Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Merasa Diri Lebih Layak


__ADS_3

Ketika orang sudah tidak suka, apa pun yang dilakukan orang itu pastilah akan mendapatkan penilaian negatif. Sama seperti Lina yang menilai Ervita selalu negatif. Berawal dari Ervita yang tak layak untuk Pandu, hingga merepotkan Ervita yang memakan Udon dengan sendok dan garpu, bukan dengan Sumpit.


Sementara Ervita sekarang memberikan tanggapan karena dia merasa bahwa apa pun keadaannya. Dibilang katrok tidak bisa mengenakan sumpit, Pandu juga tidak mempermasalahkannya. Pandu bisa menerima Ervita apa adanya.


"Aku udah bilang sejak dulu, Ndu. Dia gak cocok untuk kamu. Apalagi wanita yang memiliki anak haram," tuding Lina.


Begitu banyak informasi yang Lina gali dan kumpulkan hingga sekarang dia mengatai bahwa Ervita memiliki anak haram. Di sana, Ervita benar-benar tertampar. Dirinya memang bersalah di masa lalu. Ervita tak pernah menyebut Indi haram. Sebab, kehadiran Indi dalam hidupnya juga terjadi atas izin Allah.


Keberdosaan Ervita dia tebus dengan penderitaan selama hamil dan melahirkan. Namun, tak pernah dia mengatakan anaknya itu haram. Dirinya yang bersalah, bukan anak yang dia kandung.


Sekarang, Ervita terdiam. Merasa percuma juga memberikan penjelasan kepada Lina yang jelas-jelas membencinya. Hingga sekarang Pandu yang berdiri.


"Lin, hati kamu penuh dengan kebencian sehingga sudut pandangmu kepada istriku selalu benci," ucap Pandu.

__ADS_1


Lina tak gentar. Sekarang dia justru menatap tajam kepada Pandu. "Dia sama sekali tak layak untukmu. Wanita yang hanya merusak reputasimu."


"Aku tidak memiliki reputasi apa pun. Selain itu, aku juga tidak mengharap ke kamu, Lina. Jangan merasa dirimu sendiri yang paling baik, sampai kamu merendahkan orang lain. Sekarang, silakan pergi!"


Pandu benar-benar emosi. Dia tidak bisa mentolerir ucapan Lina atas istrinya. Sehingga Lina pun sekarang menatap Pandu.


"Kamu keterlaluan, Ndu."


"Jangan menghakimi dosa orang lain, jika memang dirimu sendiri berdosa," balas Pandu.


Begitu Lina sudah pergi, Pandu kemudian menggenggam tangan Ervita. "Jangan dimasukkan dalam hati, Nda. Biarlah Allah yang menghakimi setiap dosa, kesalahan, dan pelanggaran kita. Fokus untuk menata diri lebih baik setiap harinya. Allah lebih menyayangi hamba-Nya yang mau bertobat."


"Benar, Vi. Jangan dimasukkan ke dalam hati. Seorang orang punya masa lalu. Aku setuju dengan Pandu. Biarlah Allah saja yang menghakimi. Jangan biarkan terintimidasi oleh penghakiman manusia yang hanya berdasarkan kebencian semata," ucap Pertiwi menambahkan.

__ADS_1


"Cintanya ke Pandu tak terbalas. Sehingga merasa diri sendiri lebih baik. Jika, ada yang bersanding dengan Pandu, dia merasa tidak rela karena hanya dia saja yang pantas untuk Pandu," ucap Damar.


Perlahan Ervita pun tersenyum dan menganggukkan kepala. "Iya, gak apa-apa. Sudah terbiasa dengan penghakiman seperti ini. Namun, tindakanku mempertahankan Indi lebih tepat, daripada aku menggugurkan dia. Dosaku justru akan berlipat banyaknya. Kiranya Allah memaafkan aku dengan segala salah dan khilafku di masa lalu," balas Ervita.


Pertiwi menganggukkan kepala. Dia paham dengan apa yang diucapkan Ervita. Selain itu, Pertiwi juga setuju mempertahankan Indi adalah hal yang terbaik. Setidaknya tidak lagi menambah dosa.


"Kalau gak bisa memakai sumpit, katrok yah? Ndeso?" tanya Ervita.


"Enggak sama sekali," jawab Pandu, Pertiwi, dan Damar bersamaan.


Jawaban yang kompak sampai Ervita kembali tertawa. Sampai akhirnya, Ervita kemudian menatap mereka bertiga. "Maaf yah," balasnya.


"Tidak perlu minta maaf, Vi. Yang penting kamu nyaman. Jangan dengar ujaran kebencian seperti itu. Selain itu, yang penting adalah hubungan kamu dan Pandu semakin kuat."

__ADS_1


Sekarang Pertiwi memberi sedikit nasihat. Jangan mudah goyah dengan rintangan yang ada. Namun, justru kian memperkuat hingga terjalin ikatan lahir dan batin antara suami dan istri.


__ADS_2