Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Cinta itu Menjaga


__ADS_3

Denting suara gerimis, berpadu dengan angin yang berhembus sayup-sayup menebarkan rasa basah. Dua orang yang masih melantai duduk bersama di Pendopo itu, tampak masih berputar-putar dengan obrolan mereka.


"Ehm, Mas Pandu sudah lama jomblo yah?" tanya Ervita kemudian.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... lima tahun mungkin," balasnya.


Tampak Ervita membolakan matanya. Lima tahun adalah rentang waktu yang lama bagi seorang pemuda bisa menjomblo. Apa yang sebenarnya terjadi sampai Pandu begitu betah menjomblo dalam waktu yang begitu lama? Apakah tidak tertarik dengan wanita dalam kurun waktu belakangan ini?


"Lima tahun Mas? Lama banget ... sakit hati atau gimana Mas?"


Ervita bertanya dan juga penasaran juga apa yang membuat Pandu sampai seolah antipati dengan wanita. Pasti ada sebab musababnya. Tidak mungkin seseorang mengalami satu peristiwa dan tidak ada penyebabnya sama sekali.


"Ceritanya panjang, Vi ...."


"Kalau Mas Pandu mau cerita gak apa-apa, aku dengerin kok," balas Ervita.


"Panjang enggak apa-apa?" tanya Pandu lagi.


Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Iya, gak apa-apa," balasnya.


"Aku dikhianati lebih tepatnya, Vi ... saat itu mantan pacarku justru jalan sama sahabatku sendiri. Lebih tragis, aku mengetahuinya langsung, mereka 'main' bersama di tenda, waktu kami sama-sama mendaki Gunung Andong," cerita Pandu.


***


Lima Tahun Lalu ....

__ADS_1


Pandu, bersama teman-temannya berencana untuk mendaki Gunung Andong. Gunung Andong sendiri adalah gunung kecil yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tinggi gunung ini sekitaran 1.726 meter di atas permukaan air laut. Di kawasan ini, banyak pendaki yang berkemah, mendirikan kamp, dan menikmati matahari terbit karena sunrise di gunung ini sangat indah.


Hari ini, Pandu dan teman-temannya yaitu Roni dan Hardi memasang tenda di sana. Ada pacar Pandu waktu itu yang turut mendaki yaitu Lina dengan temannya yang lain Nina dan juga Tita. Pandu dan yang lainnya, sepekat untuk berkemah di sana selama satu malam, dan keenam orang itu akan sama-sama menikmati Sunrise sebelum turun dari pendakian dan turun untuk kembali pulang.


Pagi buta, ketika hari masih gelap. Pandu terbangun karena ingin mencari toilet yang ada di sekitaran tempat kemah, pemuda itu bangun dengan membawa senter di tangannya karena memang masih gelap dini hari ini, ditambah udara dingin di pegunungan membuat Pandu pun mengenakan jaket tebal.


Ketika Pandu keluar dari kemahnya yang memang dia tempati sendiri, pagi buta yang tanpa suara, kalau ada itu hanya gemerisik angin dari pepohonon di sekitaran gunung dan beberapa burung yang berkicau, Pandu mendengar de-sahan dua anak manusia. Walau begitu lirih, tetapi telinga Pandu yakin bahwa itu adalah de-sahan suara anak manusia.


"Hhh, Roni ... Roni."


Jujur saja, kala mendengar suara itu Pandu pikir, kawannya yaitu Roni sedang mencumbu salah satu dari teman-teman cewek yang ada di sana. Penasaran, Pandu pun mendekat di tenda itu dan sedikit mengintip dengan siapa Roni melakukan itu.


"Lin ... Lina ... nikmat Lin, Pandu bodoh banget sih enggak pernah nyentuh kamu. Kamu nikmat, Lin."


Deg!


"Beruntungnya aku jadi yang pertama, Lin ... Lina," racau Roni lagi.


Begitulah Pandu, dia memang tidak ingin menyentuh kekasihnya, karena dia berpikir bahwa cinta itu melindungi. Cinta itu bukan merusak. Namun, yang terjadi sekarang di dalam kemah itu, di lereng Gunung Andong, Pandu merasakan pengkhianatan dari kekasihan dan kawannya sendiri.


Pagi itu juga kala surya menyingsing, Pandu tidak ambil pusing lagi, dia memutuskan Lina di sana, dan lantas Pandu memilih turun terlebih dahulu dari sana. Pandu pergi dengan membawa luka dan seakan hatinya hancur di sana.


***


"Itu kisahku, Vi ... sangat tragis. Usai itu aku kehilangan kepercayaan dengan cewek dan juga kawan. Aku enggan untuk bertemu Roni lagi. Kenapa dia begitu teganya memakan temannya sendiri," cerita Pandu dengan menghela nafas sepenuh dada di sana.

__ADS_1


"Mungkin aku terbilang kolot. Hanya saja bagiku cinta itu sama-sama saling menjaga, saling merawat, dan kita tumbuh bersama karenanya. Bukan sekadar mengejar kepuasan semata. Jika demikian, itu bukan cinta," ucap Pandu lagi.


Ervita tertegun dengan rasa Pandu memandang sebuah hubungan. Ketika Ervita merasa bahwa semua pria itu berengsek dan hanya mencari keuntungannya sendiri, rupanya ada seorang pria yang begitu menghargai sebuah hubungan. Bahkan berkata bahwa cinta itu menjaga, merawat, dan tumbuh bersama.


"Udah ... jadi banyak kan bicaranya," ucap Pandu kemudian.


Ervita pun tersenyum di sana, "Mas Pandu keren, Mas ... aku yakin kala itu mungkin Semesta memiliki caranya untuk menunjukkan siapa Lina yang sebenarnya. Daripada kian larut menjalaninya, justru Mas Pandu akan lebih terluka," balas Ervita.


Sama seperti dirinya, walau terluka. Namun, Sang Khalik selalu memiliki cara untuk menunjukkan sesuatu kepada manusia. Menunjukkan apa yang terjadi, dan juga mendorong umat-Nya untuk mengambil keputusan dan pilihan dalam hidup ini.


"Benar sih ... jika aku tidak tahun pagi buta itu, mungkin selamanya aku akan buta. Aku menjaganya, tidak menyentuhnya bukan karena tidak cinta, tetapi aku mau menyentuhnya setelah dia halal untukku. Makanya, sekarang ... aku kalau siap langsung menikah saja," balas Pandu kemudian.


"Iya Mas ... pacaran banyak dosanya. Sama kayak aku dulu, berdosa banget," balasnya dengan menghela nafas dan menundukkan wajahnya.


Tidak mudah mengakui dosa-dosa kita di hadapan orang lain. Akan tetapi, menurut pengalamannya dulu, Ervita mengakui bahwa ketika berpacaran dulu Ervita sudah jatuh dalam dosa yang teramat dalam hingga banyak hal yang harus dia jalani dan tanggung sendiri.


"Tidak apa-apa, Vi ... Allah maha pengampun kok, Dia pasti mengampuni dan menyucikan dosamu," balas Pandu kemudian.


"Amin ... semoga saja," balas Ervita.


"Kamu tidak ingin menikah lagi, Vi?" tanya Pandu kemudian.


Ervita menggelengkan kepalanya secara samar, "Tidak Mas ... menikah mungkin satu-satunya hal yang belum ada di kepalaku. Aku tidak ingin mendapatkan suami yang hanya ujung-ujungnya menyakiti. Lebih baik, aku hidup berdua saja sama Indi," balasnya.


"Tidak semua pria seperti itu, Vi ... ada juga kok pria yang baik dan tidak menyakiti," balas Pandu.

__ADS_1


Ervita tersenyum getir, "Tidak mudah seorang pria baik-baik dari keluarga baik-baik menerima aku yang penuh dosa dan membawa aib ini, Mas. Aku bukan janda, bahkan aku hamil dan melahirkan di luar nikah. Aku lebih hina, Mas," balas Ervita.


Janda jauh lebih mulia karena mereka setidaknya pernah bersuami. Sementara untuk Ervita, menikah pun tidak, tetapi dia memiliki anak di luar pernikahan. Tidak ada aib dan cela yang begitu besar, dari cela dan aib yang ditanggung oleh Ervita selama ini.


__ADS_2