
Kemana mengalirnya air? Tentu dia akan mengalir dari hulu ke hilir dan bermuara di lautan lepas. Pun demikian dengan perasaan Pandu dan Ervita sekarang. Laksana air sungai yang berkelok-kelok, membutuhkan waktu dan proses dari hulu menuju ke hilir, hingga sampai air itu akan bermuara di samudra yang bernama rumah tangga.
Keduanya sama-sama mengatakan dan mengakui bahwa perasaannya begitu indah. Pandu memiliki cinta yang nyata dan siap untuk melindungi Ervita dan Indira, sementara Ervita memahami perasaan Pandu pun sebagai sosok pemuda yang ringan tangan dalam artian begitu suka untuk membantu dan menolongnya. Cinta yang memberi, itulah pengertian cinta yang bisa Ervita rasakan dari seorang Pandu Hadinata.
“Tadi, aku benar-benar khilaf … aku seperti kehilangan kendali atas diriku sendiri. Maaf yah,” ucap Pandu kini.
Itu adalah perasaan yang meletup dengan begitu saja. Merasa sudah memiliki Ervita seutuhnya dan sepenuhnya membuat Pandu tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Pria yang baru saja melepas perjakanya itu benar-benar mabuk dalam gairah cinta yang benar-benar membuatnya meledak, pecah, dan tanpa sisa.
“Aku menyakitimu ya Vi? Kamu gak suka?” tanya Pandu kemudian.
Ervita menggelengkan kepalanya di sana, “Tidak … hanya saja, kamu tidak seperti dirimu sendiri, Mas Pandu yang selama ini kalem, lembut, dan sopan,” balas Ervita.
Pandu pun tersenyum, “Terlalu bersemangat mungkin ya Dinda … kali pertama aku merasa sesuatu seperti ini,” balas Pandu.
“Maaf ya Mas … tidak bisa menembus tirai kegadisan, karena aku ….”
Perkataan Ervita itu pun hanya melayang di udara, karena Pandu segera mengecup bibir Ervita di sana.
“Tidak perlu, Vi … aku suka kamu apa adanya. Apa adanya dirimu,” balas Pandu.
Bukan menghakimi Ervita atau merasa sedih karena yang dia nikahi bukan seorang gadis, melainkan wanita yang sudah memiliki anak. Pandu tidak bersedih, justru dia merasakan kenikmatan yang tiada tara.
“Nikmat, Vi … gak ada obat,” balas Pandu kemudian.
Ervita pun tersenyum tipis dan membenamkan wajahnya di dada Pandu. Malu sebenarnya dengan pengakuan Pandu. Namun, juga dia merasa ucapan Pandu adalah bukti nyata bahwa pria yang melepas perjakanya itu tidak menyesalkan apa pun yang terjadi.
“Mas Pandu, malu ….”
Pandu pun tersenyum, “Tidak usah malu … belajar membiasakan diri dengan aku yah, kan sekarang aku adalah suami kamu. Jadikan aku orang terdekat untuk kamu,” balas Pandu.
“Iya, ya sudah … aku mandi dulu ya, Mas … tidak mungkin kan, kita tidur dengan keadaan seperti ini,” balas Ervita.
__ADS_1
Ervita pun beringsut, dia berusaha mempertahankan selimut yang masih mengcover tubuhnya. Ingin menyingkap selimut itu, tetapi rasanya juga begitu malu. Lantas bagaimana caranya?
Pandu pun mendahului, pria itu menyingkap selimutnya, menunjukan tubuhnya yang polos mutlak, lantas dia mengulurkan tangannya kepada Ervita.
“Ayo, barengan,” ucapnya.
“Mas … tapi,” balasnya.
Pandu segera meraih tangan Ervita dan mengajaknya untuk masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa banyak bicara, pria itu mengajak Ervita masuk ke dalam kamar mandi. Ketika Ervita melihat cermin besar di dalam kamar mandi itu, begitu malunya Ervita melihat penampilan dirinya dengan wajah yang kuyu, rambut yang tidak rapi, dan jangan lupa tanda merah yang menghiasi lehernya. Ervita pun melirik ke suaminya yang tengah mengisi bath up dengan air dan busa mandi.
“Kenapa Dinda?” tanya Pandu kemudian.
“Leherku,” jawabnya dengan mengusapi tanda merah di lehernya.
Pandu pun tersenyum, “Bukti nyata kekhilafanku,” balasnya.
“Kalau besok Bapak Ibu dan keluarga tahu gimana? Kita bakalan diketawain,” balas Ervita.
Pria itu berdiri di samping Ervita, sesekali Pandu terlihat tersenyum nakal melihat pantulan istrinya itu di cermin yang tidak mengenakan satu benang pun. Semua yang ada di tubuh Ervita terlihat mempesona, bahkan dilihat seperti ini Ervita justru seperti seorang gadis.
“Udah Mas, jangan lihatin terus … malu ah,” balasnya.
“Kamu cantik, Adinda,” balas Pandu.
Ervita pun tersenyum, semburat merah pun menghiasi pipinya. Sungguh malu dengan ucapan, pandangan, dan sikap dari suaminya itu.
“Buruan Kanda … sudah malam,” balas Ervita.
“Masih sore Dinda … masih jam 9 malam kok,” balasnya lagi.
Ervita memutuskan untuk segera mencuci wajahnya dengan facial foam dengan merek yang tidak mahal dan bisa ditemukan di mini market terdekat. Lantas membasuh wajahnya dengan air, kemudian dia masih berdiri dan menunggu suaminya.
__ADS_1
“Mandinya gimana Mas?” tanyanya bingung.
Jujur saja ini juga kali pertama dia mandi dengan bath up, biasanya di rumahnya di Solo hanya mengenakan gayung saja. Begitu juga di rumah yang dia tempati juga hanya ada bak mandi dan gayung.
“Ayo, nanti aku ajarin,” balas Pandu.
Pria itu kembali menggandeng tangan Ervita. Pandu yang terlebih dahulu masuk ke dalam bath up, lantas dia mengulurkan tangannya kepada Ervita. “Sini Dinda,” ucapnya.
Ervita pun menganggukkan kepalanya dan mulai masuk ke dalam bath up, duduk berhadap-hadapan dengan Pandu. Jika Pandu ada di ujung kanan, maka Ervita ada di ujung kiri. Pandu tersenyum ketika Ervita mengusapi lengan tangannya dengan busa yang melimpah itu.
"Aku sengaja memakai air dengan suhu ruangan, Dinda ... katanya justru jangan pakai air hangat bisa infeksi nanti. Disarankan mandi dengan air suhu ruangan yang disarankan. Dingin enggak?" tanyanya.
"Enggak ... dingin air di rumah kamu, Mas. Di sana, airnya dingin," balas Ervita.
"Cuma usai dari sini, kita pulang ke rumah kita ya, Dinda ... aku sudah buatkan gubuk untuk kita tempati bersama. Tidak baik jika harus ikut orang tua. Aku sebagai pria juga harus mandiri," balasnya.
"Iya, kemana Kanda pergi, aku dan Indi akan selalu menyertai," balasnya dengan tersenyum. Masih perlu menyesuaikan diri dengan panggilan sayang yang dipilih Pandu yaitu Kakanda dan Adinda. Bisa-bisanya pria itu memilih panggilan sayang itu dari semua panggilan sayang yang ada.
"Nanti untuk batik-batik bisa kamu kerjakan di rumah, tinggal dipindahin saja. Aman, aku akan atur. Terus aku juga akan bekerja ke kantorku dari pagi sampai jam 14.00, dan kalau ada klien yang konsultasi perihal desain interior biasanya optional sih waktunya, dan tidak setiap hari juga. Makanya kamu sering melihat aku ada di rumah kan?" balas Pandu.
Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Iya, aku sudah tahu jadwal kamu kok Mas. Dulu kan kamu pernah cerita kalau kamu desainer interior. Aku masih mengingatnya."
Pandu tersenyum, pria itu lantas mencipratkan air kepada Ervita, "Dinda, ke pusara cinta yuk," ajaknya kini.
"Hmm, apa Mas?" balas Ervita dengan bingung.
"Ke muara cinta bersama. Sekali lagi," ajaknya dengan sudah menggenggam tangan Ervita dan memercikkan air ke arah Ervita.
Lanjut atau tidak nih Bestie?
Kakanda mau ngajakin Adinda lagi tuh ... wkwkwkwk
__ADS_1