Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Menata Hari dan Hati


__ADS_3

Malam harinya, Pandu dan Ervita duduk bersama dengan menikmati secangkir Teh Jahe. Memang Pandu tidak mengira bahwa Indi bisa menangis seperti itu. Bahkan sepanjang hari, sejak pulang dari Solo, Indi hanya mau bermain dengan Yayahnya saja. Ervita sampai kasihan karena Pandu tidak bisa istirahat sama sekali.


"Capek Mas? Seharian nyetir, terus Indi maunya sama Yayahnya terus," ucap Ervita.


"Enggak capek, Nda. Seorang Ayah itu bisa melakukan sesuatu untuk anak sendiri, walau capek, tapi bahagia. Kebahagiaan itu yang tidak bisa terbeli, Dinda."


Rupanya Pandu merasa bahagia. Kalaupun capek karena anak, tapi semuanya berubah menjadi kebahagiaan. Bisa bermain bersama anak, melihat senyuman dan tertawa bersama, itu adalah menikmati hari terbaik bagi Pandu.


"Kalian berdua bisa saling menyayangi seperti ini, aku senang sekali," sahut Ervita.


"Ya, memang seharusnya saling menyayangi, Nda. Aku sayang Indi, dan Indi sayang aku. Tenang, Nda ... selamanya aku akan selalu menyayangi Indi. Tidak akan membedakan dengan Irene," balas Pandu.


Sebenarnya tidak perlu Pandu menjelaskan, Ervita juga sudah sangat tahu bahwa Pandu memiliki kasih sayang yang sama besarnya untuk Indi dan juga Irene. Sejak Irene lahir sampai sekarang pun, Pandu juga tidak berubah kepada Indi. Itu yang membuat Ervita begitu beruntung rasanya. Suaminya itu tidak membedakan anak sambung dan anak kandung. Baik Indi dan Irene sama-sama disayang.


"Sekarang itu, hatiku dibagi tiga, Nda. Separuh untuk kamu. Lalu, sisanya untuk Indi dan Irene," ucap Pandu lagi.


Ervita yang mendengarkannya pun tersenyum. "Kamu mencintaiku hanya dengan separuh hati, Mas?"


"Iya, separuh hati saja yah ... yang separuh untuk putri-putriku yang cantik. Jangan jealous, Nda," balas Pandu.


Kali ini Ervita tertawa. Dia mendekat dan menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Makasih ya Mas ... aku tahu setiap kali usai bertemu dengan Firhan sebenarnya kamu mengalami bad mood. Namun, kamu bisa mengelola perasaan dan emosi kamu dengan baik. Terima kasih sudah sabar dengan Indi, terutama saat dia tantrum."


Kali ini Ervita benar-benar berterima kasih kepada suaminya. Lagipula, mengucapkan terima kasih kepada pasangan sendiri adalah hal yang sebaiknya dibudayakan. Bukan hanya untuk hal-hal material, tapi untuk bentuk perhatian dan kasih sayang yang tidak ternilai. Jika bukan Pandu, pastilah pria lain akan merasakan emosi terlebih dahulu. Untunglah Pandu, begitu sabar dan bisa mengelola perasaannya.

__ADS_1


"Sama-sama, Dinda. Aku juga berusaha untuk terus menata hati dan hari. Ya, benar yang kamu katakan barusan. Aku kalau usai ketemu Firhan itu ya sebenarnya emosi. Terlebih ketika teringat bagaimana menderitanya kamu dulu. Penderitaanmu, kesedihanmu, dan air matamu, aku sangat tahu, Dinda. Namun, untuk apa-apa ribut-ribut. Unfaedah sekali," balas Pandu.


"Bener Mas. Toh, selagi bisa memaafkan, ya sudah dimaafkan. Jadikan masa lalu sebagai pembelajaran. Kalau di masa lalu pernah jatuh, ya berarti setelahnya harus lebih berhati-hati biar di masa depan tidak terjatuh," balas Ervita.


Pandu kemudian merangkul Ervita. Pria itu menundukkan wajahnya sesaat dan mengecup kening Ervita. "Senang banget, Nda ... bisa sharing sama kamu seperti ini. Kalau sudah bisa bicara itu, lega. Plong gitu rasanya," balas Pandu.


"Iya, Mas ... makanya kalau kamu butuh teman ngobrol, cari aku. Yang pasti aku akan mendengarkan apa pun ceritamu."


Pandu tersenyum dan kian mengeratkan pelukannya. Kadang memang banyak masalah dan rintangan yang terjadi dalam berumahtangga. Namun, jika bisa berbagi cerita seperti ini, memperdalam komunikasi tentu semuanya bisa diurai dengan baik-baik.


***


Sementara itu di Solo ....


Jika di Jogja, Pandu tengah sharing dengan Ervita. Di Solo pun, Firhan tengah berbicara dengan Wati sekarang. Pria itu pun terlihat gundah, terutama ketika Indi terlihat begitu takut saat melihatnya.


Sebenarnya Wati juga kasihan kepada suaminya. Namun, kita juga tidak bisa memaksa anak-anak untuk mau dengan kita. Terlihat perasaan anak juga lebih sensitif, kadang mereka mau dengan orang baru, tapi tak jarang ada yang tidak mau juga.


"Ya, sabar, Mas ... lain kali kalau ketemu Indi lagi coba untuk ditemui lagi dan minta maaf. Kan sudah pernah bertemu, tapi belum minta maaf," balas Wati.


Jujur, di sini Wati pun mengambil peran sebagai istri yang baik juga. Seorang istri yang mau memaklumi masa lalu suaminya. Justru Watilah yang memberikan saran yang baik kepada Firhan. Mungkin jika yang menjadi istri Firhan bukan Wati, bisa saja Firhan sudah digugat cerai karena tahu masa lalu suaminya yang pernah menghamili pacarnya dulu.


"Apa ini hukuman dari Tuhan untukku yah? Dulu, aku gak mau mengakui Indi, aku menolaknya. Sekarang, aku merasakan sendiri sakitnya tertolak. Aku lebih merasa sakit hati ketika dia menangis dalam gendongan pria yang hanya Ayah sambungnya. Jika dia bisa menyayangi Ayah sambungnya sebesar itu, kenapa dia takut kepadaku?"

__ADS_1


Wati menghela nafas panjang dan menatap Firhan perlahan. "Di dalam pepatah Jawa itu ungkapan, Tresno Jalaran Saka Kulino. Bisa saja Indi bisa sesayang itu sama suaminya Mbak Ervita karena memang sudah terbiasa sejak bayi dengan Mas Pandu. Cinta bisa datang karena terbiasa. Yang terbiasa dengan Indi kan Mas Pandu, Mas. Sementara kalau sama kamu kan tidak pernah bertemu."


Wati hanya memberikan penjelasan secara logis. Memang anak mau bermain, bisa menumbuhkan rasa sayang itu karena terbiasa. Selama ini, Indi sendiri juga terbiasa dengan Ayah sambungnya. Dengan Ayah biologisnya sendiri tak pernah ada komunikasi sebelumnya. Jadi, memang tidak ada faktor kedekatan. Sangat maklum jika Indi juga menangis ketika melihat Firhan.


"Sakit hatiku, Yang. Dia tadi menangis dan digendong Pandu. Aku ingin menggendong dia sebentar saja dia tidak mau," cerita Pandu.


"Ya, yang sabar ya Mas ... lain waktu kalau ketemu Indi lagi kan bisa berbicara baik-baik. Membangun komunikasi lagi. Setidaknya kita sudah memulai yang baik. Siapa tahu, Mas ... setelah mendengar kalau Mbak Ervita tidak dendam, kita dipercaya Allah nanti untuk memiliki anak. Kita berusaha, berdoa, dan berikhtiar tentunya," balas Wati.


Firhan kemudian menganggukkan kepalanya. "Semoga nanti kalau Tuhan percaya untuk memiliki keturunan, aku bisa menjadi Ayah yang baik untuk anakku. Biar suatu hari nanti anakku bangga memilikiku sebagai Ayah. Walaupun, Indi pasti lebih bangga menjadi anaknya Pandu."


Tetap saja ada penyesalan. Seakan ada rasa tidak terima. Namun, semuanya sudah terlanjur terjadi. Memang bisa saja tresna iku jalaran saka kulino. Indi juga terbiasa (kulino) dengan Pandu sehingga dia begitu menyayangi Pandu. Sementara dengan Firhan justru tidak mengenal dan seolah menjadi orang asing.


***


Dear Pembaca Setia,


Halo semuanya 🙋🏻‍♀️


Author mau memberitahu nih, kalau ada novel baru yang terbit dengan judul Pondok Mertua Tak Indah. Yuk, dukung dan ramaikan. Akan mengulik bagaimana peliknya hidup satu atap dengan mertua. Novel ini juga terbit setiap hari di Noveltoon yah ...



Dukung selalu yah.... 🧡

__ADS_1


Love U All,


Kirana🥰


__ADS_2