
Peraduan malam yang sangat indah. Hingga Ervita dan Pandu benar-benar bisa melihat kilauan bintang biru di Andromeda, dengan mata yang terpejam. Padahal, Andromeda adalah galaksi yang bisa dilihat manusia dengan mata telan-jang. Tanpa membutuhkan teropong bintang.
Namun, sekarang Pandu dan Ervita bisa melihat galaksi Andromeda dengan mata yang terpejam. Nafas yang masih terengah-engah, peluh yang masih bersatu seakan menjadi tanda bahwa mereka bisa menggapai Andromeda dengan caranya. Menyentuh aneka bintang yang berkilauan dengan semua sensasi yang tercipta.
"Makasih Dinda," ucap Pandu dengan melepaskan pusaka Lingganya dari inti sari tubuh Ervita.
Sungguh, ketika Lingga itu sudah keluar dari rongga yang hangat dan basah, Ervita merasa kehilangan. Hingga Ervita beringsut dan memeluk Pandu di sana. Kedua matanya masih terpejam, dan dia masih berusaha untuk mengatur pernafasannya.
"Kamu bisa melihat galaksi Andromeda?" tanya Pandu kemudian.
"Iya, aku menggapainya bersamamu," balas Ervita dengan mencerukkan wajahnya di dada suaminya.
Ada senyuman yang mengembang di wajah Pandu, tangannya bergerak dan mengusapi puncak kepala Ervita di sana. "Kamu suka Andromeda atau Swargaloka?"
"Mau Andromeda atau Swargaloka, keduanya aku suka ... asalkan sama kamu yang memanduku menggapai kedua tempat indah itu," balas Ervita.
"Oke, nanti aku ajak kamu berwisata ke tempat-tempat yang indah lainnya. Jangannya menjajaki Andromeda, menuju tempat-tempat lainnya pun, aku bisa," balas Pandu.
Ervita mengulas senyuman di wajahnya, dan dia menatap Pandu di sana. "Kamu hebat banget sih Mas," ucapnya.
"Hmm, hebat gimana?" tanya Pandu dengan pandangan menelisik.
"Ya, hebat ... joss gandos lah," balas Ervita.
Ketika ungkapan dalam bahasa Jawa Joss gandos yang artinya benar-benar hebat dan mantap itu keluar dari bibir Ervita, nyatanya Pandu justru tertawa di sana. Joss dalam arti apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh istrinya itu.
"Jelasin dong Dinda ... joss apa coba?" tanya Pandu. "Setahuku kan joss itu adalah arang yang dibakar sampai mengeluarkan bara api, ketika dia diguyur air, akan terdengar bunyi joosss ... gitu kan?" tanyanya.
__ADS_1
"Ya, kamu seperti itu. Jos banget lah ... luar biasa, aku sampai kehabisan kata," balas Ervita.
Pandu justru kian tertawa. Tentu ini adalah pujian yang Ervita berikan kepadanya. Pun, Pandu merasa bangga karena bisa membawa istrinya terbang, melayang, meledak, dan pecah tanpa sisa.
"Kamu yang luar biasa, Dinda ... bikin aku candu. Luar biasa banget. Mantap jiwa," balas Pandu di sana.
Ervita tersenyum di sana, dan kemudian dia hendak beringsut dan membersihkan tubuhnya. Hari juga kian malam, usai bercinta adalah waktu terbaik untuk tidur karena kualitas tidur malam akan menjadi lebih nyenyak.
"Mau kemana Dinda?" tanya Pandu kemudian.
"Mandi Mas," balasnya.
"Barengan aja yah ... bisa jalan enggak?" tanya Pandu yang sudah beringsut terlebih dahulu dan mengulurkan satu tangannya kepada Ervita.
"Bisa ... aku kalau malam kan sehat. Kalau pagi aja sih yang lemes," balasnya.
"Aku buatkan susu dulu yah," ucap Pandu yang hendak keluar dari kamarnya.
"Harus banget yah minum susu? Aku sudah kenyang Mas ... sore tadi makan Urapan dan Tempe Goreng yang dikasih Ibu. Sampai nambah tadi," balasnya.
Pandu kemudian menganggukkan kepalanya perlahan, "Harus ... biar baby dan Bundanya sehat," balasnya.
Seakan tidak ingin mendapatkan penolakan dari Ervita, Pandu memilih keluar dari kamarnya dan bergegas membuatkan susu khusus ibu hamil dengan rasa Coklat Belgia. Bahkan kali ini Pandu membuatnya dingin, sehingga lebih segar untuk Ervita.
"Diminum Dinda ... aku buatkan dengan penuh cinta untuk kamu dan si baby loh," ucapnya.
"Dingin?" tanya Ervita.
__ADS_1
"Iya, pakai air dingin saja kok ... tanpa es batu. Diminum dulu. Bunda dan bayinya harus sehat," balas Pandu.
Ketika mendengarkan itu, Ervita tersenyum dan perlahan-lahan meminum susu coklat yang tentunya tinggi asam folat yang baik untuk ibu hamil dan bayi dalam kandungan. Setelahnya, Ervita menaruh gelas itu di atas nakas.
"Dulu kamu minum susu kehamilan juga enggak Nda waktu hamil Indi?" tanya Pandu kepada istrinya itu.
Ervita menggelengkan kepalanya, "Enggak Mas ... semua serba terbatas. Dia ada dalam kandunganku dan lahir dalam keterbatasan," balas Ervita.
Pandu kemudian menghela nafas di sana, "Harusnya aku nikahin kamu sejak dulu ya Nda ... walau tidak bisa menyentuhmu, tapi aku bisa memberikan perhatian lainnya untuk kamu dan Indi sejak dalam kandungan," balas Pandu.
Ervita pun tersenyum di sana, "Gak usah, Mas ... nikahnya setelah Indi besar saja. Toh, sekarang kita sudah bersama. Indi juga mendapatkan kasih sayang dari Yayahnya. Aku tidak menyesali lagi yang sudah terjadi di masa lalu, Mas ... tanpa masa laluku, aku juga tidak akan memiliki Indi," balas Ervita.
"Benar Dinda ... bagaimana pun itu memiliki Indi adalah hal terbaik untuk kamu," balas Pandu.
"Iya, dan sekarang memiliki kamu adalah hal terbaik untukku," balas Ervita.
Pandu pun tersenyum dan merangkul bahu istrinya itu, "I Love U, Dinda ... kapan-kapan kita melihat bintang yang gemerlapan lagi yah. Kamu minta melihat Aurora Borealis pun akan ku tunjukkan kepadamu," balasnya.
"Iya Mas ... makasih ya Mas ... Love U too," balas Ervita dengan mencuri satu kecupan di pipi suaminya itu.
***
Dear My Bestie,
Untuk besok dan lusa kemungkinan semua novel saya yang on-going hanya terbit 1 bab yah … karena besok ingin ke luar kota. Namun, jika memungkinkan akan publish malam harinya. Jangan lupa untuk selalu dukung yah … berikan like dan komentar saja Author sudah begitu semangat.
Love U All,
__ADS_1
Kirana^^