Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Mendadak Teler


__ADS_3

Siang ini, di kediaman mertuanya terlihat Ervita yang tampak menikmati Brambang Asem itu. Rebusan daun ketela, kemudian disajikan dengan Sambal yang sedikit pedas dan asam tampaknya begitu membangkitkan selera makan Ervita. Terlihat keningnya sampai berkeringat menikmati Brambang Asem yang dibuat oleh mertuanya itu.


"Tambah, Vi," ucap Bu Tari dengan hendak mengisi lagi daun pisang yang dibuat dengan model pincuk itu yang digunakan sebagai tempat makan agar baunya lebih harum dan rasanya begitu nikmat.


"Sudah Bu ... ini sudah banyak banget. Makasih nggih Bu ... tadi tuh, Ervi baru saja bilang sama Mas Pandu kalau pengen Brambang Asem. Pas banget, Ibuk malahan buat. Jadinya bisa makan di sini," balasnya.


Bu Tari pun tertawa, "Ibuk mungkin tahu apa yang kamu mau. Mau dibuatin Ibuk apa lagi? Besok biar Ibuk masakin, kan besok masih hari Minggu," balas Bu Tari.


"Sudah Bu ... ini sudah terima kasih banget. Tadi itu kayak ngiler gitu, pengen Brambang Asem. Sudah keturutan," balas Ervita.


Bu Tari pun tertawa, "Kamu kayak orang ngidam aja loh, sampai ngiler gitu," balasnya.


"Iya Bu ... aneh ya Buk ... tadi Ervi rasanya lemes-lemes gitu, maunya rebahan terus," cerita Ervita kepada Bu Tari.


Mendengar cerita dari Ervita, nyatanya Bu Tari justru tersenyum di sana. "Apa beneran sudah isi? Dulu, Ibuk itu waktu hamil Pandu awalnya juga begitu loh. Lemes-lemes, maunya makan yang asem dan pedes. Cuma, dihati-hati, jangan terlalu banyak makan pedes. Ibu hamil muda mengurangi pedas dulu," balas Bu Tari.


Sebenarnya Ibu hamil mengonsumsi makanan pedas itu boleh-boleh saja. Hanya saja memang harus dikurangi, karena makanan pedas bisa memperparah Morning Sicknes. Efek sampingĀ  makanan pedas yang bisa terjadi pada kebanyakan orang berupa nyeri ulu hati, mual, kembung, diare, dan asam lambung naik tentunya juga bisa terjadi pada ibu hamil, bahkan dengan gejala yang lebih berat.


Ervita tampak mendengarkan penjelasan dari ibu mertuanya itu. Tentu dia akan mengingat-ingatnya. Kemudian Ervita tampak mencari Teh dan ingin meminum es Teh siang itu.


"Ibuk, membuat Teh enggak?" tanya Ervita.


"Iya, ada ... mau minum Teh?" tanya Bu Tari lagi.


"Iya, pengen Es Teh, Bu ... Ervi buat sendiri ya Buk," balasnya.


Rupanya, dari dalam rumah, suaminya sudah keluar dan membuatkan segelas es teh dingin untuk Ervita di sana. "Minum Nda?" tanya Pandu.


Senyuman pun mengembang di wajah Ervita, "Baru aku mau ke dalam dan membuat Es Teh loh ... semuanya serba kebetulan atau bagaimana sih ini. Seneng banget deh," aku Ervita dengan jujur.


Bu Tari kemudian memanggil Pandu untuk mendekat ke arahnya. Menanyai putranya itu. "Tadi Ervi lemes ya katanya?" tanya Bu Tari.

__ADS_1


"Iya, sejak pagi cuma rebahan saja Bu ... lemes gitu, tapi sekarang makan Brambang Asem jadi semangat," balasnya.


"Mungkin saja Ervi itu isi, cuma belum tahu. Jadi, kamu sebagai suami lebih hati-hati, lebih peka. Kasihan dulu Ervi hamil Indi sendirian. Kalau jadi benaran hamil, lebih diberi perhatian," nasihat dari Bu Tari.


Pandu pun memahami, mungkin saja Ibunya itu mengkhawatirkan bila saja Ervita merasa trauma untuk hamil karena dulu Ervita menjalani kehamilan seorang diri. Tentu ini adalah pesan yang baik untuk Pandu.


"Nggih Bu ... pasti Pandu akan lebih perhatian ke Ervi. Tidak akan membiarkan Ervi sendirian," balas Pandu.


Bu Tari pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Ya, bagus Le ... yang gemati (sayang dengan tulus) dengan istrimu. Biasanya tebakan Ibu itu tidak melesat karena dulu, Ibu juga pernah mengalami hal yang sama. Saat Ibu hamil kamu itu, rasanya Ibu lemes-lemes gitu. Berteman sama kasur. Sapa tahu Ervi ni sama kayak waktu Ibu hamil kamu dulu," cerita Bu Tari kepada Pandu.


"Ibu dulu teler enggak?" tanya Pandu kemudian.


"Beberapa minggu itu teler. Ya, diperhatikan dulu. Kalau Ervi teler, ya nanti Ibu bantu mengasuh Indi. Tenang saja, semua bisa diatasi dengan baik," balas Bu Tari.


Pandu pun agaknya harus lebih peka dan juga melihat bagaimana kondisi Ervita. Semoga saja kalau pun hamil, Ervita bisa selalu sehat dan bisa beraktivitas tanpa ada gangguan.


***


Keesokan harinya ....


Ervita mengusapi bagian tempat suaminya itu dan mengerjap perlahan, "Mas ... Mas Pandu ... Yah," panggilnya mencari suaminya.


Rupanya, sayup-sayup terdengar suara dari kamar Indi, dan rupanya keduanya kini memasuki kamar Ervita bersama-sama. Ervita kemudian kembali berbaring, tubuhnya begitu lemas. Mungkin tulang-tulanganya sampai tidak ada.


"Pagi Bunda," sapa Pandu dan Indi bersamaan.


"Pagi Ayah dan Didi," balas Ervita.


Pandu memperhatikan istrinya itu yang wajahnya lebih sayu, padahal semalam Ervita juga tidur lebih cepat. Kemudian Pandu menanyai Ervita di sana.


"Kamu sakit, Nda?" tanyanya.

__ADS_1


"Enggak ... lemes lagi, Mas ... kalau pagi kok aku lemes gini sih. Tubuhku kayak gak ada tulangnya," balasnya.


Mendengar keluhan sang Bunda, Indi pun bertanya, "Nda sakit yah?" tanyanya.


"Tidak Nak ... cuma lemes. Sudah dua hari Bunda lemes," balas Ervita.


"Ke Dokter, Nda," balas Indi yang sudah tahu bahwa ketika sakit orang harus berobat ke Dokter.


"Doakan Bunda sehat ya Sayang," balasnya lagi.


Pandu tampak mengamati Ervita di sana, "Kamu bobok saja tidak apa-apa. Indi biar aku yang mengasuh. Kamu istirahat dulu saja, Nda," balasnya.


"Biar aku yang mandiin Indi, Mas ... kalau mandiin masih bisa kok," balas Ervita.


"Tidak usah dipaksakan. Aku yang mandiin Indi juga tidak apa-apa. Kasihan, aku sampai lemes kayak gini sih. Mau ke Dokter?" tanya Pandu lagi.


"Enggak ... nanti siang juga sudah sehat kok. Sudah enakan," balasnya.


Namun, belum selesai Ervita ingin berbicara, sekarang Ervita merasakan dorongan yang kuat dari lambungnya. Rasa menyeruak yang perlahan naik sampai ke tenggorokannya. Dia hendak muntah di sana, sehingga Ervita segera berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


Hoeek ... Hoeeek ....


Pandu pun turut berlari dan memijat tengkuk Ervita di sana, "Kamu sakit?" tanya Pandu dengan panik dan khawatir.


Ervita diam dan dia masih mencoba mengeluarkan isi perutnya yang membuatnya begitu mual. Wajah Ervita yang kuning langsat sampai berubah menjadi pucat di sana, dan kemudian matanya sampai berair.


"Hiks ... lemes Mas ... pusing," keluh Ervita dengan nyaris menangis di sana.


Pandu begitu panik rasanya. Pria itu segera menapah tubuh Ervita dan membawanya ke tempat tidur. Melihat Bundanya sakit, Indi tampak menangis di sana.


"Nda, jangan sakit Nda," ucapnya.

__ADS_1


Ervita berusaha menahan tidak menangis karena Indi sudah lebih dulu menangis di sana. "Cuma masuk angin kok, Sayang ... nanti istirahat juga sudah sembuh," balasnya.


Agaknya Pandu juga curiga istrinya ini sedang berbadan dua, hanya saja Ervita belum menyadarinya. Pandu berniat membeli testpack siang ini dan keesokan paginya meminta istrinya untuk melakukan uji reaksi kimia dengan testpack.


__ADS_2