Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Baru Merasa Sakitnya


__ADS_3

Sementara di tempat yang berbeda. Firhan dan Wati begitu sudah sampai di rumah Bu Yeni, juga langsung masuk ke dalam kamar. Sama seperti Pandu dan Ervita, Firhan dan Wati juga membutuhkan masa tenang. Mengurai lagi kejadian yang baru saja terjadi.


"Mas ...."


Wati memanggil dengan lembut suaminya yang kini duduk di tepian ranjang dengan kedua tangan yang mengusapi wajahnya. Wati sangat tahu bahwa pasti Firhan merasa terluka dan kecewa. Namun, Wati bukan wanita yang egois. Dia akan memberikan waktu, bahkan akan selalu mendampingi Firhan. Selagi Firhan mau berubah, Wati akan selalu mendampingi suaminya.


"Hmm, ya," balas Firhan dengan singkat.


Wati akhirnya mengambil tempat duduk di samping Firhan dan kemudian mengusapi punggung suaminya itu. Wati tahu bahwa mungkin Firhan sedang terguncang emosinya. Berusaha menempatkan diri sebagai Firhan yang memang kali ini adalah hal yang sulit untuk Firhan.


"Kamu tidak apa-apa kan Mas? Kamu boleh kok cerita sama aku," balas Wati.


Firhan menghela nafas panjang dan kemudian menundukkan wajahnya. Sebab, memang hatinya sekarang merasa begitu sakit.


"Aku merasa sakit, saja ... rasanya aneh. Dulu, aku menolak dia. Ketika Ervi datang dan memberikan bukti USG, aku mengelak, dan aku menolak. Bahkan ketika aku KKN di Jogja dan melihat bayi itu di Puskesmas, aku mengoloknya, aku mengatai bahwa benih Ervi sudah tercampur dengan benih pria yang sekarang menjadi suaminya itu. Begitu jahatnya aku dulu. Sekarang, ketika dia memanggilku Om, rasanya hatiku lebih sakit. Apa ini pembalasan Tuhan untukku?"

__ADS_1


Firhan berpikir bahwa semua ini adalah pembalasan Tuhan untuknya. Dulu, dia menolak dan juga mengelak. Firhan pun ingat semua dengan perlakuannya kepada Ervita dulu. Sekarang ketika Indi yang sekarang dia yakini adalah putrinya, justru memanggilnya Om, Firhan baru bisa merasakan sakitnya.


"Kalau saja, dulu aku mau bertanggung jawab, pasti anak itu sudah memanggilku Ayah. Sayangnya, aku terlanjur berdosa. Ketika dia memanggil pria lain dengan sebutan Yayah, aku merasa tidak rela," ucap Firhan lagi.


Wati menganggukkan kepalanya. Dia tahu perasaan suaminya. Namun, juga semuanya sudah terlanjur terjadi.


"Sabar Mas ... kadang Tuhan memang izinkan semuanya itu terjadi. Aku tidak menghakimi kamu, tapi memang Indi mungkin lebih dekat secara hati, secara batin dengan Yayahnya itu. Semua itu juga tidak salah, Mas. Sebab, anak-anak pun memiliki hati yang bersih, mereka bisa mengenali siapa saja yang dekat dengannya. Itu yang membuat Indi tahu bahwa Yayahnya ya suaminya Mbak Ervi itu," balas Wati.


Wati pun berusaha tidak menghakimi suaminya. Dia hanya menyampaikan ucapan yang jujur. Seorang anak memang bisa dekat bahkan bukan yang memiliki hubungan darah dengannya. Semua juga karena ada jalinan yang bisa terjadi secara hati. Lagipula, selama ini sosok yang selalu Indi lihat adalah Pandu. Wajar, saja jika Indi tahunya bahwa Yayahnya memang hanya Pandu saja.


"Aku tahu ... bodohnya aku baru kecewa dan terluka sekarang. Apa semua ini memang hukuman Allah bagiku?"


Firhan menganggukkan kepalanya secara samar, kemudian dia menatap wajah istrinya. "Jika menikah denganku dan kamu masih belum bisa mengandung bagaimana?" tanya Firhan sekarang.


Bukannya skeptis. Namun, Firhan merasa bahwa dia tidak cukup mampu dan perkasa untuk bisa membuahi sel ovum milik Wati. Tidak ada lagi keperkasaan. Yang ada hanya beberapa menit saja, dirinya sudah tidak bisa melanjutkan lagi. Disfungsi e-reksi yang membuatnya merasa bahwa memberikan Wati keturunan dinilai sangat sukar.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kita sambil berobat, sambil berdoa, dan berusaha. Tadi, kita juga mendengar bahwa Mbak Ervi tidak dendam kepadamu, semoga ini menjadi awal yang baik. Tidak ada yang mendendam dan bersumpah serapah. Itu adalah yang baik, Mas," balas Wati.


Firhan memejamkan matanya sesaat dan kemudian menggelengkan kepalanya. "Dulu, aku berdosa dengan mengambil kegadisan dia yang adalah pacarku. Sekarang, hukumannya aku menderita seperti ini. Semoga saja, Tuhan masih berbelas kasihan. Begitu tragisnya hidupku, anak biologisku justru memanggilku Om, jika sampai aku tidak bisa memiliki anak lagi, rasanya semua hukuman ini sempurna untukku," balas Firhan.


"Ada kalanya jangan menilai semua adalah hukuman, Mas. Mungkin Allah memang sedang mencobai kita. Kalau kita selalu mencari Allah dan mengharapkan yang terbaik. Insyaallah, semua pun akan baik adanya."


Tampak jelas bahwa Wati pun menenangkan suaminya. Alih-alih menganggap semua adalah hukuman dari Allah, lebih baik untuk lebih dekat dengan Allah semata. Jika, dekat dengan Allah. Insyaallah semua akan baik adanya. Yang terbaik di mata manusia, belum tentu itu adalah yang baik di mata Allah. Namun, yang baik di mata Allah tentu itu adalah yang terbaik untuk hamba-Nya.


"Jangan patah semangat, Mas. Terima kasih, kamu sudah menguatkan hatimu untuk datang dan meminta maaf. Yang kamu lakukan sudah benar, Mas," ucap Wati.


"Andai, Indi mau memanggilku Ayah, aku lebih senang," balas Firhan.


"Lain kali, dekati baik-baik Mas. Kalau Indi memang belum bisa menerima tidak apa-apa," balas Wati kemudian.


Semua membutuhkan waktu dan proses. Untuk itu, memang lebih baik melakukan pendekatan dengan baik-baik. Kalau suatu hari Indi mau memanggilnya Ayah, itu baik. Jika tidak, maka ya Firhan tidak bisa menolaknya.

__ADS_1


"Baru sakit yang kurasakan sekarang. Setelah, lima tahun waktu berlalu," ucap Firhan dengan hati yang kecewa.


Jika di rumah Ervita, Pandu yang tadi takut jika Indi memanggil Ayah ke orang lain selain dirinya. Di sini, Firhan yang kecewa karena tertolak oleh anaknya. Dilema para pria dengan isi hatinya masing-masing.


__ADS_2