
Semalam benar-benar luar biasa. Baik Ervita dan Pandu sama-sama terjerat dalam nikmat yang tidak bisa mereka definisikan. Mengarungi samudra tanpa batas yang membuatnya hancur dan melebur, terjerat tapi sungguh begitu nikmat. Ketika saling terengah-engah dan menstabilkan deru nafas mereka, ada seutas senyuman yang sama-sama melengkung di bibirnya.
"Love U, Dinda," ucap Pandu dengan merapikan rambut istrinya itu.
Ervita pun terkekeh geli di sana, dan menarik tubuh suaminya, memeluknya dengan begitu erat, "Hemm, Love U, Kanda ... tidak perlu dunia tahu dan orang lain tahu begitu perkasanya kamu," balas Ervita dengan memeluk erat tubuh suaminya yang begitu liat dengan peluh yang masih membasahi tubuh keduanya.
Pandu pun terkekeh mendengar ucapan dari istrinya. "Itu karena aku minum pasak bumi, Nda," candanya.
Pasak Bumi memang adalah tanaman herbal yang dimanfaatkan sebagai obat kuat alami untuk meningkatkan vitalitas pria, terutama dalam hal gairah seksual. Tanaman yang biasa disebut dengan nama Tongkat Ali ini sudah sejak lama dimanfaatkan masyarakat Nusantara untuk meningkatkan stamina dan gairah pada pria.
Ervita pun terkekeh geli mendengar candaan dari suaminya itu, "Pantas kamu seperkasa Gatotkaca," balas Ervita.
Pandu tertawa, "Enggaklah ... Gatotkaca kan otot kawat, tulang besi. Aku enggak sehebat dia. Aku sih B aja, Nda," balasnya.
"Tanpa Pasak Bumi saja kamu sudah luar biasa Mas ... sampai aku kehabisan kata-kata," aku Ervita dengan menghela nafas dan masih memeluk Pandu di sana.
"Tanpa Pasak Bumi aku juga bisa menghunus dalam ya Nda ... memasuki inti bumi," balasnya.
Ervita tertawa, dan mencerukkan wajahnya di dalam dada suaminya. Candaan receh yang kian menambahkan produksi hormon dophamine yang membuatnya semakin bahagia. Hormon oksitosin terlepas dan tergantikan dengan hormon dophamine yang membuatnya bahagia.
"Udah, besok kembali ke Jogjakarta, tinggal full untuk Indi. Sudah benar-benar puas di Surabaya. Makasih Dinda, sudah mau menemaniku bekerja dan sambil curi-curi waktu untuk menggapai Swargaloka. Di tempat itu aku Dewanya, dan kamu Dewinya," balas Pandu.
"Kenapa nama kamu bukan Pandu Dewanata aja sih Mas?" tanya Ervita.
Pandu menggelengkan kepalanya, "Enggak ... Pandu Hadinata saja. Kalau Pandu Dewanata nanti aku diasingkan dari kerajaanku, dan mati muda karena bercinta. Kutukan dari resi yang membuat Pandu meninggal bersama Dewi Madrim karena sedang bercinta. Aku sih gak mau. Mending Pandu Hadinata saja, yang bisa puas menggapai Swargaloka bersama Dewiku," balasnya.
__ADS_1
Ervita makin tertawa hingga menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari suaminya itu. Memang di dalam epos Mahabarata, Pandu terusir dari kerajaannya sendiri, Hastina Pura, dan kemudian dia mendapat kutukan dari seorang resi bahwa ketika dia bergairah dan bersetubuh dengan istrinya, maka Pandu Dewanata akan meninggal. Terbukti, dia meninggal kala bercinta dengan Madrim.
"Malahan bahas Mahabarata loh," balas Ervita.
"Lha kamu tadi bilang kenapa namaku tidak Pandu Dewanata ... gak mau ah. Enaknya Pandu Hadinata yang akhirnya bisa mempersunting Ervita," balas Pandu.
"Nggih Mas Pandu ... manut aja deh," balas Ervita.
"Bobok gini aja ya Nda," ajak Pandu kemudian.
"Hmm, iya ... peluk ya Mas," pinta Ervita dengan sedikit manja.
"Pasti Dindaku ... makin erat, makin hangat," balas Pandu dengan begitu absurdnya.
***
Keesokan harinya ...
Sekarang Ervita dan Pandu sudah menaiki kereta api untuk kembali pulang ke Surabaya. Bukan capek, tetapi keduanya terlihat lebih bugar dan juga di sepanjang perjalanan dengan kereta beberapa kali Ervita manja kepada suaminya. Ya, ada kalanya dia menyandarkan kepalanya di lengan suaminya, atau tangannya yang tiba-tiba mengapit lengan Pandu di sana.
"Kelihatannya kamu baru bahagia ya Dinda?" tanya Pandu.
"Kalau sama kamu, aku selalu bahagia kok Mas," aku Ervita. Ini bukan sekadar jawaban asal, tetapi Ervita merasakan bersama Pandu, dia begitu bahagia. Sekadar menatap wajah suaminya, menggenggam tangannya, atau bermanja-manja ria dengan suaminya sudah membuatnya begitu bahagia.
"Jangan-jangan aroma si baby udah otewe ini, Bundanya jadi cerah seperti ini," goda Pandu.
__ADS_1
Ervita pun tersenyum di sana, "Kalau beneran ya Alhamdulillah, kejar tayang di Surabaya membuahkan hasil," balas Ervita.
"Benar Nda ... kalau langsung jadi ya berkah ya untuk kita. Cuma, aku suka kamu lebih manja kayak gini. Memanjakan istri sendiri itu luar biasa nikmatnya," balas Pandu.
"Kamu juga memanjakan aku dan Indi kok Mas ... perhatian kepada kami berdua. Makasih Yayah," balas Pandu.
"Sama-sama Bunda," balas Pandu.
Dalam perjalanan dengan kereta api itu, Ervita dan Pandu melihat pematang sawah yang mulai menguning, tempat-tempat yang baru untuk mereka, melintasi sungai dan akhirnya kereta api berhenti sebentar di Stasiun Balapan Solo, untuk menurunkan penumpang dan menaikan penumpang.
"Sudah sampai Solo nih," balas Pandu lagi.
"Iya, cuma aku kangen sama Jogja ... kangen Indi dan kamar kita. Aduh, kalau kamu begitu luar biasa, jadi kangen kamar terus Mas," goda Ervita dengan lirih.
Pandu pun menahan tawa dan melirik istrinya dengan wajahnya yang kemerah-merahan itu antara malu dan tawa menjadi satu.
"Fixed ini ... semoga tidak lama lagi kabarnya baik. Tiap malam kan bisa Dinda ... asal kamu tidak kenceng-kenceng aja, nanti Didi bisa bangun," balasnya.
Ervita pun tertawa hingga bahunya bergetar, "Yang bikin aku kayak gitu juga kamu," balasnya.
"Gak apa-apa. Yang tahu wujud asliku juga cuma kamu kok. Sudah jalan lagi nih keretanya. Satu jam lagi sampai di Jogjakarta. Sudah kangen sama anak kita ya Nda," balas Pandu.
"Iya, kooperatif banget sih Indi. Tidak rewel loh, cuma minta adik aja," balasnya.
"Ya, semoga Tuhan juga dengarkan doa anak kecil yah ... biar makin ramai rumah kita. Bisa main-main dan mengasuh anak di Pendopo ya Nda ... diajak mainan dakon kayak zaman dulu itu kan lucu," balas Pandu.
__ADS_1