
Agaknya jalan-jalan malam di Alun-Alun memberikan cerita tersendiri untuk Ervita dan Mei. Teringat dengan kenangan mereka di masa kecil. Dulu, ketika Sekatenan (rangkaian kegiatan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW), di Solo dan Jogja sering kali ada kirab pusaka yang didahului dengan arak-arakan Kerbau Bule, setelah itu ada pasar malam yang di gelar di Alun-Alun. Sekarang ini, agaknya keduanya mengulang memori ketika orang tuanya dulu mengajaknya jalan-jalan ke Alun-Alun setiap kali Sekatenan tiba.
“Jadi inget waktu masih kecil ya Mbak … dulu kalau Sekaten, Bapak dan Ibu sering ngajak kita jalan-jalan,” ucap Mei dengan mengamati kerumunan orang yang tampak bergembira bersama keluarganya atau pasangannya.
“Iya ya, dulu jalan-jalan ke Sekaten dan beli Harum Manis saja sudah seneng banget,” balas Ervita.
Mereka memang dari keluarga sederhana, tidak begitu berada. Sehingga hanya jalan-jalan dan membeli Harum Manis saja sudah begitu bahagia. Kala itu makanan yang bisa dibeli di Sekaten seperti Harum Manis dan Berondong Jagung rasanya sudah begitu mewah.
Pandu dan Tanto pun turut mendengarkan apa yang diobrolkan kedua kayak beradik itu. Dalam hati Pandu, jelas terlihat bahwa memori masa kecil yang sedang mereka ingat bersama. Memori yang indah tentunya.
“Masih ingat enggak Mbak, dulu kalau Sekaten itu kita sering naik Bus dari Balaikota untuk pulang?” tanya Mei.
“Iya masih ingat dong … dari rumah harus jalan jauh dulu untuk naik Bus Kota. Kalau enggak naik Bus tingkat dan duduk di atas itu sudah bahagia banget yah,” kenang Ervita dengan tertawa.
Dulu, rasanya semua kebahagiaan yang bisa mereka rasanya itu justru datang dari hal-hal yang sederhana dan bernilai ekonomis. Sebatas naik bus kota saja anak-anak sudah bahagia, membeli Harum Manis dan Berondong Jagung juga sudah bahagia, atau sebatas membeli Es Puter. Akan tetapi, sekarang ketika manusia kian konsumtif, rasanya kebahagiaan justru diukur dengan materi.
“Di Jogja ada Sekaten enggak Mas Pandu? Mbak Ervi ini hobi jalan-jalan ke Sekaten loh,” ucap Mei kepada Kakak Iparnya.
“Ada … nanti ya kalau ada Sekatenan, aku ajak ke sana. Atau jalan-jalan malam di Malioboro aja, Nda,” ajak Pandu kepada Istrinya.
“Mau Mas … pengen,” balasnya.
“Ikutlah Mas … seru kelihatannya jalan-jalan malam di Malioboro,” ucap Mei.
“Boleh, main saja ke rumah. Tan, main ke rumahlah … nginep di sana,” balas Pandu dengan menepuk bahu adik iparnya itu.
__ADS_1
“Ya Mas … kalau liburan ya bisa ke sana Sabtu-Minggu, soalnya Senin sudah harus bekerja lagi,” balas Tanto.
“Ditunggu yah … sesekali main ke Jogja. Nanti kita jalan-jalan malam di Malioboro sambil minum Jahe Gepuk,” balas Pandu.
“Siap Mas … nanti aku dan Mei ke sana,” balas Tanto.
Lebih dari satu jam mereka menikmati keramaian malam di Alun-Alun, hingga akhirnya mereka memilih kembali pulang ke rumah orang tua karena Indi sudah mengantuk. Di dalam mobil, rupanya Ervita dan Mei masih mengobrol ringan.
“Kasihan ya Mbak … jadi inget masa kecil dulu, bahagia deh rasanya,” balas Mei.
“Iya, sama-sama … gak menyangka yah, dulu kita masih kecil-kecil, sekarang sudah tua. Waktu berjalan begitu cepat,” sahut Ervita.
Pandu yang mengemudikan mobil pun perlahan menyahutnya, “Kamu masih muda, Nda … aku ini sudah tua, sudah mau kepala tiga,” balasnya.
Mendengar apa yang disampaikan Pandu, mereka yang ada di dalam mobil pun tertawa. Akan tetapi, Indira justru menyahut di sana.
Dipuji oleh Indira, membuat Pandu pun tersenyum, satu tangannya terulur dan mengusapi puncak kepala Indira di sana, “Makasih putrinya Ayah,” ucapnya.
“Cama-ama … Yayahnya Didi,” balas Indira.
“Sejak dulu kalau memanggil Mas Pandu, Indi terbiasa manggilnya Ayah ya Mbak?” tanya Mei.
“Dulu manggilnya Om sih, O Om,” balas Ervita.
“Lalu, bisa jadi Ayah itu gimana?” tanya Mei masih dengan penasaran.
__ADS_1
“Dulu, waktu Kakak Ipar liburan ke Jogja, ada Lintang, keponakan kami yang memanggil Papa, terus Indi itu nangis. Ya sudah, berubah tuh manggilnya jadi Om Ayah, tapi cuma sebentar setelah itu manggilnya Yayah,” cerita Ervita.
Mei yang mendengarkannya menganggukkan kepalanya, dan tidak menyangka bahwa Indira yang masih kecil sudah bisa melihat ada anak lain di sekitarnya memiliki Papa, sementara dirinya tidak. Mungkin atas dorongan itu juga, Indira menjadi memanggil Pandu dengan sebutan Ayah.
“Mas Pandu sayang sama Indi?” tanya Tanto tiba-tiba.
Pandu pun yang mengemudikan mobilpun perlahan menganggukkan kepalanya, “Sayang banget lah … mencintai Ervi berarti juga harus mencintai Indi. Keduanya sama bagiku. Aku cinta Bundanya, dan sayang anaknya,” balas Pandu.
Mendengar jawaban Pandu, Tanto dan Mei sama-sama menganggukkan kepalanya, “Luar biasa, Mas … biasanya para pemuda cuma mau sama ibunya saja, tidak mau sama anaknya. Sebab, kebanyakan menganggap si anak bukan darah dagingnya dan juga hanya mau bercinta dengan ibunya. Makanya banyak kan Mas, di media sosial karena merasa si anak bukan darah dagingnya anaknya dianiaya, menangis tidak ditolong,” cerita Mei dengan panjang lebar.
Memang ada video yang pernah keluar di media sosial, seorang ayah tiri yang tidak menyayangi anak tirinya. Ketika si anak menangis, tidak ditolong, tetapi justru dianiaya, entah itu dipukul, atau dikata-katai yang buruk. Oleh karena itu, Mei dan Tanto bersyukur sekali karena Pandu sangat sayang sama Indira. Ketulusan kasih sayang itu juga terlihat dari interaksi Pandu dan Indira selama ini. Tidak ada kepura-puraan di sana.
“Selalu sayangi Indi ya Mas … sekalipun nanti Mbak Ervi hamil dan memiliki anak dari kalian berdua, jangan berkurang sayangnya ya Mas,” balas Mei.
“Iya, justru akan makin sayang sama Indi,” balas Pandu.
Mei pun menganggukkan kepalanya, “Bukan apa ya Mas … anak yang merasa ditolak dari kecil bisa merasakan trauma di dalam hatinya. Indi sejak kecil hanya merasa Ayahnya ya Mas Pandu saja, jadi jangan sampai ketika dia besar nanti ada trauma dari kejadian yang dia alami. Kondisi psikologis bayi juga ditentukan sejak dia dalam kandungan,” balas Mei.
Ya, kondisi psikologis bayi dipengaruhi sejak mereka berada di dalam rahim sang Ibu. Jika kehadirannya ditolak, perasaan tidak nyaman akibat penolakan orang terdekat (orang tua) nantinya akan tersambung ke otak bayi sehingga bayi yang masih berada di dalam kandungan tahu bahwa kehadirannya ditolak. Saat lahir, bayi akan tumbuh menjadi individu yang inferior, tidak percaya diri, merasa rendah diri dan tidak diharapkan, serta memiliki kendala emosi.
Bahkan, anak bisa menjadi sosok yang sensitif saat dia disentuh orang lain atau kesulitan bersosialisasi karena merasa dirinya terluka dan merasa salah telah hadir di dunia ini. Oleh karena itu, sebiasa mungkin jangan pernah menolak kehadiran seorang bayi.
“Iya Mei … aman, kamu dan Tanto saksinya, kalau nanti aku dan Ervi dipercayai Allah untuk memiliki anak lagi, pasti aku tetap sayang sama Indi, tidak akan pernah berubah. Aku tidak akan membeda-bedakan Indi dengan adik-adiknya nanti,” balas Pandu.
“Ya Mas Pandu … matur nuwun sudah selalu mendampingi Mbakku, ketika Mbakku terisolasi di Jogja dan dalam kondisi yang tidak baik. Terima kasih sudah menjaga Mbakku hingga sekarang. Matur nuwun, Mas,” balas Mei yang kali ini mengucapkan terima kasihnya dengan tulus.
__ADS_1
Mei sepenuhnya sadar, tanpa sosok Pandu apa yang terjadi kepada Kakaknya, tidak ada yang tahu. Namun, karena ada Pandu, Ervita pun kian dikuatkan. Ada orang yang menjaganya dan juga mencintainya. Ada orang yang menyayangi anaknya dan memberikan kasih sayang seorang Ayah yang selalu menjaga. Untuk semua itu Mei sangat berterima kasih kepada Kakak Iparnya itu.