Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Rekonsiliasi Terbaik


__ADS_3

Pandu, pria tampan itu sudah berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Ervita. Dia siap mengajak istrinya untuk memasuki kamarnya dan tentunya untuk mengetuk pintu Swargaloka yang sudah dua pekan ini tidak dia kunjungi bersama dengan Ervita. Tangannya masih terulur dan menunggu tangan Ervita untuk menyambut tangannya.


"Ayo, Dinda," ajak Pandu.


"Kalau gerah Mas?" tanya Ervita yang memang siang itu begitu terik. Bisa-bisa keduanya mandi keringat jika memang akan mengunjungi Swargaloka siang hari ini.


Pandu pun tersenyum di sana, "AC-nya bisa disetel yang paling dingin. Kamu menikmati saja, Dinda ... serahkan semuanya padaku," ucap Pandu.


Merasa tangan Ervita tidak segera bersambut, Pandu pun segera menggenggam tangan Ervita dan mengajak istrinya itu untuk masuk ke dalam kamarnya.


"Di kamar saja yang aman ... kalau di ruang tamu, sudah pasti kamu tidak nyaman," balas Pandu dengan tersenyum penuh arti.


Ervita mengikuti langkah kaki suaminya masuk ke dalam kamar, dan begitu sudah di dalam kamarnya, Pandu segera menghimpit tubuh Ervita hingga punggungnya bersandar di tembok kamarnya. Dua mata beradu, dan Pandu sudah membawa kedua tangannya mengunci bahu Ervita di sana.


"Mau relaksasi terbaik denganku?" tanyanya.


"Aku padahal masih sebel," aku Ervita dengan jujur.


Menurunkan tangannya, lantas kedua tangan Pandu memegangi sisi kiri dan sisi kanan pinggang istrinya itu. "Apa yang masih membuat Nda sebal?" tanyanya.


"Ya, sebel aja ... niatnya liburan malahan jadi bad mood," balasnya.


"Makanya mengunjungi Swargaloka dulu biar hilang bad moodnya," balas Pandu.


Ervita perlahan mengangkat wajahnya dan menatap Pandu yang berdiri di hadapannya. "Jangan pernah terbujuk dengan rayuan dan air matanya ya Mas," pinta Ervita kepada suaminya.


Pandu menganggukkan kepalanya, "Pasti, Dinda ... pasti aku akan menjaga diri dan hatiku. Pandu kemudian menarik satu tangan Ervita di sana dan menyentuhkannya dengan sengaja ke bagian pusakanya. Sang Lingga yang sudah berdiri dan mengeras di sana. "Dia bahkan bereaksi cuma sama kamu, Nda," ucapnya.

__ADS_1


Ervita menggigit bibirnya sendiri, "Tidak mungkin?" tanyanya dengan seakan tidak percaya.


Pandu kembali menganggukkan kepalanya, "Benar ... serius. Apa perlu aku beri detektor di sini?" tanya Pandu.


Dengan cepat Ervita memanyunkan bibirnya dan menatap Pandu dengan kesal di sana. Kemudian Pandu terkekeh perlahan, dan meraih dagu Ervita di sana. Tidak menunggu lama, pria itu segera melabuhkan kecupan demi kecupan di bibir dengan permukaan yang kenyal dan manis itu. Mengecupnya berlama-lama, memagutnya dengan menggerakkan bibirnya perlahan dan kian memegang erat pinggang Ervita di sana. Kedua mata yang selalu terbuka pun perlahan-lahan meredup. Hingga akhirnya, Pandu menjulurkan ujung lidahnya dan mulai melu-mat bibir Ervita.


Ervita menahan nafas dan tampak perlahan larut dalam permainan bibir yang beradu yang dimulai oleh suaminya itu. Tangannya melingkari leher suaminya dengan beberapa mengusap rambut suaminya dan meremasnya perlahan.


Pandu menggeram, pria itu sedikit memiringkan wajahnya dan kian memperdalam ciumannya. Decakan dari dua bibir yang beradu meninggalkan kesan yang begitu seksi. Pun dengan lu-matan bibir Pandu yang begitu intens dan begitu dalam.


Tangan yang semula hanya memegangi pinggang Ervita, perlahan-lahan bergerak dengan sendirinya, menyentuh, meraba, dan membelai lekuk-lekuk feminitas di tubuh Ervita. Bahkan satu telapak tangan Pandu menyusup di kaos yang Ervita kenakan sekarang. Meraba punggung yang halus itu hingga naik sampai tengkuknya, dan melepaskan pengait yang bersembunyi di sana. Pandu menggeram, ketika telapak tangannya membelai sisi buah persik itu dari ramping. Sensasi yang hangat. Ingin Pandu, melucuti satu demi satu, dan kini tangan itu menarik ke atas kaos yang dikenakan Ervita, tubuh yang indah, dengan penangkup yang mulai terbuka dan Pandu langsung menghempaskannya begitu saja. Menarik sejenak bibir, Pandu kemudian menatap Ervita di sana, "Lepas kaosku, Nda," pintanya.


Ervita pun menarik tepian kaos Pandu ke atas dan membuat suaminya itu tampil shirtless di hadapannya.


Pandu tersenyum, dia lantas dengan sendirinya membuat tubuh keduanya polos mutlak, dan dia segera melu-mat bibir Ervita dengan nafas yang lebih menderu, tangannya mulai nakal dan meremas dalam gerakan memutar di area dada istrinya, dan memilin puncak-puncaknya.


Oh, Ervita melenguh di sana dan memejamkan matanya. Dia kian larut, mana kala Pandu menyapa buah persik yang ranum itu dengan bibirnya, dengan lidahnya, dengan mulutnya. Hisapan, lu-matan, dan gigitan yang membangkitkan seluruh bulu roma Ervita.


Kian menggeliat dengan hebat, ketika Pandu memegangi satu buah persik itu dan melahapnya dengan bersemangat. Dia mengusap puncak buah persik itu dengan lidahnya. Menggigitnya dan menahannya, lantas melepaskannya. Kegiatan itu dia lakukan berkali-kali, sampai Ervita mende-sah berkali-kali.


Meninggalkan area dada, Pandu bergerak semakin turun dan dia berlutut di depan Ervita, dia membuai lembah di bawah sana dengan lidahnya. Ervita menyandarkan punggung dan kepalanya di dinding, sembari sesekali Ervita merasa sesak, melihat perlakuan suaminya.


"Sudah Mas ... su ... dah!"


Sungguh, Ervita tidak bisa menahan diri lagi, semua yang dilakukan Pandu amat dan sangat memabukkan. Berdiri, Pandu menghentikan aksinya dan kemudian dia meminta Ervita untuk mengulum Sang Lingga hanya sekadar membasahinya saja. Lantas Pandu sedikit menurunkan pinggulnya, dengan usaha maksimal dia memasukkan Lingga ke dalam Cawan Surgawi Yoni. Keduanya sama-sama mengetuk Swargaloka dengan gejolak yang membara, panasnya melebihi bara api. Bahkan Pandu menahan kedua tangan Ervita di tembok, bibirnya menjatuhkan kecupan demi kecupan di garis leher wanita itu yang jenjang hingga ke dadanya.


"Oh, Dinda ... Nda, mantap!"

__ADS_1


Pandu meracau. Dia benar-benar bisa menggapai Swargaloka sekarang. Sangat indah, sangat hangat, cengkeraman luar biasa dahsyat di bawah sana membuat pria itu menggeram. Bukan hanya matanya, otaknya pun sekarang tertutup oleh kabut, dan kemudian dia menghujam begitu dalam. Satu hingga empat kali hunusan yang dalam dia sarangkan ke dalam Yoni yang erat, basah, dan hangat.


"Nikmat Dinda," ucap Pandu dengan terengah-engah.


Dalam petualangan permainannya, Pandu melepaskan pusakannya dan memberikan tusukan demi tusukan di sana.


"Hadap ke tembok Dinda," instruksi Pandu.


Mengikuti instruksi dari suaminya. Ervita menghadap ke tembok, dan Pandu mulai kembali menyatukan dirinya. Oh, Pria itu mengeksplore punggung Ervita, meraba hingga bagian dadanya, memilinnya dengan cukup kuat. Gerakan seduktif yang Pandu lakukannya benar-benar luar biasa.


"Mas Pandu ... Maaass!"


Itu ada siang menggelora. Siang yang mereka habiskan untuk menggapai Swargaloka. Biasanya di kala malam, keduanya melihat bintang gemerlapan. Sekarang, mereka melihat tata surya dengan lintasan planetnya yang mengorbit dalam tatanan yang indah.


"Nik ... mat, Dinda ... luar biasa. Astaga!"


Pandu menggeram di sana. Hingga akhirnya, pria itu kembali membalik tubuh Ervita, kembali dia menghujam dan mengangkat pinggul Ervita dengan kedua tangannya, membuat wanita itu laksana koala di dalam gendongannya. Bukan ranjang, tempat yang Pandu tuju sekarang adalah sofa. Dia duduk dengan mempertahankan Ervita di pangkuannya. Pria itu tersenyum dengan menelisipkan untaian rambut Ervita, pun meremas bulatan indah di sana. Tubuh Ervita yang meliuk sensual membuat Pandu bersemangat, indah.


"Oh, aku sampai, Dinda," ucapnya.


"Aku juga, Masss!"


Merapatkan tubuh keduanya, hingga di batas keduanya sama-sama merasakan tubuh yang bergetar hebat. Peleburan larva pijar dengan cairan dari cawan surgawi yang berpadu. Sungguh luar biasa, hingga Ervita lemas dalam dekapan suaminya.


"I Love U, Dinda ... ini janjiku, cuma kamu yang aku sentuh. Jadi, jangan meragukan aku. Biarlah di l


uar sana aku tidak normal, tapi untuk kamu ...."

__ADS_1


"Perkasa!"


Ervita menyahut dan memejamkan matanya. Ya, biarkanlah orang-orang menilai semaunya, Sebab, baginya suaminya itu begitu perkasa dan luar biasa.


__ADS_2