Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Malioboro


__ADS_3

Hampir satu jam lamanya, Mei dan Tanto berada di kediaman Hadinata sekadar untuk bersilaturahmi dan menyapa, kemudian Pandu mengajak adik iparnya untuk beristirahat di rumahnya sendiri. Namun, kala itu Indi menolak untuk diajak pulang, karena dia memilih untuk bermain dengan Eyang Kakung. Memberi makan burung Parkit yang ada di belakang rumah, rasanya lebih membuat Indi tertarik. Oleh karena itu, Indi pun ditinggal di rumah Eyangnya.


“Indi kalau sama Eyangnya nempel banget ya Mbak?” tanya Mei kepada Ervita.


“Iya, sudah kenal sejak kecil mungkin. Jadi, ya begitu … akrab banget. Sama Mas Pandu kan juga begitu. Yayahnya Didi,” balas Ervita dengan melirik suaminya.


“Maaf Mas Pandu, bukan bermaksud apa … itu jadinya sayang otomatis gitu ya sama Indi?” tanya Mei lagi. Sebab, bagaimanapun Mei tahu bahwa Indi bukan darah daging Pandu. Akan tetapi, keduanya begitu dekat seperti ayah dan anak kandung.


“Ya, sayang, Mei … sayangnya sejak dari Ervita hamil sebenarnya. Cuma kalau tergesa-gesa melamar, sudah pasti Mbakmu itu tidak mau. Momen terindah dalam hidupku, aku bisa melantunkan suara adzan di telinga Indi. Kalau itu, aku hanya berbicara dalam hati, “Nak, selamat datang di dunia. Kamu mungkin tidak sempurna, karena kamu hanya memiliki Bunda. Namun, kamu bisa menganggapku sebagai Ayah kandungmu sendiri. Ayah yang bukan karena hubungan darah, tapi kasih sayangku melebihi dia yang sejatinya adalah ayahmu.” Rupanya Tuhan dengar doaku karena aku bisa benar-benar menjadi Ayahnya Indi,” cerita Pandu dengan jujur kepada Mei dan didengarkan oleh yang lain juga.


“Oh, jadi waktu Mbak Ervi itu melahirkan Mas Pandu menemani yah?” tanya Mei kemudian.


“Menemani di luar,” balas Ervita.


“Kalau Dinda mau aku temenin waktu itu, ya aku mau-mau saja. Cuma, gak bisa, aku belum halal baginya,” balas Pandu.


Mei tampak menganggukkan kepalanya, “Semua kesedihan dan air mata di masa lalu, sudah Tuhan gantikan dengan mendapatkan kebahagiaan di masa kini ya Mbak … senangnya. Aku turut bahagia, Mbak … walau dulu, seakan komunikasi dengan keluarga terputus, sekarang juga bisa kembali lagi,” balas Mei.


“Iya … ya sudah, sana … istirahat dulu saja. Nanti malam kita ke Malioboro. Tidur-tidur dulu tidak apa-apa,” balas Ervita.


“Iya Mbak … istirahat. Tadi sudah makan di rumah orang tuanya Mas Pandu, sudah kenyang juga,” balasnya.


Ketika Mei dan Tanto masuk ke kamar tamu untuk istirahat, Ervita dan Pandu juga memilih istirahat di kamar. Terlihat Ervita rebahan di kasur terlebih dahulu, karena pinggangnya yang agak pegal. Sementara Pandu pun menyusul untuk berbaring di samping istrinya itu.


“Capek Sayangku?” tanya Pandu kemudian.


“Enggak … istirahat dulu saja Mas … sebelum nanti malam jalan-jalan lagi,” balasnya.

__ADS_1


“Ya sudah … bobok saja yuk, Nda … nanti malam tinggal jalan-jalan. Indi sih paling maunya di rumah Bapak dan Ibuk dulu. Sebenarnya mau ngajak kamu pacaran, tapi besok saja deh. Baru ada adik-adik juga,” balasnya.


Ervita pun tersenyum di sana, “Ada kalanya pacaran halal usai menikah itu indah banget ya Mas … enggak takut dosa. Sebab, pacarannya sudah dalam koridor kehalalan yang hakiki,” balas Ervita.


“Iya, Dinda … cuma ya nanti saja. Pelukin kamu kayak gini saja sudah bahagia banget. Yuk, bobok dulu, nanti malam kita ke Malioboro.”


***


Malam harinya ...


Sekarang Pandu, Ervita, Mei, dan Tanto sudah berada di Jalan Malioboro. Malioboro sendiri adalah jalan yang begitu tersohor di Jogjakarta. Keberadaannya yang berada di jantung kota Jogjakarta dan juga kawasan pusat belanja yang menjadi daya tarik tersendiri untuk para pelancong yang datang.


"Kalau malam lebih ramai," ucap Mei kepada suaminya yang kala itu menggandeng tangannya.


"Iya, aku baru sekali ini ke Malioboro. Rupanya benar-benar ramai," jawab Tanto.


"Seriusan baru sekali?" tanya Pandu kepada adik iparnya itu.


"Ini juga karena malam minggu, jadi lebih ramai. Mau cari sesuatu enggak?" tanya Pandu kemudian.


Tampak Mei menggelengkan kepalanya, "Enggak Mas ... jalan-jalan saja. Sama cari angkringan saja Mas," balasnya.


"Boleh ... kalau mau beli batik, sandal, blangkon, dan souvenir, bilang saja," balas Pandu.


"Iya Mas, gampang ... cuma jalan-jalan gini sudah senang. Kalau di Solo, sekarang di Ngarsopuro itu bagus Mas ... sudah direvitalisasi sekarang. Cuma ya tetap rame Malioboro sih," balas Mei.


Pandu menganggukkan kepalanya dan berbicara kepada Ervita, "Boleh lah Nda, lain kali kalau ke Solo, main ke Ngarsopuro itu. Atau ke mana yang etnik di Solo," ucapnya.

__ADS_1


"Boleh ... kapan-kapan kalau ke Solo yah."


Mei kemudian mengamati kakaknya itu dan bertanya, "Jaket kamu besar banget Mbak?"


"Oh, iya ... ini jaketnya Mas Pandu. Jaketku tipis, katanya Mas Pandu kalau mau jalan-jalan pakai jaket yang tebel. Bumil gak boleh kena banyak angin," jawabnya.


"Yuh, sweet banget Mbak ... aku bisa melihat langsung rukunnya Mbak Ervi dan Mas Pandu itu seneng banget," balasnya.


"Sudah, yuk ke Angkringan. Siapa tadi yang mau Jahe Gepuk?" tanya Pandu kemudian.


"Aku, Mas ... penasaran Jahe Gepuk di sini seenak apa," balas Mei.


Hingga akhirnya, mereka berhenti di trotoar dan menikmati makanan khas Angkringan. Ada Nasi Kucing yang berupa nasi putih dengan sedikit suwiran Bandeng dan Sambal, ada Nasi Soun, dan aneka gorengan yang dijual di Angkringan seperti Tahu Goreng, Mendoan, Limpung (Ketela yang digoreng), dan juga Bakwan. Angkringan ini adalah ragam berjualan sejak zaman dulu. Berasal dari kata 'Angkring' yang artinya alat dan tempat jualan makanan keliling yang pikulannya berbentuk melengkung ke atas. Walau pada sini angkringan adalah sebuah gerobak dorong yang menjual berbagai macam makanan dan minuman di pinggir jalan di area Jawa Tengah, Jogjakarta, hingga Jawa Timur.


"Pesan apa Nda?" tanya Pandu kepada istrinya.


"Nasi Kucing saja Mas ... sama Mendoan. Pengen Sate bakar sebenarnya, tapi takut karena baru hamil. Ibu hamil sebaiknya tidak memakan makanan yang dibakar," balasnya.


"Ya, Sate biasa saja, tidak usah dibakar. Gimana?" tanya Pandu kemudian.


"Boleh deh, Sate Hati Ayam dan usus saja Mas," balasnya.


"Oke, kamu duduk saja, Nda ... biar aku yang ambilin," balasnya.


Pria itu segera mengambilkan makanan untuk Ervita. Sementara Ervita duduk di tikar dengan Mei di sana. Tampak Mei menepuk kaki kakaknya itu.


"Mas Pandu memang keren, Mbak ... terlihat sayang banget sama Mbak Ervi. Sayang banget juga sama Indi. Doaku bahagia terus dengan Mas Pandu ya Mbak," ucapnya.

__ADS_1


Ervita pun tersenyum, "Iya, matur nuwun yah ... kamu juga bahagia dengan Tanto. Saling mendoakan yang terbaik," balasnya.


Di dalam hatinya, Ervita juga bersyukur karena Pandu memang begitu baik adanya. Dia menatap Pandu yang sedang sibuk mengambil makanan untuknya, hatinya benar-benar menghangat. Kepada Pandulah, Ervita yakin bahwa pria itu akan selalu memandu jalan hidupnya.


__ADS_2