Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Kepercayaan Jangan Sampai Usang


__ADS_3

Ketika saudara ipar bisa menjadi layaknya saudara kandung atau sahabat itu benar-benar membuat hubungan terasa lebih baik. Ervita pun menyadari bahwa Pertiwi adalah kakak ipar yang baik. Sejak kali pertama bertemu, dengan sifat Pertiwi yang lebih banyak bicara, ternyata memang Pertiwi itu baik.


Bahkan sekarang Pertiwi bisa menyampaikan sudut pandangnya terkait dengan masa lalu, membuat Ervita yakin bahwa kakak iparnya adalah orang yang baik. Tidak mudah menerima pengkhianatan pacar dan sahabat sekaligus. Namun, Pertiwi berpikir positif itu adalah cara Allah untuk mendekatkannya dengan jodohnya sekarang.


"Bagaimana pun jodoh kita sekarang adalah yang terbaik untuk kita, Vi," ucap Pertiwi.


Masa lalu kemungkinan besar memiliki kisah dan kepahitannya sendiri. Bahkan hal terperih pernah dialami oleh Ervita juga ketika dia juga pernah menjadi Ibu tunggal untuk Indi. Jauh dari keluarga dan hidup seolah dalam pengasingan. Namun, mungkin itu juga cara semesta untuk mendekatkannya dengan jodoh yang terbaik dari Tuhan.


"Apalagi masa laluku dulu yang tidak ada baik-baiknya, Mbak. Bersyukur Mas Pandu dan keluarga bisa menerimaku apa adanya. Aku yang sebenarnya adalah orang asing diterima dan dijadikan keluarga. Bagiku mungkin ini garis takdir juga yang sudah digariskan Allah untukku," ucap Ervita.


Pertiwi pun tersenyum perlahan. "Semua orang punya kesalahan di masa lalu, Vi. Namun, kalau kita bertobat, memohon ampun kepada Allah pasti akan diampuni kok. Yang salah itu adalah ketika ada kesempatan untuk berubah, tapi tidak pernah mau berubah. Itulah yang salah," balas Pertiwi.


"Benar, Mbak ... aku pun jauh dari kata sempurna. Banyak dosanya, Mbak. Namun, aku berusaha tidak lagi berdosa. Kalau dulu, aku kehilangan akal dengan memilih jalur aborsi, aku pasti tambah berdosa, Mbak. Yang aku lakukan berdosa, tapi janin dalam rahimku sama sekali tidak berdosa."


Menceritakan masa lalunya membuat Ervita menitikkan air matanya. Teringat dengan dulu, bagaimana terpuruknya dia. Mengingat dosanya di masa lalu.


"Yang kamu lakukan sudah benar, Vi ... sudah tepat. Wah, ngobrol berdua bisa saling curhat yah. Sedihnya itu, waktu hati galau dan tidak ada tempat berbagi. Kalau ada mau dengerin cerita itu rasanya sudah sangat lega," balas Pertiwi.


Ervita kemudian menganggukkan kepalanya. "Mbak Pertiwi kalau mau cerita-cerita gak apa-apa. Pasti nanti aku dengerin kok. Lagipula, sekarang Mbak Tiwi kan dekat, cerita gak usah mengeluarkan biaya untuk cerita."


"Makasih banyak, Vi. Kamu juga, kalau mau cerita ya cerita aja. Jangan anggap aku sebagai ipar, anggap sebagai saudaramu sendiri, kakakmu sendiri. Jangan sungkan juga," balas Pertiwi.


Ervita merasa senang. Sebab, memang dengan Pertiwi hubungannya baik. Selain itu, saling menempatkan diri layaknya sahabat.

__ADS_1


"Dua hari lagi ketemu sama Pandu dong," ucap Pertiwi sekarang.


Di sana Ervita tersenyum. Rasanya memang tidak terasa akan segera bertemu dengan Pandu. Setelah mencoba hubungan jarak jauh.


"Iya, Mbak ... sudah kangen sama Mas Pandu," balas Ervita.


"Kalau aku ya, Vi ... kadang lama LDR itu kalau ketemu bisa kangen banget, dan seneng banget. Menghargai hari yang sudah berlalu dan dilalui satu dari Jogjakarta, dan satu dari Bandar Lampung. Banyak cerita yang dibagikan bersama. Rasanya sangat menyenangkan. Kangen-kangenan," cerita Pertiwi.


"Itu karena Mbak dan Mas Damar lama ya LDR, jadi begitu ketemu itu pengennya meluapkan kerinduan. Cuma, karena sudah ada anak, nanti mengalah dulu untuk Indi yang pasti kangen sama Yayahnya," balas Ervita.


Lagi-lagi Pertiwi tertawa. "Memang begitu sih, disabotase sama Lintang dulu. Bahkan dia tuh pernah posesif dan kemudian Mamanya gak boleh dekat sama Papanya, katanya Papanya hanya punya Lintang," ceritanya.


"Lucu ya, Mbak ... paling nanti Indi juga kayak gitu. Sayang banget Indi tuh sama Yayahnya," balas Ervita.


Sekarang Ervita mendengarkan sembari menganggukkan kepalanya. Dia sangat percaya bahwa memang kepercayaan itu adalah fondasi dalam sebuah hubungan. Serta memang kepercayaan itu sendiri jangan sampai usang.


Hingga akhirnya, Bu Tari keluar dari rumah. Kemudian bergabung dengan Pertiwi dan Ervita di Pendopo. "Seru ya bisa ngobrol. Kalau rumahnya berdekatan kan enak. Bisa saling ngobrol. Setidaknya ada teman untuk berbagi," ucap Bu Tari.


"Iya, Bu ... Pertiwi kan nemu adik, Bu. Bisa diajak curhat. Kalau Pandu kan adik buat nganterin ke mana-mana," balas Pertiwi.


Di sana Bu Tari tertawa. "Kamu ini, semuanya dimanfaatkan. Satu untuk dengerin cerita, satunya untuk menjadi supir. Jangan begitu, dalam hubungan kekeluargaan itu kenakan guna kata saling. Biar rukun selalu," balas Bu Tari.


"Bercanda, Bu ... kan Pertiwi sukanya bercanda. Hidup jangan dibawa serius, ya kan Vi," balas Pertiwi.

__ADS_1


"Iya Mbak ... nanti Lintang mau sekolah di mana, Mbak?" tanya Ervita kemudian.


"Di dekat sini saja lah, Vi ... jadinya kalau aku jemput, tidak terlalu jauh. Indi mau sekalian sekolah. Bisa jadi adik kelasnya Lintang nanti," balas Pertiwi.


Ervita kemudian mengamati putrinya itu. "Masih empat tahun, Mbak ... ketika Indi sudah lima tahun saja. Takutnya, kalau sekolah terus nanti lama-lama bosen. Kalau lima tahun baru mulai TK saja," balas Ervita.


Sebenarnya sekarang sedang trend anak-anak masih begitu kecil sudah disekolahkan. Bahkan ada yang usia satu atau dua tahun sudah sekolah. Sebenarnya ada baiknya, karena anak akan diasah motorik kasar dan motorik halusnya. Akan tetapi, di usia dini yang anak butuhkan adalah kasih sayang dan teladan dari orang tua. Sehingga, Ervita lebih memilih Indi berada di rumah dulu. Motorik kasar, motorik halus, dan emosi bisa dipelajari di rumah. Selain itu, Ervita juga mengupayakan supaya Indi juga tidak terlalu bosan.


"Iya sih, baru empat tahun, tapi Indi sudah pinter gitu. Lihat tuh bicaranya saja sama Lintang sudah sama. Pinter loh," balas Pertiwi.


"Nanti kalau Indi sekolah, Langit dan Irene biar diasuh Eyang Putri yah. Cucu-cucunya Eyang sekolah yang pinter. Dulu, Eyangnya cuma Sekolah Rakyat yang biasa disebut SR. Anak-anak dan cucu-cucunya Eyang harus sekolah yang tinggi," ucap Bu Tari.


Ya, memang demikianlah orang tua. Dulu, mereka tidak bisa sekolah tinggi dan juga terkendala dengan biaya, bahkan situasi politik masa itu. Namun, sekarang ketika sudah maju, dan juga banyak sekolah yang berkualitas bagus. Para orang tua menginginkan anak-anaknya bisa bersekolah lebih tinggi.


"Mbak Pertiwi dulu kuliah ambil jurusan apa, Mbak?" tanya Ervita kemudian.


"Akuntansi, Vi ... cuma enggak jadi akuntan. Jadinya Ibu Rumah Tangga," balas Pertiwi dengan tertawa.


"Tidak lama usai diwisuda, Pertiwi menikah dengan Damar, Vi. Setelahnya, dibawa ke Bandar Lampung sana. Mendampingi suami penempatan dinas di sana," balas Bu Tari.


Ervita menganggukkan kepalanya. Namun, juga tahu bahwa Pertiwi pun adalah wanita yang cerdas. "Akuntansi kayak aku, Mbak ... cuma aku sampai Semester empat dan keluar," balas Ervita dengan tertawa.


"Tidak apa-apa, Vi ... mengasuh anak, merawat rumah, memecahkan masalah itu juga pembelajaran yang berlangsung sepanjang hayat kok. Menjadi Ibu rumah tangga pun kita juga belajar kok."

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Pertiwi, Ervita menganggukkan kepalanya. Dia sangat setuju bahwa pengasuhan anak, merawat rumah, mempertahankan kehidupan rumah tangga adalah pembelajaran sepanjang hayat. Di mana kita juga harus mengikuti perkembangan, mendidik anak sesuai dengan zamannya, tanpa melupakan tradisi yang ada.


__ADS_2