Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Persalinan Kian Dekat


__ADS_3

Hamil besar dan sembari bekerja di rumah bukan hal yang berat untuk Ervita. Sebab dulu, ketika hamil Indi pun, Ervita juga bekerja, dan dulu justru Ervita menjaga kios di Pasar Beringharjo. Sekarang di rumah, tentu kesempatan untuk istirahat lebih banyak.


Namun, kali ini Pandu sudah memilih untuk bekerja dari rumah, karena si Yayah sudah khawatir jika istrinya itu merasakan bersalin secara tiba-tiba. Sehingga lebih baik untuk bekerja saja dari rumah, sembari mengamati istrinya dengan tanda-tanda persalinan yang datang.


Sama seperti siang ini, Pandu yang terlihat lebih santai, menyusul Ervita di Pendopo dan melihat apa saja yang dipacking istrinya untuk dikirimkan kepada kurir pengiriman.


"Ada yang perlu dibantuin enggak, Nda?" tanya Pandu.


"Boleh Mas, ikatkan ini dengan tali rafia dulu ya, Mas. Nanti baru diplastik, soalnya ini untuk reseller, Mas. Jadi belanjanya banyak," balas Ervita.


Pandu pun segera mengambil tali rafia dan mengikat kemeja batik seperti yang sudah diinstruksikan oleh Ervita. Sembari menali kemeja batik yang jumlahnya satu lusin itu, Pandu tiba-tiba tersenyum. Sejenak pria itu melirik ke istrinya.


"Dinda, teringat dulu waktu kita bekerja bersama di Kios yah?"


Pandu rupanya teringat dengan kegiatan keduanya dulu di Kios Batik. Sering kali packing seperti ini yang keduanya lakukan. Walau tidak bekerja sepenuh hari, lebih tepatnya hanya dari jam 14.00 saja, tapi Pandu juga cekatan untuk membantu Ervita di kios. Ketika Ervita menata untuk pembelian online, Pandu yang akan membantu untuk menali dengan tali rafia.


"Ingat yah Mas?" tanya Ervita kepada suaminya.


"Ingat dong ... bantuin kamu menali seperti ini. Mengikatnya kuat. Sekarang aku bahagia bisa mengikatmu dalam ikatan suci pernikahan," balas Pandu.


Lucu rasanya. Dulu memang sebenarnya ada rasa Pandu sudah simpati dan naksir dengan Ervita. Akan tetapi, Pandu merasa bahwa Ervita pasti tidak mau jika Pandu menikahinya. Ketika Indi sudah berusia 2 tahun, akhirnya barulah Pandu berani untuk mengungkapkan isi harinya dan juga meminang Ervita. Pria itu benar-benar mengikat Ervita dalam ikatan suci pernikahan.


"Ikatan cinta ya Mas?" tanya Ervita.


Pandu pun menganggukkan kepalanya. "Benar ... diikat kuat, tidak akan dilepas. Masa berlakunya seumur hidup," balas Pandu.

__ADS_1


Ya, Pandu menilai bahwa pernikahan itu berlaku seumur hidup. Untuk itu, Pandu dengan terus terang mengatakan bahwa dia akan mengikat Ervita untuk seumur hidup lamanya. Tidak akan melepaskan ikatan suci itu.


"Iya Mas, aku juga maunya seumur hidup sama kamu kok," balas Ervita.


"Sampai kita menjadi Kakek dan Nenek ya, Nda. Melihat Indi dan adiknya tumbuh besar, menikahkan mereka dengan jodoh yang tepat, dan juga mendapatkan cucu-cucu yang lucu," balas Pandu.


"Iya Yayah ... semoga Allah mendengar dan menjawab doa kita," balas Ervita.


Setelahnya, Ervita mengambil alamat pengiriman yang sudah dia print sejak pagi tadi, dan menyelesaikan packing. Kala itu, Ervita merasakan ingin buang urine terlebih dahulu, sehingga dia berpamitan dengan suaminya untuk ke kamar mandi terlebih dahulu.


"Mas, aku ke kamar mandi terlebih dahulu yah," pamitnya.


"Iya, Dinda ... mau dianterin enggak?" tanya Pandu.


"Sendiri aja bisa kok," balasnya.


"Mas, Mas Pandu," panggilnya.


"Hmm, ya Dinda ... ada apa?" tanya Pandu.


"Perutku kok mules ya, Mas ... terus ini tadi ada bercak darahnya deh, Mas. Bisa anterin ke Rumah Sakit enggak? Kali aja sudah terjadi pembukaan," balas Ervita.


Kali ini Pandu seolah teringat dengan momen ketika Ervita dulu hendak melahirkan Indi. Baru juga sampai di Pasar Beringharjo, Ervita sudah merasakan perutnya yang terasa sakit. Sekarang, mungkinkah Ervita juga akan mulai bersalin bahwa waktu beberapa jam lagi.


"Ganti baju dulu yuk? Aku bereskan dagangan kita dulu yah," balas Pandu.

__ADS_1


Pandu mengajak Ervita untuk masuk ke dalam kamar, mengganti bajunya. Pandu sendiri juga berganti baju dan juga membereskan packingan batik yang sebenarnya sudah hampir selesai.


"Tas untuk persalinan sudah siap, Nda?" tanya Pandu.


"Sudah, Mas ... koper silver itu, Mas," ucap Ervita yang duduk, wajahnya tampak meringis sakit dan tangannya bergerak untuk mengusapi perutnya.


Mengambil koper itu, kemudian Pandu mendekati Ervita. "Sakit banget yah?" tanyanya.


"Lumayan, mules ... sama pinggangku sakit," jawab Ervita.


Pandu berlutut di depan Ervita, dia mengecup perut istrinya yang begitu membuncit itu. "Adik bayi kalau mau segera lahir tunggu dulu yah ... Ayah anterin kamu dan Bunda ke Rumah Sakit dulu yah," ucapnya.


Setelah itu, Pandu mengajak Ervita untuk menuju ke mobilnya. Tidak lupa, Pandu memberitahu kepada orang tuanya dan mengabarkan kondisi Ervita yang merasa mules dan pinggangnya sakit. Indi yang sudah di rumah Eyangnya pun bertanya kepada Eyang Putrinya.


"Eyang Putri, Yayah dan Nda pergi yah?" tanyanya.


"Iya, Yayah dan Ndanya Didi baru ke Rumah Sakit dulu yah," jawab Bu Tari.


"Nda sakit apa Eyang?" tanya Indi lagi.


"Didoakan saja ya, Didi ... kalau benar sebentar lagi Didi bakalan punya adik bayi kayak Mbak Lintang yang memiliki adik bayi," balas Bu Tari.


Indi pun berusaha mendengar penjelasan dari Bu Tari. Dia pikir Bundanya sakit sehingga harus ke Rumah Sakit, ternyata memang mungkin hari persalinan segera tiba.


"Indi di sini dulu sana Eyang yah? Main sama Mbak Lintang dulu," ucap Bu Tari.

__ADS_1


"Iya Eyang," balas Indi.


Di dalam hatinya, Bu Tari sebenarnya juga merasa cemas. Sontak saja teringat dengan waktu beberapa tahun lalu ketika Ervita sendirian melahirkan Indi. Mengingat itu, hati Bu Tari merasa sesak. Di kamar bersalin tidak ada yang menemani Ervita. Sekarang ada Pandu yang akan menemani Ervita. Semoga Allah akan melancarkan semuanya.


__ADS_2