaf ... baru lemes-lemes gimana gitu loh Mas," balas Ervita.


Pandu kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya, Nda ... santai saja. Masih banyak waktu untuk berselancar sampai ke Swargaloka ... lain kali aku bawa kamu ke Andromeda, Nda," balas Pandu.


Ervita terkekeh geli di sana. "Boleh ... ajak aku menyaksikan malam yang cerah, tanpa bulan, dan tanpa polusi udara ya Kanda," balas Ervita.


"Tentu ... bilang dulu sama author Kirana itu, next time personifikasinya kita ke Andromeda yah. Swargaloka kita alihkan dulu," balas Pandu dengan tertawa.


"Dia itu bisa mempersonifikasikan dengan bagus Mas ... sampai kepikiran Swargaloka. Nanti deh, aku DM ke Kirana biar dia mengilustrasikan dengan cara yang lebih indah. Samudra, Pusara, Andromeda, apa lagi?"


Pandu tertawa mendengar jawaban dari Ervita di sana, "Boleh ... DM aja, minta nomor Whatsapp-nya kalau boleh, nanti dikirimin Batik dan Bakpia," balas Pandu.


Ada-ada saja yang obrolan pasangan suami istri itu. Di kala Ervita merasa badannya terasa lemas, justru mereka berdua bercanda absurd dan membahas penulis novel online yang katanya Ervita pandai mempersonifikasikan dengan indah itu. Cukup lama mereka bercengkerama di ranjang, dan kemudian Ervita beringsut dan duduk.


"Mas, aku kok pengen banget Brambang Asem yah," ucapnya kini.


"Beli di mana Nda?" tanya Pandu. Jika ada yang menjualnya, sudah pasti Pandu akan mencarikan dan membelikan untuk istrinya itu.


Baru beberapa menit, Pandu berselancar dengan handphonenya dan mencari Brambang Asem itu, ada telepon masuk dari Ibunya. Dengan cepat Pandu pun menggeser ikon telepon berwarna hijau di handphonenya.


"Halo, Buk ... ada apa?" tanya Pandu ketika menerima telepon itu.


"Sini Ndu ... ajak Ervi juga. Ibu membuat Brambang Asem ini. Ada Lotisan juga. Siang-siang seger makan yang asam dan sedikit pedas," balas Bu Tari.


"Wah, kebeneran Buk ... ini tadi Ervi juga baru bilang pengen Brambang Asem. Kami ke sana sekarang nggih Buk," jawab Pandu dengan mematikan teleponnya.


Kemudian dia menatap istrinya, "Yuk Nda ... ke rumahnya Ibuk. Pas banget, pas kamu pengen, pas Ibuk membuat Brambang Asem dan Lotis."


Lotis adalah makanan yang terdiri dari buah-buahan seperti Bengkoang, Nanas, Mentimun, Kedondong, Jambu Biji, Belimbing, dan Pepaya yang diiris-iris dan disajikan bersama Sambal gula jawa merah.


"Yuk Mas," balas Ervita dengan begitu bersemangat.

__ADS_1


"Semangat banget Nda," balas Pandu dengan tertawa.


"Pengen banget Yayah," balas Ervita dengan tertawa dengan seakan mendesis karena begitu inginnya dengan Brambang Asem.


Pandu mengajak Ervita menaiki sepeda motor matic miliknya dan menuju ke kompleks sebelah, ke rumah orang tuanya. Di pendopo sudah terjadi Brambang Asem dan Lotis di sana. Bu Tari pun menyambut Pandu dan Ervita di sana.


"Ayo, langsung makan ... Brambang Asem, Lotis, dan Es Rujak," ucapnya.


Melihat semua makanan itu seakan membuat Ervita ngiler jadinya. "Beneran banget loh Buk, tadi Ervi pengen makan Brambang Asem banget," balasnya.


Bu Tari pun tertawa, "Sebegitu pengennya, apa jangan-jangan isi ini," balas Bu Tari.


Terlihat Pandu yang melirik istrinya, sementara Ervita memilih menundukkan wajahnya.


"Biasanya hamil muda pengennya yang kecut asam gini nih. Wah, semoga bener yah ... Ibukmu ini cepet dapat cucu lagi," balas Bu Tari dengan tertawa.


Benarkah sudah ada kehidupan baru di dalam rahim Ervita hanya saja dia belum menyadarinya? Atau memang hanya sebatas menginginkan makanan rakyat khas Jawa Tengah dan Jogja itu saja.


***


Dear My Bestie,


Sembari menunggu bab selanjutnya, mampir juga ke karya terbaru Author yuk yang berjudul Pernikahan Sedarah. Dengan sinopsis sebagai berikut.


Apa jadinya jika pernikahan yang menyatukan dua insan dalam satu biduk dalam rumah tangga, nyatanya harus berakhir lantaran kenyataan pahit!


Hari bahagia ketika Chandra menikah dengan Hayu, harus menjadi hari di mana masa lalu keduanya terungkap. Ada benang merah yang membuat keduanya tak bisa bersatu, itu semua karena dalam tubuh keduanya mengalir darah yang sama.


"Saat semua orang berusaha mempertahankan pernikahannya, kami justru harus mati-matian melepaskan pernikahan ini."



Novel ini tidak akan terlalu panjang, hanya 50an Bab dan tentunya terbit setiap hari. Dukung selalu yah.


Love U All My Bestie,

__ADS_1


Kirana^^


__ADS_2