Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Lebaran Ketupat


__ADS_3

Kembali ke Jogjakarta, sekarang Bu Tari tampak sibuk membuat ketupat. Semua ini juga karena satu minggu setelah lebaran, masyarakat Jawa akan merayakan Lebaran Ketupat. Di mana masyarakat akan membuat ketupat dan memakannya bersama-sama.


Asal mula lebaran ketupat ini dimulai oleh Sunan Kalijaga, salah satu dari Wali Songo (Sembilan Wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa dan beberapa pulau di Nusantara). Ketupat adalah jenis makanan yang dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam janur (anyaman daun kelapa). Janur itu dianyam hingga menjadi semacam kantong berbentuk prisma, kemudian dimasak. Setelah itu, ketupat akan diantarkan ke kerabat terdekat atau orang yang lebih tua.


Dalam sejarahnya, Kupatan adalah hasil dari pemikiran para Walisongo dalam menyebarkan dakwah Islam melalui budaya. Umumnya, tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Jawa yang selalu digelar setelah perayaan Hari Raya Idul Fitri sebagai harapan agar dapat saling memaafkan.


"Baru membuat apa, Bu?" tanya Ervita kepada ibu mertuanya.


"Buat ketupat, Vi. Kan hari ini lebaran ketupat. Tadi, Ibu beli ketupat sedikit. Bisa merayakan ketupatan bersama," balas Bu Tari.


Barulah Ervita ingat bahwa memang sekarang adalah hari ketujuh usai lebaran. Dulu di Solo, Ibunya juga selalu membuat ketupat dan dinikmati bersama keluarga. Terlebih di Solo ada tradisi melabuh ketupat di Sungai Bengawan Solo. Bahkan ada beberapa tokoh tersohor yang akan menjadi Jaka Tingkir dan melabuhkan ketupat di Sungai Bengawan Solo. Warga Solo berebut ketupat karena dipercaya membawa berkah.


"Ervi baru ingat bahwa hari ini lebaran ketupat," balasnya.


"Di Solo ada juga kan?" tanya Bu Tari.


"Ada, Bu. Dulu di Taman Satwa Jurug yang sekarang menjadi Solo Safari selalu dijadikan tempat untuk melabuh ketupat. Ervi masih kecil waktu itu, seneng banget kalau melihat labuhan ketupat," ceritanya.


"Di labuh di mana, Vi?" tanya Bu Tari lagi.


"Di Sungai Bengawan Solo, Bu. Sudah menjadi tradisi sejak zaman kerajaan kasunanan Surakarta. Jadi itu dilakukan terus menerus," cerita Ervita.

__ADS_1


Setelahnya, Ervita membantu Bu Tari membuat Sambal Goreng. Sebab ketupat akan sangat enak dimakan dengan Sambal Goreng. Memang begitulah Ervita, tanpa diminta sudah berinisiatif untuk membantu Ibu mertuanya.


"Seneng loh, Ibu ... kamu itu, tanpa diminta sudah mau membantu," kata Bu Tari.


"Iya, Bu. Kalau cuma bantu-membantu pasti Ervi juga akan bantuin kok," balasnya.


"Menantu yang baik kamu, Vi. Anak-anak gak rewel Bundanya masak di sini?" tanya Bu Tari lagi.


Dengan cepat Ervita menggelengkan kepalanya. "Enggak, Bu. Kalau sudah sama Yayahnya, aman. Justru Nda nya yang gak dapat tempat. Indi dan Irene sama-sama nempel Yayahnya," balas Ervita.


Mendengar cerita Ervita, Bu Tari tertawa. Namun, memang begitulah dalam pengamatannya bahwa Indi dan Irene begitu menempel dengan Pandu. Bahkan tak jarang Pandu memangku kedua putrinya bersamaan. Satu di paha kanan dan satu di paha kiri.


"Anak gadis memang menganggap ayahnya itu cinta pertamanya, Vi. Yang sabar, atau kamu mau nambah momongan lagi. Cowok gitu, sapa tahu mau nempelan Bundanya," balas Bu Tari.


"Kamu dan Pandu masih muda-muda. Tambah lagi. Kelihatannya Pandu juga tidak keberatan," balas Bu Tari.


"Iya, Bu. Ervi dan Mas Pandu juga pengennya dua saja dulu."


Setelah sekian lama memasak bersama ketupat dengan Sambal Goreng, Opor Ayam, dan Kerupuk Udang sudah tersedia. Selain itu, Pertiwi juga membuatkan Es Kopyor yang akan menemani bersantap siang.


"Yuk, kita bawa ke Pendopo yuk, makan bersama," ucap Bu Tari.

__ADS_1


ART di sana yang membawa makanan keluar, menyajikannya di Pendopo. Agaknya Pendopo itu sudah menjadi tempat nyaman untuk berkumpul keluarga Hadinata. Pak Hadinata pun memulai dan menyuruh anak, cucu, dan menantu untuk menikmati Ketupat Lebaran bersama-sama.


"Ayo-ayo, pada makan dulu. Hari ini masih lebaran, Lebaran Ketupat. Untuk masyarakat Jawa lebaran ini dimaknai sebagai simbol kebersamaan dan kasih sayang," ucap Pak Hadinata.


Ketupat sendiri memiliki arti 'Laku Papat' yaitu Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan. Lebaran yaitu tindakan yang telah selesai, diambil dari kata lebar. Maknanya selesai dalam menjalani ibadah puasa. Luberan atau meluber, yaitu menyimbolkan agar melakukan sedekah dengan ikhlas layaknya air yang berlimpah hingga meluber dari wadahnya. Maka, tradisi membagikan berbagi atau bersedekah di hari raya Idul Fitri menjadi kebiasaan umat Islam di Indonesia. Leburan yakni memiliki makna lebur sebagaimana dalam bahasa Indonesia. Lebur saat Idul Fitri ditandai dengan meleburnya dosa dengan cara saling bermaaf-maafan atau bersilaturahmi. Laburan berasal dari kata kabur yang artinya kapur putih. Maknanya yakni hati seseorang dapat kembali menjadi putih dan suci setelah melakukan ibadah selama bulan puasa Ramadhan.


Banyak makna dan filosofi dari setiap budaya yang ada dan terus dilestarikan di dalam masyarakat. Oleh karena itu, ibadah tidak berhenti walau bulan Ramadhan sudah berakhir. Pintu maaf dibuka, dan tidak perlu mengungkit dosa masa lalu. Semua sudah dilebur, kembali menjadi putih dan suci.


"Dimaknai dan dilakukan, kita hidup tidak lepas dari tradisi. Orang tua juga banyak salahnya, semoga anak-anakku bisa tumbuh jadi pribadi yang saling memaafkan," kata Pak Hadinata lagi.


Terlihat juga bahwa Pak Hadinata adalah sosok yang bijak. Dulu, ada anggapan bahwa orang tua selalu benar, tapi Pak Hadinata berkata sebaliknya bahwa orang tua juga tempatnya salah. Dia juga berharap bahwa anak-anak selalu rukun dan menjadi sosok yang pemaaf.


Pandu dan Ervita, Pertiwi dan Damar sama-sama menganggukkan kepalanya. Senang sekali setiap kali mendapatkan petuah dari Bapaknya. Petuah dan ajaran seperti ini yang mulai berkurang di zaman sekarang. Oleh karena itu, Pandu dan Pertiwi justru sangat senang ketika mendapatkan banyak petuah tentang hidup dari Bapaknya.


"Ayo, Pertiwi, Pandu, Damar, Ervita dimakan. Kita dilebur dan dilabur bersama. Saling memaafkan yah. Bapak dan Ibu juga minta maaf kalau banyak salah," ucap Pak Hadinata lagi.


"Nggih, Bapak," balas anak dan Menantu serempak.


"Kalau di Solo beda yah, Vi?" tanya Pak Hadinata.


"Maknanya sama, Bapak. Hanya saja di sana ada tradisi Labuhan ketupat di Sungai Bengawan Solo ya maknanya membuang semua dosa, memulai kehidupan yang lebih baik," balas Ervita.

__ADS_1


"Ya, begitu. Solo dan Jogja kan dekat, budaya juga saling terikat. Budaya seperti ini yang harus kita lestarikan," balas Pak Hadinata.


Budaya memang bisa tergerus oleh zaman. Anak-anak dan generasi masa kini yang harus melestarikan. Jika tidak, sudah pasti perlahan-lahan kebudayaan yang penuh nilai filosofi seperti ini akan hilang.


__ADS_2