
Apa yang baru saja Wati dengar sangat menyakiti hatinya. Walau itu adalah masa lalu, tetapi berdampak ke masa sekarang. Mungkin, jika dulu Firhan berkata jujur bahwa dia pernah menghamili pacarnya sebelum pernikahan, Wati bisa mempertimbangkan semua. Akan tetapi, sekarang Wati sudah terjerat dalam pernikahan dengan Firhan.
Wati sendiri pun sebenarnya adalah gadis yang baik. Dia menikahi Firhan dan mau menerima kondisi fisik Firhan yang tidak sempurna. Cara berjalan Firhan yang tidak sempurna saja bisa diterima oleh Wati. Bahkan kala itu, usai pernikahan ketika Firhan meminta haknya sebagai suami, Wati pun memberikan diri. Memberikan mahkotanya untuk kali pertama bagi suaminya. Walaupun kala itu, Firhan berlaku kasar dan justru merasakan pelepasan terlebih dahulu, tapi Wati bisa menerimanya.
Begitu juga dengan kebutuhan biologis selama pernikahan, di mana Wati juga tidak pernah merasakan puas karena disfungsi e-reksi yang dialami suaminya. Bahkan terkadang, Wati menangis karena hanya menjadi pemuas belaka untuk suaminya. Namun, bagaimana lagi memang begitulah kondisinya. Akan tetapi, kali ini Wati tidak bisa menerima begitu saja dengan masa lalu suaminya.
"Kenapa dulu tidak memberitahu Wati, Bu?" tanya Wati masih dengan terisak.
"Dulu, kami merasa masa lalu itu tidak pernah diungkit lagi, Ti. Maafkan Ibu," balas Bu Yeni.
Bu Yeni pun meminta maaf dari Wati. Memang dulu mereka merasa bahwa tidak apa-apa menyembunyikan sesuatu. Mereka lupa, bahwa sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai, bau busuknya akan tercium juga. Sekarang, ketika semua terbongkar barulah ada rasa penyesalan.
"Kenapa Mas Firhan begitu tega, Bu?" tanya Wati.
Sebagai seorang wanita, Wati menilai bahwa apa yang telah dilakukan Firhan adalah tindakan yang begitu tega. Tidak mau bertanggung jawab untuk apa yang pernah dia lakukan di masa lalu. Padahal anaknya juga membutuhkan pengakuan darinya.
"Mas Firhan tidak hanya merusak masa depan seorang gadis, tapi membiarkan putrinya tidak memiliki nasab. Bahkan ketika sang putri nanti menikah, Ayah sambungnya tak berhak menjadi wali nikahnya," balas Wati.
Memang demikianlah nasab seorang anak yang lahir di luar nikah. Dia tidak akan mendapatkan seorang wali. Bahkan ayah sambungnya sendiri, tidak bisa menjadi wali nikahnya.
Hampir setengah jam berlalu, kemudian Firhan masuk ke dalam rumah. Dia mengajak Wati untuk pulang ke rumah karena memang Firhan sudah mengambil kredit perumahan rakyat di kawasan Solo Utara. Menempuh perjalanan panjang dari rumah orang tuanya dan pulang sendiri ke perumahannya, begitu sudah tiba di rumah ternyata dua pasangan itu masih terlibat adu mulut.
Terutama begitu sampai di rumah, Firhan meminta haknya kepada Wati. "Yang, aku boleh minta malam ini?"
__ADS_1
Wati rasanya ingin menjerit dalam hati. Belum juga permasalahan mereka berdua selesai, tetapi sekarang suaminya sudah kembali meminta haknya. Wati tahu jika seorang istri menolak suaminya itu adalah berdosa, tapi Wati juga tidak mau melakukan hubungan jika masalah mereka saja belum tuntas.
"Enggak, Mas. Selesaikan dulu semua di antara kita," balas Wati.
"Tidak ada yang perlu diselesaikan. Toh, semua hanyalah masa lalu. Tidak perlu diperdebatkan lagi," balas Firhan.
"Yang kamu lakukan di masa lalu itu tidak benar, Mas ... aku sudah merusak masa depan orang lain dan menelantarkan anakmu sendiri," balas Wati.
Kembali Firhan berteriak kepada istrinya itu. "Anak, anak siapa? Sampai kapan pun, aku gak sudi mengakuinya anak," balas Firhan.
"Kamu berdosa, Mas. Dia adalah darah dagingmu," balas Wati dengan menangis sesegukan. Bahkan anak yang nyata-nyata adalah hasil tindakannya, Firhan tidak mau mengakuinya.
"Selamanya, aku gak mau mengakui anak. Masa lalu sialan!
Wati meronta-ronta. Dia benar-benar tidak mau melakukan hubungan suami istri, dengan sakit hati yang masih membelenggunya. Lagipula, masalah yang baru saja terjadi seharusnya diselesaikan terlebih dahulu.
"Aku gak mau, Mas ... aku gak mau," balas Wati dengan menangis dan berusaha mendorong Firhan.
Sayangnya, Wati kalah tenaga, sehingga Firhan tetap bisa mengungkung Wati di bawah. Firhan pun bak pria kesetanan.
Yang melampiaskan hasratnya kepada Wati. Walau, air mata Wati terus mengalir, tetapi Firhan tidak mempedulikannya. Justru, dia kian bersemangat saja dan kian menjadi-jadi sekarang.
Kian hancur rasanya hati Wati. Tidak mengira, ketika dirinya sudah menolak, suaminya justru memaksanya seperti ini. Walau dia menangis dan meronta, tapi Firhan tidak berhenti, sampai pria itu menemukan kepuasan yang dia cari.
__ADS_1
***
Selang satu jam ....
Wati dengan tangisan dan air mata yang seolah tidak surut membersihkan dirinya. Wanita itu mengguyur tubuhnya. Walau sudah malam, dan air begitu dingin karena tidak ada fasilitas air hangat di sana, tapi Wati tetap membersihkan dirinya. Setelahnya, Wati memilih mengganti pakaiannya.
Kali ini, rasanya Wati perlu menenangkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Sebab, dengan Firhan sekarang rasanya hatinya masih terasa begitu sakit.
"Kamu keterlaluan, Mas ... tidak seharusnya hubungan suami istri terjadi dengan pemaksaan seperti ini. Kamu kejam, Mas."
Bermonolog seorang diri, Wati menepuki dadanya yang terasa amat sesak. Kini, Wati memilih keluar dari kamar itu, dan menuju ke kamar yang satunya. Sebab, perumahan milik mereka terdiri dari dua kamar. Sekarang, rasanya Wati tidak ingin satu kamar dengan Firhan.
***
Pagi hari pun menyapa ....
Firhan terbangun, pria itu mengusapi wajahnya dan mengingat kembali apa yang semalam telah terjadi. Pria itu meraba bagian ranjang di sisinya, rupanya kosong. Sontak saja, Firhan beringsut dan mencari di mana keberadaan Wati sekarang.
"Yang, kamu di mana?" tanya Firhan dengan mengenakan pakaiannya.
Akan tetapi, pagi itu rumah itu terasa begitu sepi. Bahkan juga, tidak tercium aroma masakan di pagi hari. Padahal biasanya Wati sudah memasak di dapur pagi-pagi begini. Sontak saja firasat buruk menghinggapi Firhan, hingga pria itu mencari ke seluruh sudut rumahnya dan berharap bisa menemukan Wati.
"Yang, kamu di mana?"
__ADS_1
Suara Firhan menggema, tapi sama sekali tidak ada jawaban dari Wati. Sebenarnya ke manakan Wati? Mungkinkah wanita itu pergi dan meninggalkan rumahnya?