Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Yang Menikmati Liburan ke Malang


__ADS_3

Sejenak meninggalkan kehidupan Ervita dan Pandu, di sisi lain ada Firhan dan Wati yang sekarang sungguh-sungguh menikmati waktu liburan ke kota Malang. Selama beberapa tahun bekerja, Firhan memang nyaris tidak pernah mengambil cuti. Baru sekali, Firhan mengambil cuti hingga lima hari.


Kali ini, Firhan benar-benar mengajak Wati ke Malang, kota yang ingin dikunjungi oleh istrinya itu. Keduanya memilih pergi dari Solo ke Malang dengan menaiki kereta api, dan di Malang nanti Firhan akan menyewa sepeda motor untuk mobilitasnya selama berada di kota Apel nanti.


"Selama di Malang nanti pengen ke mana aja?" tanya Firhan kepada istrinya.


Tentu saja itu karena Firhan benar-benar ingin membahagiakan Wati. Sekaligus dia harus berterima kasih kepada Wati. Menurut Firhan, tanpa sosok Wati belum tentu dia mengalami titik balik dalam hidupnya. Menjadi pribadi yang lebih sabar, meninggalkan rokok, lebih dari itu Firhan berani meminta maaf kepada Ervita. Menurut Firhan semua itu tidak akan terjadi, jika bukanlah Wati yang selama ini mendukung dan mendampinginya. Sehingga, sekarang Firhan benar-benar ingin membahagiakan Wati.


"Enggak banyak sih, Mas ... ke Malang Night Paradise dan Museum Angkut. Selebihnya lebih banyak istirahat aja tidak apa-apa. Katamu kita sekalian bulan madu kedua, siapa tahu nanti usai dari Malang, kita mendapatkan belas kasihan dari Allah," jawab Wati.


"Amin, semoga ya, Yang. Berusaha dan berikhtiar bersama. Semoga saja. Andai belum berhasil, apa kamu akan menyerah, Yang?" tanya Firhan sekarang.

__ADS_1


Jujur saja, Firhan sangat takut jika Wati sampai menyerah. Firhan sangat tahu, di sini yang bersalah dan banyak salah adalah dirinya. Sementara, Wati sempurna dan memiliki reproduksi yang sehat. Sehingga, jujur Firhan menjadi takut karenanya.


"Tidak, aku akan terus mendampingi kamu," balas Wati.


Ah, lega sudah hati Firhan. Dia pikir Wati akan menyerah dengannya. Ternyata Wati mengatakan bahwa dia akan terus mendampingi Firhan. Semoga saja, Wati tidak akan pernah lelah dengannya. Tidak akan menyerah, sekalipun harapan untuk memiliki keturunan itu entah kapan akan terwujud.


Sekarang keduanya sudah tiba di Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Udara dingin dan hujan menyapa keduanya. Walau sudah berada di dalam hotel pun hujan masih turun dengan begitu lebatnya.


"Batu sedingin ini yah?" tanya Firhan kemudian.


Barulah Firhan tahu. Sebab, tidak banyak kota yang dikunjungi Firhan. Begitu juga, baru sekarang dia tahu bahwa kota Batu, Malang memiliki udara sedingin ini.

__ADS_1


"Mirip di rumah kamu ya, Yang. Dingin dan lembab," balas Firhan.


Wati pun tersenyum dan menganggukkan kepala. "Benar. Di rumahku juga sedingin ini. Jadi, ingat waktu kamu datang malam-malam ke rumahku. Jujur, aku walau masih sebel, tapi sebenarnya terharu loh, Mas," balas Wati.


"Itu adalah usaha kerasku, Yang. Seorang Firhan yang berusaha menurunkan egonya. Walau itu disuruh Ibu sih, tapi kan aku sungguh-sungguh sama kamu," balas Firhan.


"Oh, jadi itu karena disuruh Ibu?" tanya Wati dengan melirik suaminya.


"Iya, jangan dilihat siapa yang menyuruh, tapi lihat usaha aku menembus perjalanan berkelok dan berliku-liku. Mendaki gunung dan melewati lembah, untuk mendapatkan maaf darimu," balas Firhan.


Wati yang mendengarkan perkataan suaminya pun menganggukkan kepala. "Benar. Terima kasih ya Mas, waktu itu sudah belain malam-malam dan sedingin itu untuk menjemput aku," balasnya.

__ADS_1


"Iya, ya sama-sama belajar dari masa lalu. Manusia tidak ada yang sempurna kan. Semoga saja, ke depannya kehidupan kita berdua menjadi lebih indah," balas Firhan.


Itu bukan sekadar ucapan, melainkan harapan Firhan. Dia sudah mengakui banyak salah di masa lalu. Namun, dia juga belajar banyak dari masa lalu. Setelah, benar-benar berubah, Firhan sangat mengharapkan bisa memiliki kehidupan yang lebih indah bersama dengan Wati.


__ADS_2