
Cukup lama keduanya saling memeluk dan hanya selimut putih tebal saja yang mengcover tubuh keduanya. Ervita lantas beringsut dan ingin turun, Pandu pun segera menahannya.
"Mau kemana?" tanyanya.
"Bersih-bersih Mas ... aku mau mandi," ucapnya.
Pandu pun tersenyum di sana, "Nanti saja ... gini dulu saja, Sayang," ucap Pandu kemudian.
Pertama kali dipanggil 'Sayang', Ervita pun menunduk malu. Selama ini mungkin hanya Pandu yang memanggilnya Sayang dengan ucapan yang begitu tulus. Panggilan itu pun membuat bunga-bunga di dalam padang hati Ervita pun tumbuh dan bermekaran. Rasanya malu dipanggil sayang oleh suami sendiri.
"Kayak ABG saja Mas ... panggil namaku saja juga tidak apa-apa kok," balasnya.
"Sesekali menjadi ABG dan menikmati masa pacaran, tidak apa-apa, Yang. Begini sebentar, aku masih ingin memeluk kamu," ucap Pandu dengan jujur.
Walau sebenarnya sudah cukup lama, mereka istirahat usai penyatuan pertama kali di malam pertama, tetapi Pandu masih ingin memeluk Ervita. Sebab, ketika bisa memeluk Ervita seperti ini, Pandu merasa begitu tenang. Puncak dari semua perasaan yang dia miliki untuk Ervita.
"Mas Pandu ... boleh aku bertanya?" tanya Ervita kemudian.
"Boleh, silakan, Dinda," sahut Pandu dengan tiba-tiba.
Ervita pun kian mengernyitkan keningnya, "Dinda apa maksudnya?" tanyanya bingung.
__ADS_1
"Panggilan sayang juga. Adinda," sahut Pandu dengan tersenyum tipis di sana.
"Kamu Kakanda?" tanya Ervita kemudian.
"Boleh juga, asal cuma kamu saja yang memanggilnya," balas Pandu.
"Mas, aku mau bertanya. Kapan Mas Pandu mulai ada rasa suka kepadaku? Kenapa juga suka sama aku padahal kala itu Mas Pandu tahu kan bahwa aku membaca cela dalam hidupku?" tanyanya. Kali ini Ervita pun bertanya dengan sangat serius.
Sebab, usai Pandu mengatakan bahwa dia sudah menyayangi Indi sejak Indi masih berada di dalam kandungannya, berarti itu adalah waktu yang lama. Lantas, kapan Pandu mulai memiliki rasa suka kepadanya.
"Kamu mau tahu?" tanya Pandu kemudian.
Ada anggukan dari kepala Ervita, karena dia pun ingin tahu sebenarnya sejak kapan Pandu mulai memiliki perasaan kepadanya.
Semua Pandu jelaskan dengan jujur, tidak ada yang dia sembunyikan kepada Ervita. Keterbukaan dan kejujuran adalah awal dari membina sebuah hubungan.
"Oh, jadi itu kamu suka sama aku ya Mas?" tanya Ervita.
Setelah Pandu menjelaskan semuanya barulah Ervita tahu. Jadi, Pandu yang rela mengantar dan menjemputnya di pagi dan sore hari, selalu sigap setiap kali menurunkan batik dan mengganti stok untuk barang dagangan yang baru, dan juga semua kerjaan yang membutuhkan otot, semuanya dikerjakan oleh Pandu dan pria itu hanya meminta Ervita untuk duduk dan melayani pembeli. Cara orang membuktikan perasaan cinta itu bisa dengan berbagai cara, dan Pandu adalah tipe orang yang membuktikan perasaan cintanya dengan melakukan lebih untuk orang dia cinta, memberikan diri untuk menjaga dan melindungi.
"Iya ... aku bukan pujangga yang datang mengungkapkan cinta dengan setangkai bunga dan puisi, Vi ... mungkin aku juga tidak akan bisa seperti itu. Namun, aku bisa menjaga kamu seumur hidupku," ucap Pandu.
__ADS_1
Bagi Ervita, kesungguhan Pandu yang lebih menyentuh hatinya. Ada pria yang akan menjaganya dan tentunya menjaga Indira seumur hidupnya. Bunga bisa layu, puisi bisa kehilangan maknanya, tetapi cinta yang diwujudnyatakan secara langsung jauh lebih bermakna.
"Terima kasih Mas Pandu," ucap Ervita dengan memeluk suaminya itu.
"Untuk?"
"Terima kasih sudah mencintaiku dengan sangat indah. Memberikan diri dan waktumu untuk menjaga aku dan bayiku sejak aku masih mengandungnya. Terima kasih karena wujud nyata sebuah perasaan kamu tunjukkan dan tidak memaksa aku untuk tahu. Bagiku ini adalah perasaan yang indah," ucapnya.
Mendengar apa yang Ervita ucapkan, Pandu pun tersenyum, tangannya balas untuk memeluk Ervita. Wajah pria itu beberapa kali menunduk dan melabuhkan kecupan demi kecupan di kening Ervita.
"Itulah aku, Vi ... alih-alih bermulut manis dan membawa bunga, aku lebih memilih datang dengan tangan kosong, tapi aku memiliki kesungguhan hati yang tulus dan juga niat baik untuk menjaga kamu," balas Pandu.
Cara orang tua mencintai memang berbeda-beda. Oleh karena itu, dari sekian banyak wujud cinta di dunia, Pandu adalah tipe orang yang melakukan dan tidak banyak berbicara. Tentunya bagi Ervita ini justru menjadi perasaan yang sangat indah.
"Makasih Mas Pandu ... walau aku terlambat menyadarinya, tetapi mendengar ceritamu, aku yakin bahwa kamu akan menjaga aku dan Indi. Terima kasih Kakanda," balas Ervita di sana.
Pandu tersenyum, "Sama-sama Adinda ... bisa berduaan sama kamu dan kita berbaring bersama seperti ini seperti mimpi buatku, Vi ... dalam mimpi pun aku tidak berani untuk membayangkan kamu seperti ini. Sekarang, bisa bersama begitu indah," balas Pandu.
Ervita pun tersenyum, "Tadi berani banget," balasnya dengan sedikit menggoda.
"Aku khilaf ... khilaf sama istriku sendiri. Daripada mimpi dan sekadar angan, memiliki kamu seutuhnya dan sepenuhnya jauh lebih indah. Terima kasih," balas Pandu pada akhirnya.
__ADS_1
Kini semua cerita sudah Pandu jelaskan kepada Ervita. Bahkan kedua belah pihak pun mengaku bahwa perasaan cinta yang mereka rasakan adalah perasaan yang indah. Perasaan yang cukup lama, tetapi ada pula yang baru menyadarinya sekarang. Pun Pandu yang merasa bahwa berduaan dengan Ervita dan berbaring di tempat yang sama dengan istrinya adalah momen yang indah.