
Sessi bounding antara Indi dan Pandu yang rupanya diperhatikan oleh Ervita membuat hati Ervita menghangat. Terlihat jelas bahwa kasih sayang yang Pandu berikan kepada Indira adalah kasih sayang yang tulus. Bukan karena syarat karena menikah Ervita saja. Begitu juga dengan kasih sayang Indi ke Pandu yang Ervita yakini juga begitu besar. Bahkan sekarang saja sudah terlihat dengan begitu jelas bahwa Indi terlihat senang dan sayang dengan Pandu. Kasih sayang yang hadir bukan tanpa pemaksaan, tapi kasih sayang yang tumbuh seiring dengan berjalannya waktu.
Setelah Indi tertidur, mulailah Pandu berjalan ke kamarnya sendiri dan dia melihat Ervita yang sedang mengajak bayi dalam kandungannya mengobrol bersama. Pandu pun mendengarkannya.
"Tumbuh di dalam perut Bunda dengan sehat, lengkap, dan sempurna ya Sayang ... kamu akan menjadi bayi dan anak yang bahagia karena kamu dikeliling keluarga yang sangat sayang kepadamu. Bunda, Ayah, dan Mbak Didi. Kali ini, kamu akan merasa lebih bangga karena Ayah Pandu adalah sosok Ayah yang keren dan hebat. Dia akan menyayangi kamu, dengan kasih sayang yang cukup dan penuh, sampai kamu tidak perlu mengemis cinta dari orang lain."
Pandu yang mendengarkan suara lirih istrinya itu perlahan pun mengambil tempat di sisi Ervita. "Dinda, baru ngapain?"
"Baru ngajak baby nya bicara," jawabnya.
Pandu tersenyum dan dia kini turut mengusapi puncak kepala Ervita di sana. "Kamu mellow gitu, aku tahu kedua mata kamu sudah berkaca-kaca. Sini cerita sama aku," balas Pandu.
"Enggak, cuma terharu saja kok. Lihat kamu dan Indi tadi," balas Ervita.
"Terharu karena apa?" tanya Pandu lagi.
Ervita perlahan beringsut dan menatap suaminya itu, "Kasih sayang yang kamu berikan untuk Indi itu besar banget. Dia yang bukan anakmu, darah dagingmu, kamu sayangi dengan begitu besar. Aku bisa merasakan bahwa itu adalah kasih sayang yang hadir karena waktu yang menumbuhkan kasih sayang. Itu bukan bentuk keterpaksaan. Indi pasti bahagia memiliki kamu sebagai Ayahnya," balas Ervita.
Mungkin karena hormon kehamilan juga yang bergejolak membuat Ervita lebih sensitif dan mellow. Seakan dia teringat bahwa banyak orang tua sambung di luar sana yang hanya mencintai pasangannya, tapi tidak dengan anaknya. Sementara Pandu terlihat sangat menyayangi Indi.
"Ya, kan aku sudah bilang, Nda ... aku sayang sama Indi sejak dia ada di dalam rahim kamu. Cuma waktu itu bingung bagaimana caranya mengungkapkannya. Kalau kamu mau, saat kamu hamil itu, aku mau kok menikahi kamu," balas Pandu.
__ADS_1
Ervita pun tersenyum perlahan, "Aku akan menjadi istri yang haram untuk kamu sentuh sampai kelahiran dan usai masa nifas, Mas. Lebih baik menunggu," balas Ervita.
"Iya, dan aku sudah menunggu 2 tahun 9 bulan untuk meminangmu. Aku akan terus sayang kepada Indi, bahkan saat adiknya nanti. Kasih sayangku untuk Indi tidak akan berubah," balas Pandu.
Mendengar apa yang disampaikan oleh Pandu, Ervita pun menganggukkan kepalanya. "Makasih Mas Pandu ... sudah menyayangi Indi dan menerima Indi sebagai anaknya sendiri. Jika, dia memiliki figur Ayah yang tidak baik, aku sangat yakin Indi akan kehilangan senyumannya, merasa tertolak dari lahir. Membayangkannya saja aku tidak bisa," balas Ervita.
Pandu segera merangkul istrinya itu, "Sama-sama Dinda, makanya di lain waktu jika aku salah atau menyayangi Indi dengan kurang tepat, tegur aku. Tidak apa-apa. Aku akan dengan sukarela kamu tegur," balas Pandu.
"Aku pernah membaca kalimat yang maknanya bagus banget, Mas. Jika seorang ayah memberikan cinta dan kasih sayang yang cukup pada anak perempuannya ... si anak pun akan belajar untuk mencari cinta yang tepat. Yang memperlakukannya dengan tepat dan layak. Tidak perlu mengemis cinta pada orang yang salah. Sebab, anak tahu rasanya dicintai oleh ayahnya dengan tepat. Sebab, dia tidak haus cinta, sehingga tidak asal meneguk cinta dari apa pun yang disodorkan kepadanya. Anak bisa memilih cinta yang layak. Bisa menolak cinta yang tidak sehat. Jadi, sebegitu pentingnya kasih sayang dari seorang ayah untuk anak perempuannya," ucap Ervita panjang lebar.
Pandu yang mendengarkan ucapan Ervita pun menganggukkan kepalanya, dengan sesekali dia mengusapi perut Ervita di sana, "Ya, aku akan berusaha, Nda ... memberikan kasih sayang yang tepat dan layak. Aku juga setuju bahwa penerimaan seorang anak itu dimulai dari dalam keluarga. Sehingga, kita orang tuanya yang harus menerimanya, kurang dan lebihnya, minat dan bakatnya. Ketika Indi dan mungkin adiknya nanti sudah besar, aku berharap mereka berdua bisa menolak cinta yang tidak sehat," balas Pandu.
"Makasih sudah menyayangi Indi dengan tulus, Mas Pandu," ucap Ervita.
Ervita kembali tersenyum, merasa lega karena suaminya itu memang tipe pria yang tidak neko-neko dan juga bisa melindunginya. Bahkan setelah bersama dengan Pandu, Ervita seakan lupa dengan semua kesusahaan hidup dan keterasingan yang pernah dia lalui dulu. Semuanya berubah, dan busur indah penuh warna itu hadir dalam wujud seorang Pandu Hadinata.
"Ah, kalau bahas anak-anak pasti mellow," balas Ervita kemudian.
"Semua orang tua juga akan seperti itu, Dinda," balas Pandu.
"Mas, boleh tanya ... itu rasa sayang untuk Indi itu tumbuh sendiri atau gimana?" tanya Ervita.
__ADS_1
Pandu diam, dan mencoba mengingat-ingat lagi. Setelahnya mulailah dia menjawab, "Ya, sayang banget saya aku mengadzani Indi yang baru lahir itu. Aku melihat bayi kecil ini seperti selembar kertas putih, bersih, dan tidak bernoda. Kasihan bayi kecil ini tidak memiliki ayah. Tergugah hatiku untuk menyayangi Indi, dan aku ingin menjadi salah satu pena yang akan menuliskan catatan yang indah, menjadi warna dalam diri bayi kecil yang masih seperti kertas putih itu. Sejak itu, jadi sayang ... pengen gendong dia, pengen mengajaknya berbicara, pengen mengatakan, "Nak bayi ... walau kamu lahir dalam ketidaksempurnaan. Ada aku yang akan menyayangimu. Walau tanpa hubungan biologis, darah dan daging, aku pastikan bahwa aku sayang kamu," jelas Pandu.
Semua itu bukan ucapan semata. Sebab, ketika Indi masih bayi, Pandu juga mengambil peran untuk mengantarkan Ervita dan Indi ke Puskesmas untuk imunisasi, Pandu juga sering membantu Ervita walau tidak banyak. Benar-benar cinta yang tumbuh dengan sendirinya.
"Luar biasa Mas ... aku terharu mendengarnya," balas Ervita.
"Sudah, jangan sedih gitu ... nanti adik bayi ikutan sedih. Sini, aku peluk dulu," ucap Pandu.
Pria itu membawa Ervita masuk dalam pelukannya, dengan tangan yang mengusapi rambut Ervita yang panjang dan mencium puncak kepala Ervita. Pun bisa Ervita rasakan bahwa cinta dan kasih sayang dari Pandu untuknya juga begitu besar.
"Makasih Mas Pandu ... sudah hadir dalam hidupku dan membuatku memiliki pasangan yang menerima semua kurangku. Jadi, pengen nangis," balas Ervita.
Pandu pun tertawa, "Sudah, aku bukan superhero yang menyelamatkan dunia, Nda ... semua ini aku lakukan atas dasar cinta," balas Pandu.
"Ya, karena cintamu begitu besar itulah yang membuatku terharu," balas Ervita.
"Sudah yah ... aku itu paling enggak bisa melihat kamu menangis. Sejak dulu, dadaku sesak banget rasanya melihat kamu menangis. Aku ingin kamu bahagia ketika hidup bersamaku. Membahagiakanmu itu keinginanku, Dinda," balas Pandu.
Ervita pun mengurai pelukan suaminya untuk sesaat. Lantas, wanita itu memberanikan diri menengadahkan wajahnya, dan meraih sisi wajah suaminya. Kemudian, Ervita dengan begitu hati-hati melabuhkan kecupannya di bibir suaminya untuk beberapa detik kedua bibir itu menempel satu sama lain.
"Aku cinta kamu Mas Pandu," ucapnya.
__ADS_1
"Sama Dinda ... aku juga cinta kamu," balas Pandu.
Itu adalah ungkapan cinta. Cinta yang hadir kian tumbuh karena waktu yang menumbuhkannya. Rasa cinta yang Ervita rasakan kian besar karena setiap hari semakin terlihat kedewasaan Pandu baik sebagai suami, sebagai sahabat, sebagai kakak, dan sebagai ayah untuk Indi.