Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Menemani Pertiwi Berbelanja


__ADS_3

Tidak terasa sudah sepekan berlalu, dan hari ini Damar akan kembali ke Bandar Lampung. Sehingga, Pandu bersama Ervita dan Pertiwi hari ini akan mengantarkan Kakak Iparnya itu menuju ke Bandara Internasional Yogyakarta.


"Untuk sementara titip Mbakmu ya, Ndu ... nanti aku pulang lagi ke Jogja menjelang hari perkiraan lahir," ucap Damar kepada Pandu.


"Iya Mas ... kan ada Bapak dan ibu juga yang akan jagain Mbak Pertiwi. Aman lah Mas, semua keluarga kan ada di Jogja," jawab Pandu.


Damar pun menganggukkan kepalanya. "Sebenarnya, aku minta Pertiwi untuk melahirkan di Lampung. Namun, dia panik tidak ada yang menjaga Lintang. Jadi, pilihan kami kembali ke opsi kedua, seperti waktu melahirkan Lintang dulu. Pulang dulu ke Jogja untuk melahirkan, nanti setelah bayinya berusia 2 bulan, pulang lagi ke Bandar Lampung. Selain itu, Lintang juga sudah mulai untuk sekolah," balas Damar.


"Iya Mas ... semoga nanti bisa pulang sebelum HPL yah," balas Pandu.


Begitu sudah sampai di Bandara. Tampak Damar memeluk Pertiwi, sebelum masuk ke pintu keberangkatan. Di sana, Pertiwi sudah menangis. Sedih dan juga merasakan kembali menjalani Long Distance Marriage dengan suaminya.


"Aku pamit dulu ya Mama ... sering memberi kabar. Komunikasi itu kunci yang utama. Untuk dua bulan ini, kita pisah dulu. Aku bekerja di Lampung, nanti menjelang HPL, aku sudah akan pulang ke Jogja. Dijaga baik-baik kandungannya. Boleh merepotkan Pandu dan keluarganya. Akan tetapi, gak banget-banget. Terlebih Pandu sekarang sudah punya keluarga sendiri," pesan Damar kepada istrinya itu.


"Iya Papa ... nanti ditunggu yah, kedatangannya kembali ke Jogjakarta. Temenin aku melahirkan nanti. Mohon maaf, aku kembali pulang bersama Bapak dan Ibu untuk melahirkan bayi kita dulu. Nanti kita berkumpul lagi di Bandar Lampung," balas Pertiwi.


Ervita dan Pandu yang menyaksikannya pun turut terharu. Tidak enak berpisah jauh dari suami. Terlebih, Ervita sangat tahu bahwa ketika hamil, seorang wanita akan benar-benar membutuhkan suaminya. Oleh karena itu, Pertiwi pun yang ada di Jogja juga sudah pasti sedih dan begitu berat rasanya.


"Pandu, Ervi ... titip Pertiwi yah," pamit Damar dengan menjabat tangan kedua adik iparnya itu.


"Ya Mas Damar," sahut Pandu dan Ervita bersamaan.


Hingga akhirnya, Damar benar-benar masuk untuk melakukan cek in dan juga pria itu berbalik ke belakang, melambaikan tangannya kepada istri tercinta. Sementara Ervita kini merangkul Pertiwi, dengan tangan yang memberikan usapan di bahu kakak iparnya itu.


"Sabar Mbak ... jangan menangis," ucap Ervita.


"Sedih, Vi ... sebenarnya paling enggak suka harus jauh-jauhan sama Mas Damar. Cuma, kalau melahirkan di Lampung yang akan menjaga Lintang siapa? Kalau di Jogja kan ada Eyangnya, dan Lintang bisa main sama Indi juga," balas Pertiwi dengan sesegukan dalam tangisannya.

__ADS_1


Itu adalah ungkapan hati Pertiwi, dalam kondisi hamil dan harus berjauh-jauhan dengan suami rasanya sangat tidak enak. Akan tetapi, Pertiwi juga mengakui ketika melahirkan sendiri di Bandar Lampung rasanya juga akan sangat merepotkan. Setidaknya ketika berada di Jogja, ada keluarga yang akan siap untuk menolongnya.


"Tidak apa-apa Mbak ... setiap pilihan kan ada konsekuensinya. Sabar saja Mbak ... jika menunggu dengan sepenuh hati, dan saling percaya sudah pasti dua bulan itu akan berjalan dengan lebih cepat kok Mbak," balas Ervita.


Lantas Pertiwi pun menganggukkan kepalanya. "Kalau kamu enak, Vi ... dekat dengan Pandu dan Bapak Ibu. Setidaknya tidak kesusahan waktu persalinan nanti," balas Pertiwi.


Di sana, Pandu kemudian mendekat dan merangkul istrinya itu. "Nanti aku akan selalu mendampingi kamu, Nda ... jangan takut yah," balas Pandu.


"Makasih Mas Pandu," balas Ervita.


Pertiwi menghela nafas panjang dan melihat adik-adiknya itu. "Yuk, anterin ke Mall yuk Om Pandu? Mau belanja untuk bayi, mau enggak?"


Pandu tampak melirik kepada Ervita yang ada di sampingnya itu. "Gimana Nda?" tanyanya.


"Ya sudah, penting jangan terlalu lama ya Mbak ... kasihan Indi kalau ditinggal kelamaan," balas Ervita.


Akhirnya pun Pandu membawa kakaknya dan istrinya menuju salah satu Mall yang berada di dekat Monumen Jogja Kembali atau yang akrab disebut dengan Monjali. Di sana, kemudian Pertiwi memasuki sebuah baby shop dan mulai membeli beberapa perlengkapan untuk bayinya. Tampak Pandu memperhatikan Pertiwi, di dalam hatinya beberapa bulan nanti akan tiba waktunya utnuk mengantarkan istrinya berbelanja seperti ini. Sudah pasti akan terasa sangat menyenangkan.


"Hadiah dariku mau apa Mbak?" tawar Pandu kepada Kakaknya itu.


"Gak usah Om Pandu ... beberapa milik Lintang dulu kan masih, bisa dipakai adiknya nanti," balas Pertiwi.


"Bilang aja Mbak, mau apa nanti aku belikan," balas Pandu lagi.


Pertiwi pun tertawa, "Gak usah ... kan aku di Jogjakarta juga enggak lama, Ndu ... hanya beberapa bulan saja dan nanti sudah kembali ke Lampung lagi," balasnya.


Ketika, Pertiwi dan Ervita tampak melihat aneka peralatan dan baju bayi yang lucu-lucu, rupanya ada wanita yang mengamati keduanya, dan kemudian berjalan dan menghampiri keduanya di sini.

__ADS_1


"Hei, wanita kampungan ... ngapain loe di sini?" suara wanita yang sudah Ervita kenali.


Ervita pun menoleh ke belakang dan melihat rupanya ada Lina di sana. Saat itu, Ervita terlihat biasa saja, tetapi Pertiwi mengamati siapa wanita yang datang dan mengatai Ervita kampungan itu. Sampai Pertiwi pun berjalan dan kini berdiri di samping Ervita.


"Siapa Vi?" tanyanya.


Melihat bahwa ada sosok yang cukup Pandu kenali, Pandu pun berjalan mendekat ke arah Ervita dan menghentikan sikap wanita yang dinilainya arogan itu.


"Kenapa Dinda?" tanya Pandu.


Ervita tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Tidak ingin menambah masalah. Toh, tidak ada untungnya juga meladeni Lina.


"Dia sudah ngrendahin Ervi, Ndu ... panggil Ervi kampungan. Emangnya dia siapa?" Pertiwi menyahut dan juga sangat sebal dengan wanita yang tiba-tiba datang itu.


"Eh, gak usah ikut campur. Kalian kalau miskin gak usah belanja di sini," balas Lina.


Kemudian Pertiwi mendengus di sana. "Jangankan satu, setoko aku borong juga bisa. Cuma karena pemiliknya arogan kayak gini, gak ada. Kita viralkan saja, biar gak ada yang beli di sini, karena yang jaga kayak Kunti," balas Pertiwi.


Ervita mengusapi lengan kakak iparnya itu, "Sudah mbak, tidak usah diladenin. Sebaiknya kita pergi," balasnya.


Kemudian Pandu menengahi mereka. "Ayo, sebaiknya kita pergi. Tidak ada untungnya," balas Pandu.


"Ndu, Pandu ... tunggu," balas Lina yang menggenggam tangan Pandu.


Akan tetapi, Pandu segera menghempaskan tangan itu. "Tidak usah pegang-pegang," ucapnya. "Ayo, Nda ... kita pergi," ajak Pandu kepada Ervita dan Lina.


Benar yang baru saja disampaikan oleh Ervita, meladeni Lina tidak ada untungnya. Lebih baik pergi, dan juga berharap tidak akan bertemu lagi dengan Lina. Daripada setiap bertemu yang ada justru rasanya begitu sebal dan kesal rasanya.

__ADS_1


__ADS_2